panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
09 Juni 2010
Seks dalam Pembagian Kerja
  • Oleh Zakki Amali
KONSEP anatomi tubuh antara lelaki dan perempuan adalah paket dari alam yang tak bisa ditukargantikan. Lelaki punya penis, perempuan bervagina. Lelaki tak bisa melahirkan dan haid, perempuan bisa. Lelaki tak punya buah dada, perempuan punya. Kondisi itu sejatinya wajar, hingga suatu ketika lahir sistem yang menjadikan perbedaan itu sebagai titik tolak pembagian kerja.

Arief Budiman dalam†Pembagian Kerja secara Seksual†(1985) memaparkan berbagai faktor yang menopang kemunculan pembagian kerja secara seksual. Pertama, kehidupan primitif. Para ahli antropologi menemukan fakta, perempuan pada zaman primitif sangat berharga. Berdasar asumsi pertahanan kelompok, jika perempuan mati, musnahlah kelompok tersebut. Makaa perempuan primitif lebih banyak berada di gua dengan tugas mengumpulkan tanam-tanaman yang dapat dimakan, sedangkan lelaki pergi berburu.

Kehidupan era primitif sangat liar. Jika perempuan diperbolehkan berburu, nyawa mereka bisa terancam. Selain khawatir atas kehadiran hewan buas, kelompok manusia primitif mudah tersulut konflik, seperti pelanggaran teritorial dan hewan buruan. Era itu dengan bentuk lain memperlihatkan bahwa perempuan sangat berharga. Itu mengartikulasikan perempuan memang harus berada di dalam rumah, karena aspek keamanan dan secara langsung memancangkan tonggak awal pembagian kerja berdasar seks.

Kelak, tak jadi soal ketika pembagian primitif berlangsung. Namun ketika muncul hasrat kuasa dan eksploitasi terhadap perempuan, selaiknya pola itu disoal.

Tak Bisa Melawan

Secara eksplisit, Arief menyebutkan faktor kedua adalah akses pada sumber ekonomi, sosial, dan politik. Ketika perempuan selalu berada di rumah, sedangkan kondisi sosial sudah aman, dan perempuan tak lagi dikhawatirkan untuk terjun ke medan publik, mereka tetap tak bisa melawan kondisi itu. Sementara itu, lelaki bebas bertualang mengumpulkan materi dan kekuasaan.
Alasan yang mendasari sikap lelaki itu, menurut pendapat Arief mengutip Friederick Engles (1973), untuk menjaga kemurnian darah keturunan, sehingga kekayaan pribadi dapat diwariskan menurut garis keturunan. Pola itu memaksa perempuan tetap berada di rumah agar tak dapat mengakses sumber kekuasaan, ekonomi, dan politik.

Faktor ketiga adalah kapitalisme. Sistem kapitalisme berlaku di sektor (publik) masyarakat yang dimasuki lelaki dengan logika pasar atau kegunaan. Orang dihargai karena dapat mencari uang. Ketika lelaki tak mampu bersaing di wilayah publik, keluarga sebagai tempat privat dan steril dari pengaruh kapitalisme berubah jadi ajang pelarian lelaki untuk menjadi seseorang, meski di ruang kecil (keluarga). Di sana lelaki bebas memenuhi keinginan. Perempuan ditugaskan menyediakan semuanya. Karena itu, perempuan harus dipertahankan di sektor domestik demi kesehatan batin lelaki yang dieksploitasi sistem kapitalisme.

Perempuan jadi semacam tenaga kerja gratis di rumah. Kalaupun dibayar, sangat murah. Sebab, semua dilaksanakan atas dasar cinta. Faktor pembagian kerja secara seksual selalu bergantian, tetapi menimbulkan konklusi sama, yakni pemenjaraan perempuan di sektor domestik dan titik tekannya selalu pada sifat seksual perempuan.

Ketidakadilan

Ironisnya, sifat seksual dilekatkan pula pada konsep gender yang sebenarnya dapat ditukargantikan antara perempuan dan lelaki. Muncullah anggapan perempuan cenderung irasional, lemah lembut, emosional, sedangkan lelaki perkasa, kuat, rasional.

Perbedaan itulah yang menimbulkan ketidakadilan gender, terutama yang dialami perempuan. Mansour Fakih dalam†Analisis Gender dan Transformasi Sosial†(2008: 12-13) menyatakan ketakadilan itu meliputi marginalisasi atau pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja lebih panjang dan lebih banyak, serta sosialisasi ideologi peran gender.

Pada dasarnya ketakadilan akibat sistem pambagian kerja secara seksual merupakan bentukan sistem masyarakat. Pemecahannya melalui pembentukan nilai masyarakat yang adil dalam pemberian akses ke lelaki dan perempuan di ruang yang sama melalui unit terkecil masyarakat, yakni keluarga.

Namun masa depan keluarga perlu diperhatikan, karena anak-anak butuh bimbingan orang tua. Ibu, yang selama ini “ditugasi” oleh kultur sangat berat melebihi lelaki, mengemban peran ganda, yakni bekerja dan merawat anak.
Perubahan sistem masyarakat dalam memandang perempuan secara radikal struktural bisa mengakibatkan keterguncangan tatanan sosial. Karena itu butuh perangkat lain untuk melihat keseimbangan relasi antara perempuan dan lelaki dalam pembagian kerja secara seksual.

Kacamata sosial ekonomi yang tercermin dari beberapa faktor itu akan mampat ketika pemecahan diambil dari sudut pandang sosiologis juga. Dengan kata lain, kita sulit tak membagi pekerjaan secara seksual. Namun yang lebih ditekankan adalah penghargaan terhadap perempuan yang mengelola persoalan domestik. Jika penghargaan dilakukan dalam relasi rumah tangga, ketidakadilan akan terkikis. Karena kita melihat sumbangsih perempuan merupakan tonggak kemajuan lelaki yang kelak bermuara pada keluarga.

Dalam relasi penghargaan itu sekilas terlihat terjadi pembiaran peran ganda dan perempuan disahkan di ranah domestik. Namun persoalan lebih jauh adalah ada atau tidak keadilan. Jika menimbulkan kebaikan antarseks, penghargaan itu laik untuk mengapresiasi peran perempuan dalam rumah tangga. Jadi, tak ada yang merasa dimarginalkan dalam relasi berumah tangga. Semoga. (51)

- Zakki Amali, peneliti Lembaga Studi Sosial dan Budaya Sumur Tolak, Kudus
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER