panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
24 Mei 2010
Derita Keluarga Transmigran (1)
Tanah Garapan Kandung Batu Bara, Pilih Pulang
image

Sebanyak delapan keluarga transmigran asal Kendal dan Kabupaten Semarang, belum lama ini kembali ke kampung halamannya. Mereka tak kerasan di lokasi transmigrasi di Desa Kepala Gurung, Kecamatan Matebah, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Berikut laporan dua seri atas
derita mereka.

SEBAGIAN dari delapan keluarga transmigran asal Kendal dan Kabupaten Semarang, mengaku kaget, karena tanah pengharapannya di Desa Kepala Gurung, Kecamatan Matebah, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tidak seperti yang mereka dambakan. Istilahnya, tak seperti yang dijanjikan pemerintah.

’’Tanah untuk bercocok tanam di lokasi transmigrasi, ternyata sulit diolah karena sebagian besar mengandung batu bara. Jelas sekali, saya melihat batu bara itu ada di permukaan tanah. Saya kebingungan, bagaimana mengolah ladang itu,’’ tutur Jumair (46), seorang transmigran asal Desa Tambahsari RT 1 RW 1 Kecamatan Limbangan, Kendal ketika ditemui di aula Dinsos Nakertrans Pemkab Kendal, belum lama ini.

Menurut ayah satu anak tersebut, ladang yang disediakan untuk bercocok tanam seluas sekitar satu hektare. Saat awal, dia sempat mencoba menanaminya dengan bibit kacang hijau, seluas lebih kurang 1.200 m2.

’’Bibit yang ditanam itu, saya ambil dari kacang hijau yang menjadi jatah makan kami sekeluarga. Ada sekitar tiga kilogram kacang hijau yang saya tanam. Namun, ketika dipanen hasilnya kurang memuaskan karena hanya mampu berproduksi sekitar enam kilogram.’’ 

Jumair, beserta istrinya bernama Badiah (44) dan anaknya Moh Fathurahman (14), bersama tujuh keluarga yang lainnya, berangkat ke lokasi transmigrasi di Kapuas Hulu pada 28 Desember 2009 lalu. Mereka sempat bertahan selama lima bulan di sana. Karena tak kerasan, akhirnya memilih pulang ke Kendal Rabu (12/5).

Setelah melalui perjalanan darat dan laut selama beberapa hari, rombongan transmigran itu tiba di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Minggu (16/5) malam.

Tujuh keluarga transmigran yang lainnya adalah Heri Purwanto (27) dan istrinya Nuryati (22) warga Bandungan, Kabupaten Semarang  (memiliki seorang anak); Fendri Megiyono (30) dan istrinya Pajar Setyoningsih (20) warga Desa Damarsari RT 7 RW 2 Cepiring; Sumar (44) dan istrinya Karti (39) warga Desa Wonosari RT 7 RW 7 Patebon (punya dua anak); Triyono (39) dan istrinya Astriyah (34) warga Wonosari RT 2 RW 7 Patebon.

Kemudian, Sayadi (49) dan Siti Khotijah (45) warga Desa Jawisari Kecamatan Limbangan (punya dua anak), serta Sukino (42) dan Astutiningsih (33) warga Wonosari, Patebon (memiliki dua anak).

’’Kampung terdekat dengan lokasi transmigrasi yang kami tempati, berjarak sekitar 12 kilometer. Akses jalan menuju ke sana juga masih berupa tanah dengan kondisi medan naik turun. Karena faktor jalan yang tidak mendukung inilah, anak saya hanya mau berangkat ke sekolahnya (SMP) selama beberapa hari saja. Saat kami paksa untuk berangkat, dia justru menangis,’’ ungkap Jumair.

Buang Sepeda

Maklum, SMP anaknya itu berjarak sekitar 15 kilometer. Lantaran jalannya masih tanah liat dan naik-turun, hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. ’’Saya sempat membeli sepeda onthel, namun karena di sana tidak bisa dipakai, akhirnya saya buang begitu saja. Untuk lewat jalan itu, kalau tidak dengan jalan kaki, ya dengan naik sepeda motor. Untuk membeli motor, jelas saya tidak mampu.’’
Heri Purwanto, transmigran yang lain mengungkapkan, selain ladang yang belum siap olah dan fasilitas jalan belum memadai, dirinya juga mengeluhkan tidak adanya layanan medis di sekitar lokasi transmigrasi.

’’Kaki istri saya terjangkit penyakit kulit. Karena gatal yang tidak bisa ditahan akhirnya digaruk, sehingga mengakibatkan luka-luka. Saya belum membawanya berobat, karena puskesmas terdekat berjarak sekitar 15 kilometer dari tempat kami. Untuk naik motor ojek, ongkosnya Rp 70 ribu untuk sekali jalan,’’ ucap Heri sembari menunjukkan bekas luka di kaki istrinya.

Munculnya kendala di luar perkiraan itu yang belakangan mendorong delapan keluarga transmigran asal Kendal itu pulang ke Jawa. Beragam cara mereka tempuh, asalkan bisa kembali ke kampung halamannya.

Perjalanan dimulai dengan menyewa sebuah truk ban dobel. ’’Kami bersama tujuh keluarga yang lain menyewa truk dan memulai perjalan darat menuju ke Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, Potosibo. Setiap keluarga ditarik biaya Rp 100 ribu. Kemudian, melanjutkan dengan menumpang bus umum menuju ke Pontianak. Setiap orang membayar ongkos Rp 180 ribu.’’

Dari Pontianak, mereka melanjutkan perjalanan dengan menumpang kapal laut menuju ke Semarang. Setiap orang ditarik ongkos kapal laut Rp 230 ribu. ’’Untuk bisa pulang, saya terpaksa menjual barang kepada sesama transmigran yang masih bertahan, misalnya cangkul dan sabit yang saya bawa dari Jawa. Alat-alat bantuan dari pemerintah masih utuh, karena saya tidak berani menjualnya. Sesampai di kampung halaman, saya akan menumpang di rumah kerabat, karena kami tidak memiliki rumah tinggal.’’ (Setyo Sri Mardiko-54)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER