panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Semarang Metro
14 April 2011
Menguak Penipuan Bermodus Casting Film (2-Habis)
Kalau Bayar Casting, Pasti Penipuan
PENIPUAN bermodus casting film, sinetron atau iklan sejak lama telah marak di Jakarta. Operasi pelaku mulai merambah daerah, setelah kebangkitan film Indonesia era Ada Apa Dengan Cinta (AADC) pada 2005.
Tahun itu juga sebanyak 84 remaja Semarang menjadi korban penipuan mengatasnamakan production house (PH) Marendra asal Jakarta. Kerugian total Rp 400 juta.

Menurut Wakil Ketua I Bidang Organisasi, Persatuan artis Film Indonesia (Parfi) Jawa Tengah, Soeharto, kasus yang sama  menimpa ratusan orang di Jawa Tengah. Kebanyakan tertipu karena pelaku mengatasnamakan PH atau agency abal-abal, dekat dengan artis atau sutradara terkenal, bahkan mengaku anggota Parfi.

”Di Grobogan pernah ada yang mengaku orang Parfi, banyak yang tertipu Rp 3 juta sampai Rp 10 juta,” katanya.
Soeharto tak mengetahui apakah orang tersebut benar-benar orang Parfi, karena katanya mengaku anggota Parfi dari Jakarta. Parfi memang organisasi tingkat nasional.

Di Jawa Tengah, selain Parfi Jateng yang termasuk mengurusi wilayah Semarang, juga membawahi koordinator daerah (korda) Surakarta dan Purwokerto. Ia meyakinkan tak ada anggota Parfi yang melakukan pelanggaran serupa.


”Kami tegas terhadap anggota yang menyimpang, jika ketahuan, sanksinya dari teguran lisan hingga dikeluarkan dari keanggotaan. Pokoknya kalau mbayar itu jelas penipuan, harusnya  main film itu dibayar, kok malah mbayar,” katanya.
Di luar itu, penipuan kecil-kecilan menurut salah satu talent coordinator Drs. Mulyo Hadi Purnomo MHum sering terjadi di Kota Semarang. Biasanya sebuah agency mengadakan audisi bintang untuk film atau sinetron. Peserta casting dikenai biaya pendaftaran antara Rp 25 ribu dan Rp 100 ribu.

Karena diiklankan di surat kabar dan memasang poster di jalanan, peminatnya ribuan. Tak jarang audisi digelar di mal atau pusat keramaian dengan menggandeng sponsor perusahaan besar.
”Tapi pemenang audisi harus gigit jari, karena setelah lama ditunggu, produksi film tak kunjung dilaksanakan,” ujar dosen Fakultas Ilmu Budaya Undip ini.

Ada juga oknum yang langsung meminta uang kepada korban dengan alasan untuk diberikan kepada sutradara dan tim produksi (crew) di lapangan atau buat casting director. Modus ini lazim dikenal dengan istilah ”Beli Peran.” Harga peran berkisar Rp 1,5 juta - Rp 60 juta. Tergantung potensi peran yang diberikan. Makin sering tampil, harga beli perannya makin mahal.

Investasi

Modus lain oknum menawarkan ‘íinvestasi”. Calon artis diminta membayar Rp 5 juta - Rp 250 juta. Dana yang terkumpul dialokasikan untuk biaya produksi film atau sinetron. Mereka calon artis (investor) dilibatkan sebagai pemain.
Oknum berjanji jika sinetronnya tayang (laku dijual) dana yang disetor akan dikembalikan. Namun sebagian besar kasus dana tak kembali karena sinetron tak kunjung laku dijual alias ditolak oleh stasiun TV.

”Karena memang yang sesungguhnya oknum tersebut tidak ada kesepakatan kerja sama dengan pihak TV manapun,” kata pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Jawa Tengah ini.

Mulyo sudah lama mengetahui aksi tipu-tipu casting ini, Maklum, sebagai talent coordinator ia telah dipercaya menangani casting artis lokal untuk sejumlah film yang diproduksi di Semarang, seperti ”Gie”, ”The Photograph”, ”May”, ”Merah Putih I, II dan III”. Kemudian ”Ruma Maeda” dan film Hanung Bramantyo terbaru berjudul ”?” (baca: tanda tanya).
Fenomena tersebut menurutnya tumbuh subur karena banyak orang yang tergiur manisnya menjadi artis. Jika bukan yang bersangkutan sendiri, faktor orang tua juga berperan. Tak jarang orang tua yang justru mendorong si anak untuk ikut casting dan melobi casting director dengan sejumlah uang. Mulyo bahkan pernah ditawari uang Rp 10 juta jika berhasil mengegolkan seseorang untuk main dalam sebuah film. Tapi ditolaknya.

Gara-gara maraknya jual beli peran palsu itu, Mulyo bahkan sering dipandang menjadi salah satunya. ”Jika menawari orang yang belum pernah bekerja sama dengan saya, orang itu sudah takut dulu, karena banyak yang ujung-ujungnya minta uang,” kata bapak dua anak ini.

PH besar seperti MD Entertainment atau Miles Production kini juga mulai malas menggunakan jasa agency jika mencari pemeran dalam filmnya. Pasalnya jika lolos, agency ini sering minta royalty pada PH. Di sisi lain, mereka juga minta duit pada si pemeran dengan dalih sudah melobi sana sini.
Lagipula, lolos casting film tidak bergantung pada agency. Sutradara atau casting director memilih berdasarkan karakter yang sesuai kebutuhan.

 ”Tidak juga harus cantik atau cakep, yang dibutuhkan wajah yang khas dan berkarakter. Dan satu lagi, kemampuan akting. Jadi kalau mau jadi aktor, kuncinya satu: latihan,” pungkas pria yang sudah turut bermain dalam ”Gie”, Iklan Bajaj Pulsar, Iklan Bank Jateng, Reality Show ”Catatan Rahasia” dan ”PHK Bukan Kiamat” ini.(Anton Sudibyo-16)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER