Subcribe RSS RSS SUARAMERDEKA.COM
 
.:Kuliner


 

Hiburan & Seni

13 Desember 2009

Instrumentalia ala Genetic Fake Purple

MUSIK terkadang tak perlu berisi lirik yang puitis untuk mengungkapkan kejujuran. Bermusik secara instrumental, bisa jadi memiliki kekuatan tersendiri.

Bisa diinterpretasikan sesuai suasana hati, dan bebas tafsir layaknya memandang sebuah karya lukisan. Begitulah cara bermusik band post-rock dengan sedikitsentuhan shoegaze asal Semarang, Genetic Fake Purple (GFP).
Musik mereka mengawang dan membius, seakan membawa kita ke ‘alam lain’, atau ke dalam sebuah negeri dongeng. Meskipun baru terbentuk awal tahun 2008, kehadiran GFP turut meramaikan warna musik di Semarang, setidaknya, bisa menambah list band-band potensial dan bagus di kota itu. Dan paling tidak, menambah keragaman genre musik, sehingga yang eksis dari waktu ke waktu tidak hanya yang itu-itu saja.

GFP terdiri atas Anggoro Wisnu Wardhana (gitar), Arif Abdul Hakim (drum), Fahmi Yudhantoro (visual, bas), dan Yodha Giwangkara (gitar). Mereka memutuskan untuk bermusik tanpa mengindahkan vokal manusia. Alasannya, instrumen lebih jujur. Orang lain bisa mendeskripsikan apa saja, merasakan apa saja yang dari musik GFP, bisa relaks, sedih, galau, atau bagaimanapun interpretasinya. Yodha mengungkapkan, ada seorang pendengar, yang sampai menangis begitu mendengar musik mereka. 

GFP telah mengeluarkan dua buah singgel yang dibagikan secara gratis melalui wordpress Yodha (yodhaxapie.wordpress.com). Judulnya ”Another Spark” dan ”Follow”.

“Tapi yang sudah direkam secara proporsional baru ‘Follow’, yang lainnya menyusul,” Beber Yodha. “Masih ada tiga lagu lagi yang sedang dalam proses recording,  setelah selesai, kita akan merilis EP (Extended Play) akhir tahun ini,” katanya.

Mereka juga sedang mempersiapkan merchandise berupa kaus/ T-shirt, yang didapuk brand clothing lokal, Hell Yeah Hero. Namun seperti apa dan bagaimana konsepnya, masih mereka rahasiakan.

EP yang segera mereka rilis, rencananya akan bekerja sama dengan sebuah net-label (sebuah bentuk penyebaran musik melalui internet secara gratis, namun resmi/ legal melalui sebuah situs yang menaunginya, red.) asal Brooklyn, New York, AS, Muxtape (www.muxtape.com).

Kerja sama itu terjadi secara tidak sengaja. Seusai tampil pada acara Hertz di Retro Creative House Semarang, bulan Mei lalu, Ari Patria, gitaris Sorra (Bandung), mewawancarai GFP. Ari-lah yang merekomendasikan mereka untuk bekerja sama dengan Muxtape. Tanpa berpikir lama, Yodha langsung mengirim surat elektronik ke pihak Muxtape, dan langsung dimintai empat lagu untuk segera mereka rilis.

Selain sedang mempersiapkan empat buah lagu, mereka juga sedang mempersiapkan sebuah videoklip. “Konsep videonya blur, objek yang tidak fokus dan berkesan silinder,” ungkap Hakim.

Mereka mengaku, sampai membeli software yang asli, demi menciptakan efek realis dan luar biasa, agar hasilnya maksimal. Memilih menyebarkan musik melalui dunia maya, dan bukan dalam bentuk fisik (CD), bukan tanpa alasan.

Meskipun tidak mendapatkan keuntungan secara finansial, mereka mendapatkan keuntungan lainnya, yaitu musik mereka bisa beredar secara global.

“Ini salah satu usaha supaya musik kita bisa di dengar orang-orang dari mana saja. Walaupun mereka nggak tahu siapa kita, yang penting mereka tahu dan mendengarkan musik kita,” jelas Hakim.

Promosi yang mereka lakukan, selain melalui media massa dan tutur-tinular, yang paling gencar mereka lakukan adalah lewat dunia maya, Facebook dan Wordpress. Sejauh ini, yang paling efektif dan murah adalah promosi -secara tidak langsung, dari mulut ke mulut. Karena lingkungan sekitar mereka, mendukung sepenuhnya.  

Musik mereka sendiri, agak sedikit susah untuk dikategorikan masuk ke dalam genre apa. Post-rock, shoegaze, dan noise. Barangkali karena kerumitan musik inilah mereka membebaskan orang mau menyebut aliran musik mereka apa. Dan barangkali juga, itu karena latar belakang musik masing-masing personel yang berbeda. Wisnu, yang lebih akrab dengan panggilan Gendut, adalah penggemar musik metal, Hakim dari British pop, Fahmi rock ‘n roll, dan Yodha dari aliran emo. Masing-masing personel juga memiliki influens musik, dan pengalaman hidup sehari-hari yang berbeda satu sama lain, namun saling berkaitan dengan musik mereka. (73)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share


© 2009 SUARAMERDEKA.com. All rights reserved.