panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
30 Mei 2011
Koin Peduli Jalan Lubang Grobogan
  • Oleh Achmad Junaidi
Ke depan, gerakan itu bisa diubah kemasannya menjadi gerakan sosial bersedekah, yang hasilnya bisa membantu memecahkan problem sosial kemasyarakatan

GERAKAN ’’Koin Peduli Jalan Lubang Grobogan’’ yang digelar pegiat Forum Peduli Grobogan baru-baru ini mendapat respons positif dari sebagian masyarakat kabupaten itu. Aksi menggalang dana untuk ikut membiayai perbaikan jalan yang rusak itu mengingatkan kita pada gerakan ’’Koin untuk Prita’’ terkait dengan persoalan Prita Mulyasari dengan Rumah Sakit Omni International di Serpong Tangerang. 

Koin sepertinya menjadi simbol ampuh bagi gerakan sosial. Uang receh yang mungkin tidak ada artinya secara ekonomi ternyata membuat orang kaget bila melihat jumlahnya. Koin untuk Prita misalnya, mampu menembus angka Rp 615.562.043. Gerakan ’’Koin Peduli Jalan Lubang Grobogan’’ tentu patut diapresiasi, sebagai inisiatif menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif atau memberikan solusi mengatasi jalan yang rusak (SM, 06/05/11).

Berdasarkan data BPS tahun 2010, penduduk Grobogan 1.413.328 jiwa,  77,69%-nya berkategori usia produktif. Seandainya tiap penduduk per bulan menyumbangkan koin/ uang Rp 500, bisa keping nominal Rp 100, Rp 200, atau Rp 500, dan asumsinya yang  berpartisipasi 25%-nya (353.332 penduduk) maka bisa terkumpul Rp 176.666.000 atau setahun Rp 2.119.992.000.

Seandainya bisa dilakukan secara berkesinambungan tentu hasilnya luar biasa, dan bisa menjadi alternatif solusi terkait dengan permasalahan di daerah itu, tak hanya untuk memperbaiki jalan berlubang. Gerakan tersebut juga perlu disikapi secara arif oleh eksekutif selaku pemegang mandat UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

Terkait dengan UU tersebut, peran masyarakat diatur dalam Pasal 62 (1), antara lain menyangkut haknya memberi masukan kepada penyelenggara jalan dalam rangka pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan. Selain itu, memperoleh manfaat atas penyelenggaraan jalan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan.

Dalam konteks itu, Gerakan Koin Peduli Jalan Lubang Grobogan merupakan bagian dari partisipasi masyarakat yang diatur secara yuridis, dalam upaya memberi masukan dan berperan serta dalam penyelenggaraan jalan.Tentu, gerakan pengumpulan koin ini harus murni sebagai partisipasi masyarakat yang cinta daerahnya, tanpa ditumpangi kepentingan politik, yang bisa mencederai makna aksi sosial.

Layanan Masyarakat

Aksi penggalangan dana melalui pengumpulan koin disikapi secara bijak oleh Bupati Grobogan H Bambang Pudjiono SH yang menyatakan pihaknya tidak tersinggung atas adanya aksi itu (SM, 10/05/11). Sikap ini justru perlu ditindaklanjuti oleh seluruh jajaran pemda, terutama dinas teknis yang membidangi, sehingga mampu menjawab pesan moral dari gerakan tersebut. 

Panjang jalan yang menjadi tanggung jawab Pemkab Grobogan secara riil sekitar 480 km, Dinas Bina Marga Jateng 400 km, di luar jalan desa sepanjang 1.000 km lebih. Tentu ini bukan pekerjaan rumah yang mudah bagi pemkab untuk bisa memenuhi keinginan masyarakat agar semua jalan mulus. Apalagi kerusakan jalan, sebagaimana disampaikan Bupati, disebabkan beberapa faktor, di antaranya faktor labilnya tanah, keterbatasan anggaran terbatas, dan kualitas pekerjaan.  

Tapi paling tidak, Pemkab mimimal harus mampu mewujudkan perannya secara optimal sebagai penyelenggara jalan dalam pemberian layanan kepada masyarakat, sebagaimana dimaksud UU itu.

Selain itu, agar hak-hak pengguna jalan juga terpenuhi, karena masyarakat berhak memperoleh ganti kerugian yang layak akibat kesalahan dalam pembangunan jalan.

Karena itu, aksi penggalangan dana melalui pengumpulan koin jangan serta-merta ditafsirkan sebagai sindirian terhadap pemda. Justru kegiatan itu merupakan upaya menggalang kekuatan dari bawah dengan cara menyisihkan uang koin, sekaligus  mendidik sejak awal kebiasaan bersedekah dari hal paling  kecil.

Agar tidak ada pihak yang tersinggung atau muncul tafsir tidak tepat, ke depan gerakan tersebut bisa diubah kemasannya menjadi gerakan sosial bersedekah, yang hasilnya bisa dimanfaatkan membantu memecahkan problem sosial kemasyarakatan. (10)

— Achmad Junaidi SAg, warga Purwodadi Kabupaten Grobogan
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER