Lintas Pantura
03 Nopember 2009
Siswa SMK Dihajar Oknum Guru
TEGAL - Seorang Siswa Kelas X Mesin 1 SMK Dinamika Kota Tegal, Abdul Aziz Rifa’i (17) diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan seorang oknum guru sekolah kejuruan swasta di Jl Glatik, Kelurahan Randugunting, Kecamatan Tegal Selatan.
Akibatnya, siswa tersebut mengalami pendarahan di telinga dan pendengarannya hingga kini tidak normal. Korban mengaku trauma atas kejadian tersebut. Hingga kini terpaksa tidak bisa bersekolah karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti pelajaran.
’’Telinga kiri saya masih sakit. Pas habis dipukul, keluar darah cukup banyak. Sekarang berobat jalan di Rumah Sakit (RS) Kardinah. Saya masih trauma,’’ ucap Aziz panggilan akrab Abdul Aziz Rifa’i, Senin (2/11).
Saat ditemui di rumahnya di RT 18 RW 3, Desa Cangkring, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, korban menceritakan kronologi kejadiannya.
Hingga dia sampai dihajar oknum guru berinisial An BA yang mengajar praktikum.
Didampingi ibu kandungunga, Ratinah (40) dan pamannya Mukhlisin (38), korban mengatakan, tidak menduga sama sekali bila gurunya yang seharusnya jadi panutan sampai tega memukul dirinya hingga mengalami luka cukup serius.
Kejadian berawal pada Kamis (29/10). Saat itu, jam pelajaran pertama dimulai. Banyak siswa di Kelas X Mesin 1 yang terlambat masuk. ’’Ini sudah biasa, kalau ada yang terlambat masuk kelas bisa kena tempeleng guru An,’’ ucapnya.
Hari itu ada beberapa siswa yang kena tempeleng oknum guru tersebut. Namun kondisinya terasa tidak adil, saat ada salah seorang rekannya yang terlambat masuk cukup lama. Siswa tersebut hanya dipersilakan duduk untuk mengikuti pelajaran.
Kondisi itu memancing protes siswa lainnya. Kelas pun menjadi bersuara gaduh. Sebab banyak siswa yang berteriak tempeleng, tempeleng berulang-ulang. ’’Mungkin saya yang bersuara paling keras dan guru An mendengarnya. Saya dipanggil maju ke depan kelas. Lalu saya dipukul berulang-ulang sampai akhirnya telinga kiri saya berdarah,’’ terangnya.
Berdarah
Oknum guru itu kemudian menyuruh dirinya membersihkan darah yang mengucur dari dalam lubang telinga. Saat berada di kamar kecil, siswa tersebut merasakan pusing kepala. Bahkan sempat terduduk lesu di kamar kecil. ’’Saya seperti mau pingsan,’’ terangnya.
Karena kondisinya yang lemah, hari itu juga korban diperiksakan kondisi kesehatannya di RS Kardinah di Jl Sultan Agung. Dokter yang memeriksa ada luka di gendang telingga. Hal itu berakibat pendengarannya menjadi tidak normal.
Ibu kandung Aziz, Ratinah mengatakan, sudah meminta pertanggungjawaban kepada oknum guru yang diduga menganiaya anaknya.
Antara lain agar membiayai pengobatan anaknya yang luka sampai sembuh dan pendengarannya menjadi normal kembali.
’’Kalau tidak mau bertanggungjawab ya kasusnya akan saya laporkan ke polisi,’’ ucap dia.
Oknum guru An yang diduga menganiaya salah seorang siswanya, saat akan dikonfirmasi belum bersedia menemui wartawan. Menurut Guru Bagian Kesiswaan, Rahardian SPi dan Eko Yuwono guru bidang studi Fisika, rekannya An masih mengajar. Kalau menemui wartawan saat itu pelayanan pengajaran akan terganggu.
Rahardian mengatakan, sudah mendengar kejadian tersebut. Namun belum menerima laporan secara resmi. Dirinya juga tidak memiliki wewenang untuk menjelaskan kasus dugaan pemukulan itu ke wartawan.
Karena yang berhak menjelaskan adalah kepala sekolah. Kepala Sekolah (Kepsek) STM Dinamika, H R Abas BA juga belum bisa dimintai konfirmasi. Sebab sedang dinas keluar.
Kapolresta Tegal AKBP Drs Ahmad Husni dan Kasatreskrim AKP Willer Napitupulu SE mengatakan, kasus dugaan penganiayaan itu adalah delik aduan. Jika ingin kasusnya diproses secara hukum, maka korban penganiayaan harus segera melaporkan ke polisi.
’’Kami menunggu laporan dari korban dugaan penganiayaan,’’ ucap Kapolresta Tegal. (D12-55)