SEMARANG- Jarang ada perusahaan yang berinisiatif menumbuhkan budaya menulis di kalangan santri, tak terkecuali yang bergerak di bidang penerbitan media massa. Namun bagi Suara Merdeka, upaya tersebut justru menjadi hal penting. Karena itu, dicanangkanlah ’’Gerakan Santri Menulis’’ melalui Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2010 di aula Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Jalan Gajah Raya Semarang, Sabtu (28/8).
Pencanangan dilakukan oleh CEO Suara Merdeka Group Kukrit Suryo Wicaksono, ditandai dengan pemukulan kentongan, sekaligus menutup rangkaian sarasehan jurnalistik selama Ramadan tahun ini. Sebelum di MAJT, telah sukses digelar sarasehan di delapan pondok pesantren di Jateng.
Ikut menyaksikan pencanangan Plt Sekda Kota Semarang Akhmat Zaenuri, Ketua Badan Pengelola MAJT Drs H Ali Mufiz MPA, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang Taufiq Rahman MHum, Manajer VAS dan Community PT Indosat Welly Purnomo, Deputy General Manager Unit Consumer Service IV Jateng-DIY Telkom Ir Teguh Widodo MT, General Manager SCS Jateng-DIY Telkomsel Andi Kristianto, perwakilan PT Djarum Moh Soleh, dan Kepala Telkom Semarang Satibi. Hadir pula Direktur Pemberitaan Suara Merdeka Sasongko Tedjo, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Hendro Basuki, dan Pemimpin Redaksi Wawasan Sriyanto Saputro.
Selanjutnya, sehari penuh, 150 santri pondok pesantren, pelajar, dan remaja masjid dari Semarang dan sekitarnya, diberi ilmu jurnalistik oleh para redaktur dan wartawan korannya Jawa Tengah tersebut. Peserta antusias mengikuti kegiatan yang sudah diadakan sejak 1994 itu hingga selesai. Tak sedikit pula yang membawa laptop guna mencatat materi sekaligus berlatih menulis.
Kukrit mengatakan, gerakan tersebut merupakan upaya mencetak santri yang lihai menulis secara baik, benar, dan menarik. “Sebenarnya kebiasaan menulis sudah ada, seperti dalam SMS, facebook, twitter, dan blog. Modal awal menghasilkan tulisan yang berbobot telah didapat, tinggal diasah dengan terus berlatih dan menambah wawasan,” ujarnya.
Dia terus memotivasi para santri agar meningkatkan bobot tulisannya. Sebab, jika sudah terbiasa, menulis tidak hanya mengasyikkan, tapi juga bisa menjadi mata pencaharian. Karena itu, pemimpin umum Suara Merdeka tersebut meminta peserta memanfaatkan sebesar-besarnya sarasehan. Sebab para pengisi materi akan berbagi pengalaman menulis yang tidak akan didapat di bangku sekolah.
Karya Besar
Kukrit juga membuka lebar-lebar peluang bagi para santri agar mengirimkan tulisan ke media yang dipimpinnya. Jika menarik, berbobot, dan berorientasi pada pasar, tentu akan ditayangkan sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat.
Diharapkan, dari kepintaran santri dalam menulis, kelak akan muncul karya-karya besar. Ini untuk menjawab tantangan mengapa kini tak muncul lagi kitab-kitab semonumental Al-Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali, serta Al-Umm dan Ar-Risalah karya Imam Syafii.
Menurut Ketua BP MAJT Ali Mufiz, gerakan ini merupakan pendekatan tepat dalam menyebarkan ’’virus’’ menulis di kalangan santri, terutama agar lihai menyusun naskah khotbah semenarik mungkin. “Saya sangat senang dengan program yang sudah berjalan selama 16 tahun ini. Saya memandang SM sebagai tempat inkubasi (persemaian-Red) santri-santri penulis andal,” ujarnya.
Kegiatan ini, kata dia, merupakan cara melahirkan Ibnu Hajar-Ibnu Hajar baru di zaman modern, dengan kemampuan menghasilkan karya-karya yang bisa menimbulkan perubahan pada seluruh bidang.
“Sarasehan ini berperspektif masa depan dan memotivasi santri agar tekun dalam meningkatkan wawasan.”
Plt Sekda Kota Semarang Akhmat Zaenuri yang mewakili Wali Kota Soemarmo HS menyambut baik sarasehan tersebut. Dia berharap peserta memanfaatkan sebaik-baiknya, untuk kepentingan diri sendiri maupun Semarang pada umumnya. (hdq-54) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad