panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
13 Juli 2011
Menjadi Guru TKW
  • Oleh Andi Andrianto
KASUS-KASUS kekerasan dan penganiayaan terhadap tenaga kerja wanita (TKW), serta kasus gaji yang tak dibayar oleh majikan, pemerkosaan, hingga persoalan kematian yang kerap dialami tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, tak dapat diabaikan begitu saja.

Dari pelbagai kasus ditemukan fakta bahwa TKW yang mengalami persoalan pelik di luar negeri biasanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Muncullah kasus TKW diperkosa, dianiaya, dan dibunuh majikan. Jadi, masalah TKW berkutat pada persoalan klise, yakni di rumah tangga, tempat mereka bekerja.

Tragedi pemancungan Ruyati (54) di Arab Saudi  —dulu ada kasus Siti Zaenab, Sulaimah, Dwi Mardiyah, Nurfadilah, Suwarni dan yang lainnyaó hampir semua berada pada satu permasalahan yang sama, yaitu antara pembantu dan majikan. Kronologinya, majikan menganiaya, (berniat) memerkosa pembantu, dan pembantu membela diri yang kadang berujung pada kematian majikan.

Dari sini, masalah TKW mesti ada pembenahan, bukan saja pada tingkatan diplomasi ataupun negosiasi politik negara dengan pihak asing, namun perbaikan dari sisi internal-personal juga perlu dilakukan agar persoalan siklus (baca: majikan-pembantu) tak terjadi lagi terhadap TKW kita yang bekerja di luar negeri.
Dalam kerangka itulah, hemat penulis, ada hal urgen yang sejatinya dapat dilakukan negara atau pihak lain untuk membekali TKW dengan pengetahuan dan keterampilan. Tujuannya, supaya nilai tawar TKW kita dapat meningkat di mata negara lain, agar pahlawan devisa itu tidak hanya dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga saja.

Selain memperkuat fungsi kelembagaan negara (Kemenakertrans, Deplu, BNP2TKI dan lainnya), dalam memberikan nilai tambah bagi TKW dengan pengetahuan dan keterampilan, penulis kagum dengan gagasan Martha Tilaar, pengusaha industri bahan kosmetik, yang tersentuh hatinya dan berempati dengan kondisi kehidupan yang dialami TKW. Martha berupaya menjadi guru TKW dalam rangka membekali mereka dengan keterampilan, termasuk dalam bidang merias. Ide itu tercetus, karena menurut Martha, mereka (baca: TKW) adalah buruh yang tidak berketerampilan, sehingga TKW kerap diperlakukan tak manusiawi oleh para majikan.

Solusi

Di mata penulis, gagasan itu sangat brilian, dan cukup memberikan solusi yang bersifat jangka panjang untuk menyelesaikan pelbagai persoalan TKW. Bukan dengan cara reaksioner, seperti yang ditempuh pemerintah yakni dengan kebijakan moratorium (penghentian sementara) TKI yang mulai berlaku 1 Agustus 2011 mendatang. Kebijakan ini hemat penulis hanya bersifat jangka pendek dan tidak memberikan solusi, karena dilakukan setengah hati, mengingat kebijakan ini hanya berlaku bagi TKI yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga saja.

Pembekalan keterampilan bagi TKW menjadi fundamental mengingat hal itu sangat penting sebagai modal pribadi dan menjadi nilai tawar. Selama ini kita tahu, TKW yang mengalami pelbagai kasus kekerasan, penganiayaan, dan pembunuhan, umumnya adalah bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang minim keterampilan.

Tentu hal ini bukan saja merugikan TKW secara personal, lebih dari itu, disadari atau tidak, juga telah melecehkan harga diri bangsa. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga akan memunculkan stereotip negatif terhadap TKW dan juga perempuan itu sendiri. Apalagi, di negara yang secara sosial lebih mengedepankan hukum patriarki (menempatkan laki-laki di atas perempuan secara sosial), seperti Arab Saudi. Konstruksi budaya ini tentu akan memarjinalkan peran perempuan dalam kehidupan sosial. Menjadi pembantu, lalu hidup di tengah lingkungan yang menganut hukum sosial patriarki, akan semakin merendahkan TKW kita di luar negeri.

Dalam konteks itulah, penulis benar-benar sepakat dengan ide brilian Martha, membekali TKW dengan seperangkat keterampilan. Bukan saja di bidang merias, tapi TKW juga harus memiliki keterampilan lain yang dapat menunjang kemampuan pribadinya. Menulis, menjahit, dan berjiwa wirausaha ómerupakan keterampilan lain yang dapat dibekali kepada TKW.

Dengan pembekalan keterampilan itu, paling tidak nilai tawar TKW meningkat dan pandangan orang lain terhadap TKW kita tidak lagi rendah. Dengan kalimat lain, stereotip negatif terhadap TKW dari hasil konstruksi budaya sedikit banyak dapat ditepis.

Akan tetapi, tak mudah merealisasikan gerakan ini secara massal. Apalagi, jumlah TKW Indonesia begitu banyak. Mungkin Martha dapat melakukan secara personal dan didukung kekuatan jaringan yang ia miliki. Namun, kita semua berharap, kepada guru-guru lain yang jumlahnya cukup banyak di negeri ini untuk mau membantu TKW dengan pelbagai pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Bukankah sedikit ilmu yang dimiliki jika diamalkan kepada orang lain akan lebih bermanfaat, dibanding memiliki banyak ilmu tapi untuk diri sendiri, tentu ilmu yang dipunyai tak akan mendapat berkah atau manfaat di dunia ataupun di akhirat. (24) 

—Andi Andrianto, pemerhati masalah sosial di Yogyakarta.  (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER