panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Muria
02 Desember 2009
Surat Tolak PLTN Seberat 7 Kg Dikirim ke SBY
JEPARA - Surat warga Desa Balong, Kecamatan Kembang yang berisi penolakan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) resmi dikirim melalui Kantor Pos Bangsri, Selasa (1/12) pukul 14.00.

Aris Susanto, wakil ketua Persatuan Masyarakat Balong (PMB), mengemukakan, hingga pengumpulan terakhir siang kemarin, surat yang resmi dikirim itu sebanyak 3.488 lembar dengan berat 7 kg dan menelan biaya pengiriman Rp 50.500. ”Semua surat ini ditulis oleh warga Desa Balong,” ujar Aris Susanto.

Dua belas wakil warga datang ke Kantor Pos Bangsri untuk mengurus proses pengiriman, kemarin. Jumlah penduduk yang menulis surat itu disebut lebih dari 90% pemilik hak suara Pilpres 2009 di desa itu.

”Daftar pemilih tetap pilpres lalu di desa kami tak lebih dari 3.700 orang,” ucapnya.

Surat-surat itu, ungkap dia, untuk membuktikan kepada Presiden bahwa warga menolak keras rencana pembangunan PLTN Muria di desanya. Sumadi, 64), warga yang menulis surat itu kemarin menekankan, sikap warga tidak akan berubah dan tetap menolak.

”Jadi, jika ada kelompok yang menyatakan warga desa kami masih dipertanyakan sikapnya terkait dengan rencana pembangunan PLTN, apalagi disebut belum tentu menolak, itu semua tidak benar. Ini bukti kami menolak,” tandas dia sembari menunjukkan sekardus surat penolakan lengkap dengan segala alasan yang lebih banyak terkait dengan besarnya risiko keamanan dari segala dampak negatif PLTN.

Puncak Resistensi

Resistensi warga Desa Balong terhadap rencana pembangunan di pantai desanya itu bisa disebut memuncak kembali. Ketua PMB Setyawan Sumedi kemarin mengatakan,

”Semua surat ini kami kirim untuk Presiden dan berharap ini bisa menjadi bahan pertimbangan beliau untuk tidak menelurkan kebijakan membangun PLTN Muria di desa kami.”

Surat-surat itu, tutur dia, ditulis oleh warga dalam sepekan terakhir dan baru dikumpulkan jadi satu pagi kemarin.

Mereka merasa perlu membubuhkan surat tertulis itu tentang sikap penolakan terhadap rencana megaproyek tersebut setelah beberapa hari sebelumnya Kementerian Riset dan Teknologi menggelar sosialisasi nuklir dan menggiring pembicaraan ke upaya mengegolkan PLTN.

Sosialisasi itu digelar di Restoran Maribu Jepara yang dihadiri para perangkat desa calon tapak PLTN Muria.

Dini Isna Irawati (30), warga yang menulis surat itu, menyampaikan alasan takut terjadi apa-apa jika ada PLTN karena daratan Jawa termasuk wilayah rawan gempa.

Karena itu sulit mendeteksi kapan dan sekeras apa gempa mengguncang, bahkan oleh teknologi terbaik yang dimiliki negara ini, maka dia menyatakan terlalu berisiko tinggi untuk membangun PLTN yang berbahan uranium dan memiliki limbah radioaktif yang berbahaya dan mengancam sumber kehidupan.

Sebagaimana diberitakan Suara Merdeka (23/11), Deputi Bidang Dinamika Masyarakat Kemenristek Prof Dr Ir Carunia Mulya Firdausy MA mempertanyakan kebenaran angka lebih dari 70% warga calon lokasi menolak. ”Melalui survei apa itu?” ucap dia ketika itu.  (H15-69)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER