panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
07 Maret 2010
SURAT PEMBACA
Psikologi Anak Menjelang UASBN
Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) sebentar lagi digelar. Tentunya sekolah-sekolah menyiapkan anak didiknya dengan semaksimal mungkin agar anak didiknya mendapatkan hasil yang terbaik. Banyak program yang ditempuh oleh sekolah dan guru tiga bidang studi yang di UASBN-kan mulai dari pemadatan materi, dril soal, program bimbingan les sore yang biasa dimulai setelah anak-anak sepulang sekolah. Bahkan ada sekolah yang menambah program ‘’jam ke no’’ jika masih dirasa kurang. Pada jam ke nol anak-anak masuk sekolah pagi-pagi untuk melakukan pembinaan yang kadang anak belum sempat untuk sarapan. Yang tidak ketinggalan dengan diadakan try out untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak dalam menghadapi UASBN.

Ketika melihat hasil try out anaknya belum maksimal, kadang anak mendapat semprot dari guru, bahkan orang tuanya sendiri. Sehingga jika ada orang tua yang masih kurang puas dengan hasil try out tersebut, ada sebagian dari mereka yang memasukkan anaknya ke bimbingan belajar, masih kurang puas lagi mereka mengundang guru les privat di rumahnya.

Dengan melihat ini maka ada pepatah yang mengatakan ”tiada hari tanpa belajar” itu benar adanya, tetapi apakah itu semua tidak merampas hak anak untuk bermain. Dari hal di atas, kita bisa membayangkan bagaimana kondisi fisik dan psikologis anak? Mungkin ”kecapean”, ”kejenuhan” atau bahkan ”stres”, karena anak sering les, dan tentunya dijejali dengan banyak soal, sehingga wajar jika ada guru yang menemukan anak mengeluh: Di sekolah soal, di bimbingan soal, di rumah juga soal, bosan...

Permasalahan ini timbul bisa disebabkan karena lingkungan dan sistem yang ada sekarang ini, dan memang tidak semata-mata kesalahan dari guru atau orang tua. Namun kita sebagai guru atau orang tua harus memikirkan solusi dari hal ini, sehingga anak didik tidak menjadi korban ambisi guru untuk mendapatkan nilai yang terbaik di sekolahnya atau korban orang tua untuk mendapatkan sekolah favorit buat anaknya.

Untuk mengurangi kejenuhan atau stres pada anak, maka perlu adanya komunikasi antara sekolah, guru dan orang tua wali murid. Hal ini bisa dilakukan dengan diadakan pertemuan wali murid dan guru yang diakomodasi oleh sekolah. Agar pertemuan tersebut lebih bermakna, perlu diadakan diskusi atau tukar pendapat. Lebih menarik lagi, jika pada pertemuan itu diundang pakar psikologi anak sehingga bisa memberikan masukan berarti bagi sekolah, orang tua dan guru. Dan jika ada orang tua yang tidak sempat hadir karena kesibukannya, bisa menyempatkan barang sejenak konsultasi dengan wali siswanya di sekolah, untuk mengetahui perkembangan belajar anak dan psikologi anak di sekolah.

Selain itu perlu juga anak-anak mendapatkan refressing yang mendidik, misalnya dengan mengadakan out bound sesekali keluar dari ruangan kelas, agar mengurangi kepenatan di kelas. Melakukan game-game ringan, yang ada hubungannya dengan pelajaran juga bisa di coba, sehingga selain dapat pelajaran juga dapat bermainnya.

CD interaktif atau film animasi yang berkaitan dengan pembelajaran juga harus dicoba sebagai variasi model pembelajaran di kelas, karena anak akan sangat tertarik dengan hal ini. CD interaktif ini sekarang banyak dijual di pasaran sehingga tidak kesulitan. Banyak juga penelitian yang menerapkan musik sebagai sarana untuk menenangkan dan mencerdaskan pikiran anak, maka penggunaan musik bisa dipraktekkan di kelas ketika anak mengerjakan soal, yang tentunya musik yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Namun pengunaan media ini, juga harus dikomunikasikan dengan anak, karena mungkin ada anak yang merasa tergganggu konsentrasi belajarnya ketika mendengarkan musik.

Yang sangat perlu juga adalah membangkitkan motivasi dari diri anak, sehingga anak belajar tidak dengan tekanan tetapi dengan kemauan. Hal ini yang memang dirasa masih sangat berat dirasakan oleh guru dan orang tua. Salah satu jalan yang biasa dilakukan oleh beberapa sekolah untuk menangani masalah ini, biasannya sekolah mengadakan pelatihan ESQ atau MABIT (malam bina iman dan taqwa). Agar lebih berarti bisa mengundang pakar anak yang biasanya memberikan motivasi juga diselingi cerita yang menyentuh, dan kadang disisipi dengan cerita atau video yang lucu untuk membuat anak semangat kembali.

Walau banyak orang bilang ”praktek tidak semudah teori” tapi tidak salahnya kalau kita mencoba teori itu. Dengan melakukan hal-hal di atas kita berharap anak didik tidak mudah stres mengahadapi UASBN dan insyaAllah akan mendapatkan hasil yang kita harapkan bersama.

Guru IPA, Pati
Praktisi dan Pecinta Pendidikan
Slamet Widiantoro SPd
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER