panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
16 Maret 2011
Surat Pembaca
Peran Serta Masyarakat Membantu Pengentasan Masalah Putus Sekolah
Hidup memang terkadang terasa tidak adil bagi sebagian orang. Lingkaran takdir seakan membelenggu, bahkan sebelum mereka menyadari keberadaannya. Saat melihat seorang anak kecil berusia lebih kurang sepuluh tahun sedang menggendong balita di traffic light berjalan menghampiri tiap kendaraan yang berhenti saat lampu merah, meminta sedikit uang, membuat batin merasa prihatin. Namun bukan rasa prihatin yang mereka butuhkan tetapi kekuatan untuk melawan nasib yang tidak seharusnya mereka terima begitu saja.

Melihat fenomena itu, kita sadar bahwa permasalahan sosial berkaitan dengan putus sekolah masih belum selesai. Salah satu program pemerintah untuk menekan angka putus sekolah ialah BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Program ini juga bertujuan demi tercapainya wajib belajar 9 tahun. Namun pada kenyataannya masih banyak kita menjumpai para anjal (anak jalanan) maupun anak-anak yang bukan anjal yang putus sekolah.  Di Indonesia terdapat sedikitnya 13.685.324 anak usia 7-15 tahun yang putus sekolah. Dari jumlah ini, 419.940 (32 persen) di antaranya berada di Provinsi Jawa Tengah (7 Oktober 2010 sumber: Bataviase.co.id). Siapa yang harus disalahkan? Haruskah kita saling menuding dan berdiam tanpa melakukan suatu tindakan melihat nasib para penerus bangsa diambang kegetiran? Apakah ini hanya PR pemerintah semata?

Mereka membutuhkan penyalur dan pembimbing yang bisa mengarahkan dan memberi motivasi kepada mereka tentang pentingnya sebuah pendidikan (dalam hal ini pendidikan yang dimaksud adalah sekolah) terutama pada orang tua mereka, bagi yang masih mempunyai orang tua. Banyak LSM ataupun lembaga-lembaga lain yang sangat berperan dalam pengentasan masalah ini. Selain itu ada program rumah singgah untuk penanganan anak jalanan yang juga putus sekolah. Lantas, apakah kita sudah lepas dari tanggung jawab kita begitu saja? Tentu tidak.

Penulis berpendapat bahwa peran lingkungan (orang-orang sekitar) sangat membantu dalam pengentasan putus sekolah, di antaranya dengan konseling melalui pendekatan dari hati ke hati kepada orang tua ataupun si anak. Membantu secara finansial dengan menjadi orang tua asuh atau memberi bantuan langsung atau lewat lembaga yang menaungi, menyalurkan si anak (dalam kasus anjal) yang putus sekolah kepada lembaga yang peduli kepada mereka dan masih banyak hal lain lagi yang bisa kita perbuat.
Lalu apakah ada sekolah yang bersahabat bagi mereka, terutama bagi para anjal?  Saat penulis bertemu dengan tiga orang bocah kecil putus sekolah (lebih kurang 6 tahun, 7 tahun dan 12 tahun) yang sedang mengamen di salah satu bangjo di Semarang, penulis tergelitik untuk melakukan wawancara. Dari apa yang dipaparkan, mereka putus sekolah karena ejekan dari teman-teman sebaya, tentang status lain mereka sebagai pengamen. Seharusnya peran guru sangat penting untuk terus memberikan dukungan dan keyakinan kepada mereka untuk terus bersekolah sehingga perasaan minder ataupun perasaan terasingkan itu tidak menghinggapi. Begitu juga dukungan kuat orang tua akan sangat membantu membentuk karakter yang kuat (karena mereka masih di bawah asuhan orang tua).
Saat penulis bertanya apakah mereka mau kembali lagi ke sekolah, mereka menjawab ”iya”, namun tidak di sekolah mereka yang dulu. Lalu di mana? Itu yang sampai sekarang menjadi pertanyaan penulis. Sekolah yang bersahabat, sekolah yang menerima keadaan mereka dan sekolah yang bisa memberikan harapan-harapan bagi mereka. Apakah ada syarat-syarat atau ketentuan khusus untuk mereka bisa kembali bersekolah? Penulis berharap masyarakat serta pemerintah bisa bekerja sama untuk satu tujuan yaitu dalam memperjuangkan nasib para tunas bangsa Indonesia.

Risqi Yustiana Arumsari
Jl Kendeng VI No 6
Kelurahan Bendan Ngisor
Kec Gajahmungkur, Semarang

Bagaimana Pertanggungjawaban Atlanta?

Hati-hati berbelanja di Atlanta. Iming-iming belanja berhadiah sejauh ini berdasarkan pengalaman saya belum memberi bukti.  Saya berbelanja di Atlanta (faktur no 000420 terlampir) dan ternyata dinyatakan berhak atas hadiah lemari es.
Nama-nama pemenang diumumkan lewat iklan di harian Suara Merdeka 8 Maret 2011 halaman 4. Berdasarkan pengumuman itu, saya datang ke Atlanta. Oleh petugas bagian promosi, saya diterima dengan baik, dicatat identitas saya dan difoto.  Hadiah dijanjikan akan dikirim. Namun, sore harinya pihak Atlanta menelepon dan menyatakan hadiah tidak bisa diberikan dengan alasan pembelanjaan hanya sebesar Rp 150.000.
Di mana pertanggungjawaban Atlanta atas pengumuman resmi di media massa? Kalau memang ada ketentuan belanja minimum untuk hadiah itu, mengapa tidak diberitahukan sejak awal? Sesuai dengan slogan Altanta ”Kami memberi bukti, bukan janji”, saya menuntut kejelasan dari pihak Atlanta agar jangan hanya ”memberi janji, bukan bukti”.
Lany (Kok Lan Hum)
Jl Selomas  II No 9 Semarang
081225606206

***

Ingin Kerjasama
Tangani Korban Merapi

Kami dari  grow! Indonesia. Saat ini, grow! sedang mengerjakan program ”Reclaiming Future”, sebuah program pasca bencana untuk pengungsi korban selamat dari erupsi merapi 2010. Lokasi pelaksanaan program ini adalah Dusun Paten, Kelurahan Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Alasan kami memilih Desa Paten karena posisi desa terletak hanya di radius 6 kilometer dari puncak Merapi. Masyarakat Paten yang berjumlah 250 Kepala Keluarga dengan total populasi sebanyak 756 jiwa dengan jarak yang demikian dekat, kami memandang posisi Paten sangat rentan karena tidak terhalang apa pun (punggungan bukit) antara desa dengan puncak Merapi.
Merespon kondisi warga Paten yang kurang terurus karena terlalu bergantung kepada penanganan pemerintah ketika terjadi bencana, kami berkoordinasi dengan kepala desa setempat untuk membuat Dusun Siaga Mandiri (DSM) di Paten. Konsep dasar DSM adalah mengondisikan warga pada satu titik kesiapsiagaan terhadap ancaman bahaya merapi.  DSM juga sebagai langkah awal pembekalan keterampilan pengelolaan becana berbasis komunitas. Kemandirian DSM ditargetkan akan mencakup pada kemandirian mitigasi, evakuasi, keposkoan, dan anggaran operasional.
Mengingat sarana kesiapsiagaan membutuhkan anggaran perawatan, kami menyusun beberapa program pendukung untuk memperkuat perekonomian warga. Program itu akan bermuara pada terbentuknya sebuah sistem kemandirian pembiayaan melalui Bada Usaha Milik Dusun (BUMD). Sasaran akhir program ”Reclaiming Future” adalah kemampuan siap siaga bencana mandiri dan kemandirian pembiayaan.
Keseluruhan program kami lekatkan dengan program pascabencana terpadu yang kami susun berdasar kearifan lokal, kultur, demografi dan keinginan warga. Secara garis besar, kami menyusun beberapa program inti antara lain: Pendampingan dan bantuan agrikultur (melingkupi transfer informasi dan teknologi pertanian, peternakan, dan perkebunan tergantung kesiapan anggaran.
Pelatihan kebencanaan (membangun Dusun Siaga Mandiri), bantuan sarana (alat komunikasi, peta, seragam, sepatu, tenda, alat dapur umum dan logistik PPPK). Infrastruktur berupa pos pengamatan sebagai bagian dari sistem peringatan dini mandiri. Bantuan pendidikan berupa bantuan sistem, infrastruktur dan logistik untuk perpustakaan anak dan pertanian. Penguatan ketahanan pangan. Bersama masyarakat menyusun sistem ketahanan pangan agar apabila terjadi bencana, ada jaminan hidup dan pembangunan lumbung pangan di bawah tanah.
Lumbung akan berada dalam pengelolaan BUMD. Penguatan ekonomi mikro. Penguatan peran perempuan terhadap perekonomian keluarga. Program ini akan bermuara pada terbentuknya beberapa kelompok industri kecil rumah tangga. Kelompok-kelompok tersebut merupakan unit usaha milik BUMD dengan sistem pembagian keuntungan antara dusun dengan pengelola.
Keseluruhan program akan mulai dilakukan pada Januari hingga Juli 2011. Sedangkan untuk mekanismenya, kami akan menjalankan program yang sudah memiliki penyandang dana terlebih dahulu, meskipun kami memiliki prioritas bahwa program bantuan pertanian lebih baik diadakan terlebih dahulu.  Dalam pelaksanaannya, kami akan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang berkompeten menangani materi program, terutama program yang memiliki misi transfer ilmu dan teknologi, seperti: Institut Pertanian ”Stiper” Yogyakarta untuk pendampingan pertanian.
Sekretariat bersama perhimpunan pecinta alam Yogyakarta untuk pelatihan kesiapsiagaan. Pelaku industri kecil dari Ungaran, Semarang (individu) untuk program penguatan ekonomi mikro. Perpustakaan masyarakat ”Ngudi Kawruh” dari Piyungan Bantul untuk pelatihan manajemen perpustakaan. Perkumpulan petani ikan asal Jombor Sleman untuk pelatihan teknik dan budidaya perikanan.
Kecuali beberapa pihak tersebut, saat ini kami sedang menunggu konfirmasi kesediaan kerjasama materi dari beberapa pihak. Tim relawan telah mendampingi warga Paten sejak di pengungsian (28 Oktober) hingga mereka kembali ke kampung 5 Desember.
Selama di pengungsian, tim banyak menerima keluh kesah warga. Yang paling membuat kami miris, warga mengeluh selama 2 bulan mengungsi, mereka tidak dapat bekerja. Secara otomatis mereka tidak memiliki penghasilan. Warga mengaku siap harus makan ubi kayu (selama ini ubi adalah makanan ternak bagi mereka) jika pulang ke kampung hingga mereka mampu membeli beras. Saat ini, warga hanya memiliki stok makanan dari bantuan yang mulai tersendat datangnya.
Kami menyadari, hanya sedikit sekali modal yang kami miliki. Dua bulan lebih mendampingi masyarakat di pengungsian, cukup menguras keuangan kami, karena sejauh ini kami hanya mengandalkan sumbangan individu dan dana pribadi relawan. Kami membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan program kami. Jika perusahaan/lembaga/organisasi bapak/ibu berminat, kami mengharapkan kerjasama.
Kami akan sesegera mungkin mengirimkan proposal untuk mengetahui detail program dan kebutuhan program, serta mempresentasikan jika diperlukan. Dukungan dapat mencakup keseluruhan program, sebagian atau salah satu program pilihan.
Di luar program tersebut, posko grow! Indonesia juga bersedia menyalurkan bantuan logistik kepada masyarakat dusun, apabila ada pihak-pihak yang ingin membantu memenuhi kebutuhan logistik. Menurut pengakuan warga, saat ini belum ada bantuan selain logistik, bahkan belum satu pun hewan ternak yang mati diganti.
Sebagai informasi tambahan, saat ini pemerintah hanya sekali menyalurkan jatah hidup berupa 4 ons beras dan uang lauk-pauk sebesar Rp 4500/hari. Sedangkan program pemulihan ekonomi baru akan dianggarkan pada akhir April 2011. Dengan kata lain, kami menyusun program ini sebagai program sela, bukan mensubtitusi tanggung jawab pemerintah.

Joko Sulistyo
Program Director
081808212007
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER