TANPA terlihat canggung, Amrih Basuki meloncat ke atas pohon. Dia lantas nangkring di atasnya, sembari mengeluarkan meteran untuk mengukur keliling pohon itu.
Warga Randusari, Nongkosawit, Gunungpati itu tak terlihat awang-awangen, walaupun pohon yang dipanjatnya berada di lokasi yang rada nggegirisi. Bayangkan, pohon itu berada di tubir jurang, yang kalau lengah sedikit saja, bisa berbuah petaka baginya.
Dengan pamrih apa Amrih mengukur pohon? Tentu saja, pegiat Komunitas Kandang Gunung itu tak sedang iseng. Dia mengukur keliling pohon-pohon itu dalam rangka pendataan, sebagai bagian dari penyelenggaraan Festival Pohon 2010.
”Kegiatan utama Festival Pohon adalah mendata dan memilih pohon-pohon berukuran paling besar,” kata Amrih, kemarin.
Dia mengungkapkan, Festival Pohon dibuka, Minggu (6/6) lusa, dipusatkan di Lapangan Pongangan, Gunungpati. Festival yang berlangsung dua pekan, hingga Minggu (20/6), itu ‘mempertandingkan’ pohon-pohon terbesar, meliputi kategori umum, pohon produktif (buah), pohon langka dan penghargaan khusus.
”Kali ini merupakan penyelenggaraan keempat. Festival pertama digelar pada 2007,” ungkapnya.
Atas posisinya sebagai divisi pendataan dalam Festival Pohon, Amrih yang sehari-hari berjualan mi ayam keliling, sejak pertengahan April lalu, harus masuk keluar hutan untuk melakukan pendataan dan pengukuran pohon.
Acapkali Amrih didampingi Ketua Komunitas Kandang Gunung, Tri Prasetyo Wahyu Widodo, yang juga ketua panitia Festival Pohon. Pada kali lain, turut serta Gunawan BS dari Komunitas Marung Seni Gebyog, yang didapuk sebagai sekretaris, atau teaterwan Widyo ”Babahe” Leksono yang juga terlibat dalam kegiatan itu.
Ratusan Tahun
Hingga saat ini, Amrih dkk telah mendata tak kurang dari 40-an pohon besar. Dari jumlah itu, 30 di antaranya telah terukur secara pasti, mulai dari keliling, diameter, lokasi, hingga pemilik atau perawatnya.
”Umumnya, pohon-pohon yang diukur itu berdiameter 1,5 meter atau lebih dengan usia ratusan tahun,” terang Gunawan.
Pohon-pohon itu antara lain randu alas (Bombax ceiba L.) di Kampung Watusari (Patemon) dengan diameter 4,45 meter, beringin (Ficus benyamina) di makam Mbah Joyokusumo (Kandri) diameter 3,60 meter, munggur (Enterolobium saman) di Kampung Ndukoh (Jatirejo) diameter 2,38 meter, benda (Artocarpus elasticus) di Ngablak (Jatirejo) diameter 2,35 meter, asam jawa (Tamarindus indica L.) di Kampung Trawas (Cepoko) diameter 1,65 meter, durian (Durio zibethinus) Kampung Jedung (Nongkosawit) diameter 1,90 meter, jamblang/duwet (Syzygium cumini) Kampung Jetis (Ngijo) diameter 1,39 meter, sono kembang (Pterocarpus indicus Willd) di Sumurejo diameter 4,45 meter, winong (Tetrameles nudflora) di Sendang Jambon (Sadeng) diameter 3,48 meter, serta rau (Dracontomelon dao) di Sendang Gede (Kandri) diameter 1,90 meter.
”Pengukuran dilakukan di atas tambi (bagian akar yang berada di atas tanah—Red). Kalau diukur berikut tambinya, bisa-bisa randu alas Watusari memiliki diameter 10 meter,” katanya.
Minggu (20/6) mendatang, para pemilik/perawat pohon-pohon besar itu akan diberi plakat dan penghargaan, sebagai puncak Festival Pohon. Mereka juga diberi bantuan untuk meringankan pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) atas tanah tempat pohon itu berdiri, dengan maksud tetap mempertahankan keberlangsungan pohon itu. ”Kami berharap, masyarakat lebih punya kepedulian untuk mempertahankan pohon, terutama pohon-pohon besar, dalam kaitan dengan upaya mempertahankan sumber air kita.” (67) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad