
Jumlah penderita sakit jiwa kronis (schizophrenia) di Indonesia terus bertambah. Banyak dari mereka telantar dan berkeliaran di jalan. Masyarakat mengenalnya sebagai orang gila atau gelandangan. Tak sedikit pula yang dipasung. Di Purworejo, puluhan orang sakit jiwa dirawat agar pulih seperti sedia kala dan menjalani hidup normal.
DONI (27) asyik memainkan angklungnya. Demikian pula Bambang yang usianya lebih tua, 46 tahun. Bersama belasan pemain angklung lainnya, keduanya serius mengikuti ketukan birama sebagaimana yang ditunjukkan konduktor sekaligus pelatih mereka, Bruder Nicolas Rio FC dari Yogyakarta.
Tepuk tangan pun bergemuruh ketika mereka menyelesaikan empat lagu, antara lain ’’Burung Tantina’’, ’’Syukur kepada Tuhan’’, dan ’’Ave Maria’’. Merasa terhibur, para penonton yang juga peserta sebuah seminar siang itu pun berdiri dan ramai-ramai mengambil gambar.
Para pemain angklung itu bukan seniman musik profesional, melainkan penderita sakit jiwa kronis atau schizophrenia yang menjalani rehabilitasi di Panti Rehabilitasi Sahabat Kita, Purworejo. Ya, aksi mereka menjadi pembuka seminar umum kesehatan jiwa di aula SMA Bruderan Purworejo yang diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai kalangan, baru-baru ini.
Pembicaranya antara lain Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Purworejo dokter Y Kristianto SpKj, dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanada Dharma Yogyakarta Dr Tjipto Susana, pengasuh Pondok Pesantren Budaya Ilmu Giri HM Nasruddin Anshoriy Ch, serta dimoderatori Rm AG Luhur Prihadi Pr dari forum komunikasi panti asuhan Jateng-DIY.
Menurut Bruder FA Danang FC, kepala rumah tangga Panti Sahabat Kita, kondisi para pasien yang diasuhnya cukup mengharukan. Kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu. Ada pula yang berasal dari keluarga kaya, tapi nasibnya seperti anak buangan.
Meski rutin mengirim dana untuk kebutuhan hidup, orang tua pasien nyaris tidak pernah menengok anaknya di panti. Mereka seperti sengaja ’’membuang’’ si anak. Padahal untuk mencapai kesembuhan, penderita gangguan jiwa butuh belaian kasih sayang dan tidak cukup hanya mendapat kiriman uang.
ëíTetapi yang lebih banyak menitipkan anak atau saudaranya yang menderita gangguan jiwa di panti ini orang yang pas-pasan. Mereka menginginkan anak atau saudaranya itu sembuh dan bisa kembali ke keluarga seperti manusia biasa pada umumnya,íí kata bruder asal Semarang itu.
Menurut dia, jika tingkat kesadarannya bagus, penderita sakit jiwa kronis bisa diajak berkomunikasi dan beraktivitas. Karena itu dia kerap mengajak pasiennya jalan-jalan agar kondisi kejiwaan mereka membaik. Pemulihan juga dapat dilakukan dengan pendekatan kesenian, misalnya bermain angklung.
Bruder Danang mengaku prihatin dengan perlakuan masyarakat terhadap para penderita schizophrenia yang tinggal di Panti Sahabat Kita ataupun di tempat lain. Di tengah menjalani rehabilitasi, mereka sering dicemooh dan diolok-olok.
Perlakuan sinis dan tidak sepantasnya bahkan kerap didapat dari keluarganya. Perlakuan itu muncul karena ada persepsi keliru masyarakat. Mereka masih menganggap bahwa schizophrenia adalah penyakit yang tidak dapat diobati dan menular, serta berbahaya karena menimbulkan kekerasan.
Padahal, menurut Danang, perlakuan masyarakat yang didasari persepsi yang keliru itu akan makin memperparah kondisi pasien. Untuk mencapai kesembuhan selama masa rehabilitasi, penderita gangguan jiwa butuh belaian kasih sayang, terutama dari orang-orang dekatnya.
Bahayakan Orang
Schizophrenia merupakan gangguan mental parah yang secara tipikal muncul pada usia remaja atau dewasa awal, baik laki-laki maupun perempuan. Baik masyarakat miskin yang terbebani kebutuhan ekonomi maupun orang yang berkelimpahan harta namun kurang kasih sayang, bisa terkena sakit jiwa kronis itu.
Berapa jumlah mereka di Indonesia? Dr Tjipto Susana menyebutkan, berdasarkan data Kementerian Sosial, ada sekitar 650 ribu penderita gangguan jiwa berat. Sekitar 30 ribu di antaranya dipasung. Alasan pemasungan itu pada umumnya agar si penderita tidak membahayakan orang lain serta aibnya tidak menimpa keluarganya.
Lantas, apa penyebabnya? ëíFaktor genetik atau keturunan memang sangat menentukan, tapi bukan satu-satunya faktor. Tanpa faktor genetik, risiko terjadinya schizophrenia tetap ada, bahkan bisa mencapai 1,3 persen,íí katanya.
Tragisnya, tambah Tjipto, lebih dari 80 persen penderita schizophrenia di Indonesia tidak diobati. Mereka dibiarkan berkeliaran di jalan-jalan dan ada yang dipasung oleh keluarganya. Padahal jika diobati, sepertiga dari mereka bisa sembuh total. Tetapi bila sudah telanjur akut dan sama sekali tidak diobati, nantinya penderita tidak bisa disembuhkan dan tidak bisa diapa-apakan lagi. (Langgeng Widodo-59)