Wacana
09 Oktober 2009
Di Balik Politik Nuklir Iran
Karena merasa terus-menerus dipojokkan dan diperlakukan tidak adil, akhirnya militer Iran dari pasukan pengawal revolusi (Pasdaran) nekat melakukan uji coba rudal selama dua hari (27-28/9). Hari pertama uji coba rudal jarak pendek Tondar-69 (150 km), Fateh-110 (200 km) dan Zelzal (400 km). Juga diuji coba rudal jarak menengah Shahab-1 (500 km) dan Shahab-2 (700 km). Namun pada hari kedua ada rudal jarak jauh Shahab-3 dan Sajjil yang masing-masing berjarak jangkau 2.000 km dan mampu membawa hulu ledak nuklir. Uji coba rudal juga dilakukan berkenaan akan adanya pembicaraan program nuklir antara Iran dan keenam negara besar di Geneva, Swiss awal bulan ini.
Memang selama ini Iran selalu menjadi sorotan dunia internasional berkenaan dengan program nuklirnya. Meskipun pemerintah Teheran menegaskan program nuklirnya untuk tujuan damai, namun Barat dan Israel tidak percaya begitu saja. Apalagi setelah Teheran membangun pusat pengayaan uranium (reaktor nuklir) bawah tanah pertama di Nathans dan kedua di dekat Qom. Dengan kedua reaktor nuklir itu, tinggal selangkah lagi Teheran untuk berkemampuan membuat bom nuklir. Apalagi Iran sudah memiliki alat pelontarnya rudal Shahab-3 dan Sajjil yang mampu menjangkau seluruh wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia.
Israel di bawah PM Netanyahu sangat berkepentingan dengan berakhirnya program nuklir Iran sebagaimana program nuklir Libia. Apalagi sebelum menjabat PM Israel awal tahun ini, Netanyahu selama ini dikenal sebagai ”Mr Iran” karena sejak lama selalu menyatakan akan ”melakukan apa pun yang dianggap penting” untuk menghentikan program nuklir Iran. Masalah nuklir Iran jelas menjadi isu penting bagi pemerintahan Netanyahu, yang menginginkan agar melakukan pilihan militer melalui proxy (tangan) Amerika, yang sekarang di bawah pemerintah Presiden Barack Obama. Skenario ”Irak Kedua” mungkin menjadi pilihan bagi menyelesaikan program nuklir Iran, yang tampaknya juga menjadi pilihan Netanyahu.
Perang Timur Tengah?
Karena dikenal sebagai Mr Iran, maka fokus utama kebijakan luar negeri Israel di bawah PM Netanyahu adalah mengakhiri program nuklir Iran. Ini dianggap sebagai ancaman berbahaya dan nyata bagi negara Yahudi tersebut. Cara apa pun akan ditempuh Israel, termasuk melakukan serangan militer ke Iran, baik sendirian maupun dengan bantuan AS menggunakan pesawat tempur F-15 dan F-16. Serangan ke Iran juga bisa dilakukan dengan rudal nuklir Israel Jericho-1 dan Jericho-2 yang berdaya jangkau 2.000 km atau menggunakan rudal dari kapal selam yang sekarang sudah mendekati perairan Teluk Persia ataupun serangan kombinasi dari ketiganya.
Meski pernah sukses menyerang reaktor nuklir Irak di dekat Baghdad (1981) dan bangunan yang diduga reaktor nuklir Suriah di dekat Damaskus (2007), namun tidak menjamin Israel akan sukses jika menyerang fasilitas nuklir Iran. Sebab negara para mullah itu diduga memiliki banyak fasilitas nuklir rahasia yang terletak jauh di bawah tanah selain di Nathans dan Qom, sehingga sulit untuk dihancurkan meski dengan bom penghancur bungker. Target utama serangan Israel ke Iran adalah fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Qom serta reaktor Air Berat di Arak, juga pusat produkasi bahan bakar nuklir di Isfahan dan Busher.
Namun bukannya tanpa risiko berat jika para pemimpin zionis nekat melakukan serangan militer ke Iran. Jenderal Muhammad Ali Ja’fari, Panglima Komando Pasukan Pengawal Revolusi Iran (Pasdaran), mengancam akan melakukan serangan balik dengan menghancurkan reaktor nuklir Israel di Dimona jika Israel menyerang reaktor nuklir Iran. Ancaman Panglima Pasdaran itu bukan hanya gertak sambal, sebab Iran telah memiliki rudal Shahab-3 yang mampu menjangkau seluruh wilayah Israel termasuk Gurun Negev ketika reaktor nuklir Dimona berada.
Ancaman Jenderal Ali Ja’fari itu jelas tidak dapat dianggap enteng Menhan Israel Jenderal Ehud Barack, yang menyebutkan Iran sebagai ancaman potensial bagi Israel. Apalagi setelah awal tahun ini Iran berhasil meluncurkan satelit mata-mata yang mampu mengamati seluruh wilayah Israel termasuk berbagai lokasi strategis tempat penyimpanan rudal nuklir Israel di Gurun Negev, yang diperkirakan berjumlah 300-400 buah ketika Israel satu-satunya negara nuklir di Timur Tengah. Meski Israel memiliki rudal Patriot dari AS untuk mencegat rudal Shahab-3, namun Iran dengan bantuan Rusia telah mampu membangun sistem pertahanan untuk mengecoh Patriot, sehingga kemungkinan Patriot berhasil mencegah serangan Shahab-3 sangatlah minim.
Tidak hanya berbagai fasilitas nuklir Israel menjadi incaran rudal maut Iran, tetapi juga kawasan kota padat penduduk seperti Tel Aviv, Jerusalem Barat, Bersheba dan Askhelon, Kiryat Shimona beresiko digempur. Iran baru akan melakukan serangan balasan ke berbagai kota Israel, jika korban sipil di pihaknya cukup besar. Sebab diprediksi 10 ribu rakyat sipil Iran akan tewas sebagai dampak dari serangan Israel terhadap berbagai fasilitas nuklirnya. Jika Israel membalasnya dengan melakukan serangan nuklir ke Iran karena tidak memiliki rudal nuklir maka Iran akan membalas dengan melakukan serangan biologi dan kimia ke berbagai kota besar Israel. Dengan demikian korban besar rakyat sipil akan berjatuhan di kedua belah pihak.
Maka sangatlah tepat, pascakunjungan Netanyahu ke Washinton untuk bertemu Presiden Barack Obama awal Juni lalu, mantan Menlu Israel Shlomo Ben-Ami mengatakan sebenarnya telah terjadi keretakan hubungan antara AS dan Israel karena masalah Iran. Sebab Netanyahu selalu memiliki tekad yang sangat mendalam untuk mencegah Iran memperoleh jalan untuk menghancurkan Israel.
Netanyahu mungkin bersedia menerima perubahan mendasar dalam posisinya mengenai Palestina asal Presiden Barack Obama mencapai kemajuan yang nyata dalam upaya menghentikan program nuklir Iran. Sebab dalam pandangan Netanyahu, masalah Palestina tidak akan menghapus ancaman dari Iran. Sebaliknya justru menjadi netral perihal ancaman terhadap eksistensi Israel itu yang bakal membuka jalan terbentuknya negara Palestina.
Sesungguhnya mudah untuk menghentikan program nuklir Iran, yakni wilayah Timur Tengah harus bebas dari senjata nuklir. Kalau sekarang Israel satu-satunya negara di Timteng yang memiliki senjata nuklir, maka IAEA dan DK PBB harus melucutinya. Namun sebagai kompensasinya, Iran harus menghentikan seluruh program nuklirnya. Ini baru suatu keadilan dari politik standar ganda yang selalu diperlihatkan Barat terhadap Iran.
Tampaknya Presiden Iran Mahmoud Ahmadinedjad pantang mundur dengan segala risiko apapun mengenai program nuklir negaranya selama program senjata nuklir Israel masih terus berlangsung dengan bantuan AS, Inggris dan Perancis sehingga menjadi ancaman riil bagi Timur Tengah. Kalau masih adanya ketidakadilan seperti sekarang terhadap Iran, mungkinkah akan kembali terjadi perang Timur Tengah yang baru? (80)
—Dr Tjipto Subadi MSi, dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta