panel header


DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Semarang Metro
31 Oktober 2009
Waspadai Label Makanan Palsu
SEMARANG - Masyarakat harus hati-hati dalam memilih produk pangan. Tidak sedikit produsen mencantumkan nomor registrasi lawas yang sudah tidak berlaku, atau bahkan diindikasikan palsu.

Ike Ratna Palupi (24), karyawan swasta di Mangkang mengaku lebih yakin mengonsumsi produk pangan yang mencantumkan izin Departemen Kesehatan (Depkes) dan Balai Pengawas Produk Obat dan Makanan (BPOM).

Apalagi, belakangan sering terungkap sejumlah produk makanan yang masih menggunakan pengawet, pewarna, dan pemanis buatan.

Sayangnya, dia pernah dikecewakan saat mengonsumsi kudapan yang dibeli dari warung. Setelah memakan satu bungkus keripik belalang dalam kemasan plastik, yang dalam labelnya tercantum nomor registrasi dari Depkes, Ike langsung merasakan kepalanya pusing.

Badan dan kulitnya pun bentol-bentol.
’’Tadinya, saya yakin makanan itu aman untuk dikonsumsi, sebab label sudah tertera izin dari Depkes. Namun saya bersyukur, rasa gatal tidak tidak sampai parah, ’’ ujar dia, baru-baru ini.

Hal senada juga diungkapkan Putri Farida (23), warga Kelurahan Randusari. Ia pernah mengonsumsi kerupuk ikan rasa bawang udang. Padahal, dalam kemasan tersebut sudah jelas tercantum nomor registrasi.

Wanita yang pernah mengalami gatal-gatal serupa dengan Ike ini berharap instansi terkait, segera melakukan penertiban terhadap produk makanan dan minuman yang menggunakan nomor registrasi palsu.

PIRT Palsu

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dokter Tatik Suyarti mengatakan, tidak menampik sejumlah produsen makanan yang nakal. ’’Mereka acapkali mencantumkan nomor PIRT palsu,’’ kata dia.

Menurut dia, ada beberapa motif kasus sejenis. Pertama, kebanyakan mereka hanya mengejar keuntungan. Kedua, karena tak memenuhi syarat dari Dinkes, mereka tetap nekat memproduksi dan mengedarkan. ’’Tidak seharusnya produsen mencantumkan nama palsu. Meski biaya pemeriksaan makanan di laboratorium cukup mahal,’’ ujarnya.

Tatik menambahkan, produk makanan yang berlabel palsu biasanya tidak mencantumkan komposisi produk, nama dan alamat kurang lengkap, masa kadaluwarsa, jumlah nomor registrasi kurang.

Mengenai langkah antisipasi, pihaknya terus meningkatkan pembinaan dan penyuluhan serta mengawasi nomot PIRT. ’’Oleh sebab itu, saya mengimbau kepada konsumen untuk berhati-hati memilih produk makanan yang akan dikonsumsi,’’ harapnya. (K14-18) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER