panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Kanal Sehat -- Empat Manfaat Kasih Ibu bagi Kesehatan Anak Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
31 Maret 2011
Tajuk Rencana
Dengan Konflik Suriah, Timteng Makin Rapuh
Presiden Suriah Bashar al-Assad menghadapi kerusuhan paling serius dalam masa jabatannya selama 11 tahun ini. Demonstrasi anti-Assad itu jelas merupakan gelombang lanjutan dari revolusi Tunisia, yang kemudian menyebar ke seantero Timur Tengah dan menumbangkan pemerintahan Tunisia, Mesir, serta mengancam rezim Muammar Gaddafi di Libia. Gejolak di Suriah memang tidak bisa dilepaskan dari ’’efek Tunisia’’. Di tengah kemelut Libia yang tampaknya bakal berkepanjangan, situasi panas di Damaskus membuat peta politik Timur Tengah makin rapuh.

Pola eskalasi di Suriah juga mirip dengan di Libia. Seolah-olah meniru kebrutalan Gaddafi, aparat keamanan Assad membantai puluhan aktivis oposisi dalam serangan subuh di Masjid Omari, di Kota Daraa, dekat perbatasan Yordania. Pengawasan ketat ditempuh aparat. Bahkan, membeli sekaleng cat semprot pun dipandang sebagai aktivitas yang berpotensi subversif. Tindakan keras itu bukannya mematikan gerakan revolusi rakyat, namun justru mengobarkan api perlawanan untuk mendesak Bashar al-Assad mengikuti jejak Ben Ali dan Hosni Mubarak.

Semula, unjuk rasa prodemokrasi itu hanya menuntut kebebasan yang lebih longgar. Namun, tuntutan berkembang ke arah penggulingan rezim yang berkuasa. Eskalasi ini jelas mendapat inspirasi dari gelombang demonstrasi di kawasan itu. Beberapa langkah persuasif juga sudah ditempuh, antara lain membebaskan anak-anak yang ditahan karena melakukan aksi corat-coret, mengumumkan paket reformasi termasuk membuka keran media, sehingga politik bisa berkembang, dan berusaha mencabut hukum darurat yang telah ada sejak 1963.

Kabinet pemerintahan juga mengundurkan diri. Namun, semua itu belum mampu meredakan gejolak rakyat. Tampaknya, hukum inersia Newton bisa pula diadopsi untuk menjelaskan peristiwa gerakan sosial, yakni: sekali bergerak, maka gerakan akan berlangsung tetap dan kekal sampai ada ’’kekuatan’’ yang menghentikan gerakan itu. Pemikiran itu bisa menjelaskan bahwa gerakan sosial pun tidak akan bisa ’’lambat laun mereda’’ dengan sendirinya tanpa ada intervensi kekuatan yang lebih besar dari gerakan tersebut.

Pandangan itu sebetulnya juga merupakan ajakan bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi peristiwa Suriah, dan tidak dengan mudah mengadopsi langkah intervensi Barat sebagaimana diberlakukan terhadap Libia. Di Suriah pun, tidak sedikit pula yang mendukung rezim Assad. Hal itu berarti, potensi konflik horisontal yang keras sangat mungkin terjadi. Kehidupan komunitas syiah di negeri itu juga relatif lebih stabil dan nyaman dibandingkan dengan di negara lain seperti Irak dan Afghanistan. Intervensi bisa jadi akan lebih mengacaukan.

Hubungan erat Suriah dengan Iran, serta permusuhan sengit dengan Israel, akan menjadi faktor pendorong terhadap perkembangan situasi selanjutnya. Israel gencar menyerukan agar Barat juga bertindak seperti dilakukan terhadap Libia, yakni operasi militer untuk menumbangkan rezim Assad. Provokasi itu tentu sangat mengkhawatirkan kalau diingat kedekatan Israel dengan Amerika Serikat. Kerusuhan Suriah bisa dimanfaatkan AS untuk menyeret Iran dalam konfrontasi yang lebih frontal. Peradaban politik Timur Tengah memang sedang dipertaruhkan.

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER