Ada dinamika masyarakat yang menarik dicermati belakangan ini, khususnya setelah empat teroris, termasuk di dalamnya Noordin M Top tewas disergap Densus 88 di Solo.
Dinamika tersebut adalah munculnya dualisme sikap masyarakat terhadap pemakaman jenazah Urwah Cs tersebut di kampung halamannya.
Sikap pertama terwakili oleh warga setempat yang menolak kampungnya dijadikan pemakaman jenazah yang mereka anggap sebagai teroris, kaki tangan Noordin M Top. Mereka khawatir pemakaman di kampungnya akan memberi stigma atau cap sebagai kampung teroris.
” Kami tidak rela, hanya karena perilaku satu orang, kampung kami akan dicap sebagai kampung teroris, seumur-umur. Kasihan anak cucu kami. ” Begitu kira-kira alasan warga.
Sementara kelompok yang lain, dengan semangat, bahkan terang-terangan akan membela keluarga Urwah Cs untuk bisa menguburkan kerabatnya di kampungnya.
Alasan yang mereka pakai dengan latar belakang tuntutan agama, yaitu kewajiban sesama muslim untuk memberi penghormatan jenazah sesama muslim.
Saya bukan berada dalam kepentingan salah satu kelompok tersebut. Namun, saya mencematinya sebagai sebuah fenomena sosial, yaitu bahwa masyarakat pada eskalasi dan keadaan tertentu, secara reflek akan menjatuhkan sanksi kepada warga yang dinilainya telah berbuat antisosial.
Masyarakat tanpa disuruh, tanpa didorong-dorong, tanpa dipengaruhi bisa berkesimpulan perlu atau tidak perlunya bersikap. Ini yang saya maksudkan sebagai bentuk refleks tadi.
Hal ini sangat memungkinkan berlaku juga pada hal lain sekiranya secara emosional dan perasaan menyentuh nilai-nilai dalam masyarakat.
Lewat forum ini, saya hanya berharap adanya nilai-nilai kompromi dalam menyikapi perbedaan pendapat tadi. Jangan sampai, perbedaan sikap justru melahirkan perilaku kontraproduktif yang justru memunculkan masalah baru. Jangan sampai karena merasa kelompoknya benar, berbuat pemaksaaan kehendak alias berbuat anarkhis.
Duduk berhadapan dan cari solusi. Jangan sampai kita cerai berai, menebar permusuhan hanya karena selalu mengedepankan prinsip seakan-akan pendapat kita yang paling benar.
Hal ini juga yang menjadi inti ajakan Suara Merdeka pada Tajuk Rencana edisi 25/09, yaitu perlunya membangun nilai-nilai kompromi atas permasalahan tadi.
Herie Purwanto, SH
KBO Sat Reskrim Polresta Pekalongan
Email : herie_purwanto@plasa.com (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad