panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Selebrita
25 Februari 2011
Kolaborasi Hanung-Zaskia
JAKARTA-Dalam waktu dekat ini atau April mendatang, jika semua berjalan lancar, film terkini Hanung Bramantyo ”?” atau Tanda Tanya akan segera tayang.

Dalam film ini, suami Zaskia Adya Mecca itu bakal menarasikan kisah tentang indahnya toleransi antarumat beragama.
Ya, kisah pertalian erat nan harmonis antarpemeluk agama di Indonesia. Yaitu pemeluk Nasrani, Islam, dan Konghucu. Dalam film yang diklaim menghabiskan bujet Rp 5 miliar tersebut, sangat dipercaya Hanung kembali melibatkan sang istri untuk bekerja sama di film drama ini. Jika benar demikian, kerja bareng Hanung dan Zaskia sebagai pasangan di dalam ikatan rumah tangga dan di lapangan kerja profesional adalah bukan kali pertama.

Sebagaimana dicatat pemerhati film Yan Widjaja, pada film mereka sebelumnya, Menebus Impian, Zaskia dipercaya Hanung --yang bertindak sebagai sutradara-- sebagai casting manager. Sosok yang dipercaya penuh menentukan siapa saja yang pantas dilibatkan untuk pemilihan pelakon di film itu. Sementara pada Sang Pencerah, Hanung juga melibatkan Zaskia sebagai salah satu pelakon sebagai istri Achmad Dahlan atau Nyai Dahlan.

Dalam catatan panjang sejarah perfilman atau musik, kerja bareng antara pasangan suami-istri telah menjadi kelaziman. Bahkan dapat dikatakan, tidak ada yang luar biasa lagi. Dalam catatan Yan, sejumlah nama pasangan lain telah menghasilkan berderet karya. Seperti Wien Umboh dan istrinya Annie Mambo.

Wien merupakan salah satu maestro sutradara besar Indonesia. Filmnya seperti Pengantin Ramaja melegenda hingga kini, sedangkan istrinya Wien Mambo adalah produser di sejumlah filmnya yang lain. Mereka tercatat kompak bekerja di dalam dan di luar rumah. Sama halnya dengan Ratno Timor dan Tien Samantha, yang bahu-membahu melahirkan film laris Si Buta Dari Gua Hantu. Ratno Timor bertindak sebagai sutradara dan aktor utama, Tien Samantha sebagai produser.

Lalu, Bambang Irawan dan Ade Irawan yang mengibarkan bendera Agora atau kepanjangan dari Arena Gotong Royong, dan menghasilkan film sukses Di Ambang Fajar. Menyusul Arifin C Noer dan Jajang C Noer, yang dianggap pasangan serasi setelah melahirkan Jakarta 66. Bahkan ketika merampungkan film terkenal G30S/PKI, belum lama ini Jajang bersaksi betapa kuatnya tekanan yang diberikan mendiang sang suami.

Rata-rata, sebagaimana contoh terkini pada Deddy Mizwar dan Giselawati, istrinya, yang mengibarkan bendera Demi Gisella dan melahirkan film Alangkah Lucunya: Negeri Ini, para suami berperan sebagai sutradara, sedangkan istri bertindak sebagai produser.

Kena Batunya

Sejarah membuktikan, ketika sutradara senior Asrul Sani memperlakukan istri tercintanya Mutiara Sani. Sebagai sutradara dan penulis skenario, Asrul Sani selalu dapat dipastikan memasang Mutiara Sani sebagai pelakon utama di sejumlah filmnya. Seperti film sohor Di Bawah Lindungan Ka'bah  dan Para Perintis Kemerdekan. Sebagai seniman komplet pada tahun 70-an, sepenceritaan Yan, tidak ada yang berani melawan keputusan Asrul.

Meski akhirnya dia kena batunya, ketika produser Manu Sukmajaya menolaknya memasang istrinya yang cantik itu berlakon sebagai Inggit Ganasih (istri pertama presiden Soekarno), dalam film Ku Antar ke Gerbang. Film yang berangkat dari novel karya Ramadhan KH itu, akhirnya batal berproduksi.

Berproses kreatif yang dilakukan para seniman, baik ketika berposisi sebagai suami-istri maupun saat di lapangan profesional, tentu mengandung unsur menguntungkan sekaligus merugikan. Contoh merugikan, ketika persoalan profesionalitas terbawa hingga ke rumah. Seperti yang terjadi pada pasangan abadi almarhum Sophan Sophian dan Widyawati. Karena Sophan dikenal sebagai aktor dan sutradara perfeksionis, tidak segan-segan dia meminta adegan yang diulang-ulang. Untuk mendapatkan adegan yang diinginkannya, tak peduli yang disuruh mengulang-ngulang adalah istri terkasihnya.

Akibatnya, sepenceritaan Yan, Widyawati sempat tidak mengajak bicara suaminya ketika sudah berada di rumah. Pun, ketika mereka terlibat dalam pembuatan film Arini: Masih Ada Kereta yang Lewat. Ketika Sophan bertindak sebagai sutradara dan Widyawati sebagai pemeran utama wanita dan beradu akting dengan Rano Karno.
Hal yang menguntungkan, sebagaimana ditunjukkan pasangan Arie Sihasale dan Nia Zulkarnaen lewat bendera AleNia Production. Mereka sebisa mungkin menempatkan dirinya sebagai sutradara dan produser pada porsinya masing-masing.

”Begitu sampai rumah, kami kembali berposisi sebagai suami-istri,” ujar Nia di Jakarta, baru-baru ini. Jadi, diskusi tentang proses pembuatan film bisa diselesaikan sebelum pulang ke rumah, atau dilanjutkan di rumah jika emosi masing-masing sudah kembali pada arasnya. (G20-75)   

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER