panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
04 Oktober 2010
Kata Data
Tabrakan Mengerikan di Stasiun KA
TRAGEDI sundulan KA Senja Utama tujuan Jakarta-Semarang  dengan KA Argo Bromo Anggrek rute Jakarta-Surabaya di Stasiun Petarukan, Pemalang pada Sabtu (2/10)  sekitar pukul 02.45, menimbulkan pertanyaan.
Mengapa operasional kereta api yang diatur dengan ketentuan ketat masih membuka celah peristiwa pilu yang memakan puluhan korban jiwa?

Kecelakaan maut itu mengingatkan peristiwa serupa yang terjadi juga pada bulan Oktober. Tragedi Bintaro pada 19 Oktober 1987. Sebanyak 139 jiwa menjadi korban dan ratusan lainnya luka.
Faktor kealpaan dalam pengoperasian lalu lintas KA pun merebak. Kabar yang  menyebar, kejadian yang di lingkungan PT KA disebut sebagai peristiwa luar biasa hebat (PLH) di Petarukan itu pun diduga sebagai akibat kesalahan manusia.

Tapi kesimpulan menunjukkan kencenderungan seperti apa, investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang tengah mengumpulkan data dan fakta akan menjawabnya di kemudian hari.
Kesimpulan yang diharapkan sungguh-sungguh membawa perbaikan. Cukup sudah PLH maut yang terjadi Sabtu dinihari di lintas utara itu terjadi, karena rakyat juga yang lagi-lagi bertindak menjadi korban yang seharusnya dilayani secara amanah oleh pemegang kebijakan.

Seharusnya, banyak kecelakaan yang dapat dijadikan bahan pembelajaran. Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang Parikesit, menilai kejadian memilukan di Pemalang dan juga Solo, dengan puluhan korban jiwa hanya menegaskan bahwa persoalan kereta api nasional masih mempunyai akar yang sama.
”Kasus kereta api selalu merupakan persoalan yang sama. Ini menyangkut sistem keandalan keselamatan, termasuk protokolnya,” tandasnya di Bandung, Sabtu (2/10).

Dengan kondisi itu, kejadian seperti kegiatan lansiran kereta yang ditabrak kemudian kereta yang tengah berhenti ditabrak oleh kereta lain, seolah bukan hal yang aneh. Menurut dia, Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perkeretaapian sudah harus bertindak lebih keras.

”Terutama protokol keselamatan operasi, termasuk SDM-nya. Tapi kalau SDM kompeten, sistemnya tidak diperbaiki, tetap saja dapat menyebabkan risiko kecelakaan,” imbuhnya.
Dijelaskan, perlunya sistem manajemen keselamatan transportasi yang lebih membumi sudah disuarakan MTI sejak tiga tahun lalu. Salah satunya, keberadaan tenaga safety inspector diperbanyak. Dia menyatakan personel dengan job seperti itu masih minim.

Khusus KA, aturan mengenai keselamatan diatur tegas dalam UU Perkeretaapian. ”Kalau di udara tergantung take-off dan landing dan jumlah pesawatnya. Ini naiknya lima kali, sementara jumlah safety inspector cuma naik dua kali. Jadi selalu kurang, padahal lihat sekarang ini, setelah UU Perkeretaapian, harusnya lebih ketat,” katanya.

Danang juga menyinggung keberadaan PT KA dalam mengoperasikan pelayanan. Untuk itu, dia berharap ada pengawasan yang lebih ketat terutama yang dilakukan kalangan di luar internal BUMN transportasi tersebut. ”KA beroperasi penuh sebagai operator, jadi harus ada eksternalnya. Kemenhub perlu didorong banyak merekrut safety inspector untuk benar-benar menjaga dan memperbaiki protokol keselamatan,” imbuhnya.

Yang menarik, kejadian mengerikan itu terjadi di stasiun, yang semestinya dapat diandalkan mengatur pergerakan lalu lintas KA. Kendali pengaturan di lini terdepan setidaknya berada di sana. Bukan kali ini saja kecelakaan tabrakan antarKA itu terjadi di emplasemen stasiun.

Simak saja laporan KNKT yang dapat diakses oleh publik atas peristiwa tabrakan KA Rajawali melawan KA Barang Antaboga di Stasiun Kapas, Bojonegoro pada 23 Januari 2009 pada pukul 15.42.

Tiga orang tewas, termasuk masinis dan asistennya, serta 25 orang alami luka-luka dalam kejadian itu. Berdasarkan kesimpulan investigator KNKT, peristiwa itu disebabkan adanya pelanggaran sinyal masuk awak KA Rajawali.

Yang lebih memprihatinkan, salah satu faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan itu karena, ’’Sinyal masuk Stasiun. Kapas dari arah Stasiun Sumberrejo tidak tampak dari jarak pandang aman masinis karena tertutup pepohonan dan adanya lengkungan.’’

Ya, karena pohon. Sungguh, satu hal yang sebenarnya bisa diantisipasi.
Di luar itu, radio loko KA Rajawali tidak berfungsi, sehingga menjadikan masinisnya tidak dapat mengetahui terjadinya perpindahan dan perubahan perjalanan KA. 
Sesuai Gapeka, KA No 49 itu berjalan langsung di Stasiun Kapas sementara KA Antaboga mengalami perpindahan persilangan dengan KA tersebut yang seharusnya terjadi di Stasiun Bowerno. 

Faktor lain,  ’’Sinyal muka Stasiun Kapas, dari arah Sumberrejo (sesuai arah kedatangan Rajawali) yang padam tidak diketahui oleh PPKA Kapas karena indikator di panel pengaturan persinyalan tetap menunjukkan menyala kuning, yang dapat diartikan bahwa sinyal muka menunjukkan masinis untuk bersiap-siap karena sinyal masuk akan beraspek tidak aman dan kereta harus berhenti.’’

Tak hanya itu, terdapat pula lima orang penumpang di kabin masinis Rajawali yang ditengarai dapat menganggu konsentrasi dan kenyamanan kerja masinis.

Lantas bagaimana dengan KA Argo Bromo Anggrek yang menyundul telak rangkaian KA Senja Utama?
Sebelum kejadian, Senja Utama tengah menunggu persilangan dengan KA Senja Utama Kediri-Pasar Senen di salah satu sepur di Petarukan. Tak lama kemudian, Argo Bromo Anggrek di lintasan yang sama menghajar tanpa ampun Senja Utama yang berada di depannya.
Jelas, kemunculan tiba-tiba Argo Bromo menjadi pertanyaan karena kereta masuk pelataran stasiun tidak bisa serampangan.

Kelengkapan panel instrumen di kabin masinis, keandalan sistem persinyalan, hal-hal teknis, dan kecakapan manusia di belakangnya akan menjadi bahan KNKT menyusun laporannya.
Semuanya akan dijadikan semacam benang merah, sebenarnya apa yang terjadi dengan perkeretaapian nasional. Bentuknya melalui rekomendasi perbaikan.

Sebelum duka di Petarukan, tabrakan antarKA yang juga sama-sama pernah terjadi Jateng yakni di pelataran stasiun adalah di Stasiun Ketanggungan Barat pada 25 Desember 2001 pukul 04.33 melibatkan KA Empu Jaya jurusan Jakarta-Yogyakarta dengan KA Gaya Baru Malam Selatan Surabaya-Jakarta. 
Korban yang jatuh pun tidak sedikit yakni 31 jiwa dalam waktu kejadian yang sama dengan Petarukan, yakni pada saat dinihari.

Dugaan yang muncul dari peristiwa itu akibat pelanggaran sinyal masuk. Dalam laporan KNKT disebutkan KA Empu Jaya melanggar sinyal masuk beraspek merah yang seharusnya diartikan berhenti.
Hanya saja, KNKT juga menekankan perlunya penyelidikan terhadap kondisi teknis lokomotif yang tidak berhenti di stasiun tersebut.

Kesimpulannya disebutkan terdapat, ’’Kelambanan masinis memahami, menyadari adanya ketidaknormalan pada sistem rem serta kelambanan dalam memberikan semboyan 39 (membunyikan klakson memperingatkan bahaya). Hal ini disebabkan oleh kondisi fisik dan mental yang kurang fit. Dari aspek teknis, ditemukan pula kondisi rem kereta tidak berfungsi secara normal, hal ini dapat diakibatkan karena adanya stop kock (valve) pada kereta yang oleh sesuatu hal tertutup, sehingga pada sebagian kereta sistem remnya tidak bekerja. 

Di luar itu, entahlah kesimpulan seperti apa lagi yang akan muncul ketika dihadapkan pada daftar tabrakan antarKA. Karena sebelum Ketanggungan, terjadi pula kecelakaan maut yang kembali melibatkan Empu Jaya, yang kini berganti nama menjadi KA Progo, dengan Lokomotif Cirebon Ekspress di Stasiun Kejaksaan, Cirebon pada 2 September 2001. Lagi-lagi di pelataran stasiun. Setidaknya 39 orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Human error kembali dikedepankan sebagai penyebab.

Menurut Peneliti Perekeretaapian LIPI, Taufik Hidayat, kejadian di stasiun memang tergolong unik. Berdasarkan pengamatannnya, kawasan itu malah cenderung kurang mendapat perhatian serius. Pasalnya, KA dianggap melintas dengan kecepatan rendah, bahkan berhenti. Bantalan rel pun bisa dari kayu yang lapuk. Padahal, stasiun tetaplah harus mendapat perhatian serius karena perannya yang tak ringan.

Terkait kecelakaan yang kerap terjadi, dia menilai masyarakat sudah bosan menunggu janji perubahan setiap kali kecelakaan terjadi. Jajaran manajemen terutama direksi sudah otomatis harus dievaluasi terkait prestasi buruk di Petarukan itu.

Tapi, petinggi operator transportasi pelat merah itu bukanlah komponen yang berdiri sendiri. Pengelolaan kereta api tetaplah sebuah sistem. 

”Kami perlu gerak cepat. Rencana aksi ke depan bagaimana, formulasi bentuknya bagaimana, butuh gerakan yang konkret. Yang dulu-dulu, kita seolah kehilangan momentum saat dijanjikan melakukan perbaikan. Toh berdasarkan statistik penyebab kecelakaan, 65 persen di antaranya faktor manusia, sisanya faktor teknis,” katanya.

Faktor pokok yang perlu dibenahi adalah kompetensi SDM PT KA di semua lini di luar peralatan. Mereka perlu lagi dibina guna meningkatkan skills, pengetahuan, dan perilaku secara simultan.
Dia meminta dua kementerian yakni perhubungan dan BUMN yang membawahi operasional PT KA sudah saatnya mampu menunjukan perannya secara baik.

”Manajemen jangan mengurusi sisi komersial saja, ditekan supaya untung, itu hanya sisi hilirnya karena yang seharusnya dibenahi adalah hulunya,” katanya menyentil Kementerian BUMN.

Kemenhub, kata dia, perlu makin mengedepankan pula fungsi pengendalian dan pengawasan termasuk dalam urusan penegakan regulasi. Keberadaan safety inspector yang bisa berguna memastikan keselamatan operasional dinilai antara ada dan tiada. 

”Mereka jangan bilang ikut-ikutan kaget dengan kejadian di Petarukan. Kalau demikian, lantas mana peran mereka sebagai pemberi peringatan dini,” tegasnya.
Gambaran itu hanya semakin menunjukan saja bahwa persoalan KA memang kompleks, apalagi menjamin sistem keselamatan operasionalnya berjalan mantap.

Perubahan jelas harus dilakukan, termasuk penjatuhan hukuman bagi pihak yang dianggap lalai, karena operasi kereta api bukanlah barang mainan. Bukan pula bagian pencitraan, seperti halnya ketika PT KA bangga mengklaim angkutan Lebaran 2010 tempo hari tanpa diwarnai PLH.
Seolah menunjukan kerja keras sangat. Tapi tak lama setelah hajat usai, mimpi buruk terjadi di Petarukan. (Dwi Setiady-41)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER