panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kesehatan
18 Februari 2010
Atresia Bilier, Gangguan Fungsi Empedu
  • Oleh Dwi Wastoro Dadiyanto
KASUS  penyakit yang diderita bayi Bilqis mengundang empati masyarakat. Bayi ini dinyatakan menderita penyakit yang disebut sebagai Atresia Bilier. Untuk kalangan umum barangkali penyakit tersebut terasa sangat asing, namun ada sejumlah penderita mengalami hal serupa. 

Atresia Bilier adalah suatu keadaan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal. Padahal fungsi dari sistem empedu adalah membuang limbah metabolik dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak di dalam usus halus.

Pada atresia bilier terjadi karena proses peradangan berkepanjangan yang menyebabkan hambatan/penyumbatan aliran empedu dari hati ke kandung empedu. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, yang jika tidak diobati bisa berakibat fatal.

Jadi atresia bilier terjadi karena adanya perkembangan abnormal dari saluran empedu di dalam maupun di luar hati, yang bisa berupa tidak adanya atau kecilnya lumen pada sebagian atau keseluruhan saluran empedu yang menyebabkan hambatan aliran empedu.

Akibatnya di dalam hati dan darah terjadi penumpukan garam empedu dan peningkatan kadar bilirubin direk. Tetapi penyebab terjadinya gangguan perkembangan saluran empedu ini tidak diketahui.

Atresia bilier ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran hidup.

Gejala

Gejala biasanya timbul dalam waktu 2 minggu setelah lahir, yaitu berupa:

-Air kemih bayi berwarna gelap seperti teh
- Tinja berwarna pucat seperti dempul
- Kulit berwarna kuning
- Berat badan tidak bertambah atau penambahan berat badan berlangsung lambat
- Hati membesar
Pada saat usia bayi mencapai 2-3 bulan, akan timbul gejala berikut:
- Gangguan pertumbuhan
- Gatal-gatal
- Rewel
- Tekanan darah tinggi pada vena porta (pembuluh darah yang mengangkut darah dari lambung, usus dan limpa ke hati).

Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan perut membuncit, hati teraba membesar.
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

-  Pemeriksaan darah (terdapat peningkatan kadar bilirubin)
-  USG perut
-  Rontgen perut (tampak hati membesar)
-  Kolangiogram
-  Biopsi hati
-  Laparotomi (biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan).

Pengobatan

Prosedur yang terbaik adalah mengganti saluran empedu yang mengalirkan empedu ke usus. Tetapi prosedur ini hanya mungkin dilakukan pada 5-10% penderita.

Untuk melompati atresia bilier dan langsung menghubungkan hati dengan usus halus, dilakukan pembedahan yang disebut prosedur Kasai.
Pembedahan akan berhasil jika dilakukan sebelum bayi berusia 8 minggu.

Dari beberapa penelitian dikatakan tindakan bedah yang dilakukan pada usia 5-8 minggu maka angka keberhasilannya adalah 86%, tetapi bila pembedahan dilakukan pada usia kurang 8 minggu maka angka keberhasilannnya hanya 36%. Oleh karena itu diagnosis atresia bilier harus ditegakkan sedini mungkin sebelum usia 8 minggu.

Biasanya pembedahan dengan prosedur Kasai ini hanya merupakan pengobatan sementara dan pada akhirnya perlu dilakukan pencangkokan hati. Sehingga operasi Kasai merupakan tujuan jangka pendek  untuk menyelamatkan penderita sedangkan Persiapan Cangkok hati merupakan tujuan jangka panjang

Di negara maju dilakukan transplantasi (cangkok) hati terhadap penderita:

- Atresia bilier tipe III yang telah mengalami sirosis hati
- Kualitas hidup buruk, dengan proses tumbuh kembang yang sangat terhambat.
- Pasca operasi Kasai yang tidak berhasil memperbaiki aliran empedu.
Penderita dengan atresi bilier yang tidak diterapi akan berkembang menjadi sirosis hati, hipertensi portal dan kematian pada sekitar usia 6-12 bulan.

Sedangkan penderita yang mendapat terapi Prosedur Kasai saja sekitar 50% berhasil mencapai usia 5 tahun dan 25 % berhasil sampai dewasa.
Cangkok hati merupakan satu-satunya pilihan terapi yang dapat memberi kesempatan peluang hidup yang lebih baik bagi anak yang menderita penyakit hati stadium akhir. Penyakit hati atresia bilier menduduki peringkat tertinggi dalam jumlah kasus  yang mendapatkan operasi cangkok hati umur kurang dari 2 tahun.

Program cangkok hati merupakan program yang melibatkan banyak ahli di bidang terkait karena banyak menghadapi masalah baik pada waktu seleksi donor, persiapan praoperasi, prosedur operasi maupun perawatan pasca operasi, termasuk penggunaan obat imunosupresan , pengelolaan komplikasi dan pengelolaan jangka panjang.(13)

Dokter Dwi Wastoro, Spesialis Anak, RS Dr Kariadi Semarang, Dosen Fak Kedokteran Undip.

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER