Sebagai jantung kota Semarang, Simpanglima menjadi tempat jujugan warga setempat maupun para pelancong. Selain letaknya yang strategis, kawasan tersebut juga sebagai sentra bisnis dan hiburan.
Banyaknya mal yang berdiri di sekitar kawasan tersebut menjadi salah satu alasan yang mendominasi pengunjung mendatangi Simpanglima.
Sebut saja Ciputra, Matahari Departement Store, dan tak ketinggalan pula Ramayana Shoping Center. Maraknya bisnis perhotelan yang berlokasi di kawasan Simpanglima juga menambah padat suasana.
Mulai dari Hotel Ciputra, Hotel Horison, Hotel Santika, Hotel Pandanaran dan yang baru-baru ini berdiri, yaitu Hotel Ibis.
Tak heran jika akhir pekan atau masa liburan tiba Simpanglima bagai pusara yang mampu menyedot banyak orang untuk menghabiskan waktu di sana.
Sekadar hangout atau menikmati suasana jantung kota bersama teman, kekasih maupun keluarga, ataupun karena memang ada keperluan bisnis, sehingga memilih Simpanglima sebagai alternatif.
Banyaknya pengunjung yang mendatangi Simpanglima, tentu mengakibatkan banyaknya pula jumlah kendaraan yang menuju kawasan tersebut.
Sehingga keadaan seperti ini sering menimbulkan kemacetan. Berbagai upaya disiasati oleh pihak kepolisian lalu lintas untuk dapat mengurai kemacetan di sekitar kawasan Simpanglima.
Mulai dari penutupan jalan, pemberlakuan sistem satu arah, serta penempatan personil kepolisian di kawasan tersebut untuk terjun langsung guna mengatur kelancaran lalu lintas.
Di samping itu, kehadiran pedagang kaki lima (PKL) membuat suasana makin crowded. Para penjual menjajakan dagangannya di sekitar bundaran Simpanglima. Berbagai barang kebutuhan dapat kita jumpai di sana.
Seperti kebutuhan sandang, penghias rumah, kuliner hingga binatang peliharaan juga dapat kita temukan. Simpanglima seperti pasar dadakan.
Ganggu Kenyamanan
Belum lagi jika pengunjung hendak menikmati sajian kuliner di kawasan Simpanglima, pasti akan disambangi oleh para pengamen.
Namun ironisnya kehadiran para pengamen dirasa mengganggu kenyamanan pengunjung. Betapa tidak, makanan belum datang pengamen sudah duluan datang. Yang satu pergi, datang pengamen yang lain. Bukannya menghibur pengunjung, malah bikin tidak betah pengunjung.
Coba kita amati lagi, Simpanglima jadi kehilangan kecantikannya. Pasalnya Simpanglima dibanjiri baliho atau spanduk yang bersifat komersil.
Suasana makin semrawut, tidak enak dipandang, dan kaku. Image Simpanglima sebagai kawasan bisnis begitu kuat melekat. Fungsinya sebagai ruang terbuka publik yang nyaman kian pudar.
Kenyataan ini akan berbanding terbalik, jika kita berada di kota Purwokerto. Penulis membandingkan antara Simpanglima dengan Alun-alun Purwokerto. Keduanya sama-sama berbentuk bundaran sebagai ruang terbuka publik dan dekat dengan masjid.
Namun perbedaan akan terlihat jelas . Mari kita amati mulai dari rumputnya, Alun-alun Purwokerto memiliki rumput yang lebih hijau dan tertata rapi. Jika kita melepas alas kaki serasa menginjak karpet.
Di sana banyak pengunjung yang duduk-duduk atau lesehan, berdiri dan lari-lari bahkan tak canggung untuk rebahan karena saking nyamannya. Selain itu, penerangannya juga bagus. Beberapa lampu memberikan sinarnya dengan terang di sepanjang bundaran.
Tidak ada PKL yang berjubel menjajakan dagangannya di sekitar alun-alun, sehingga kebersihan lingkungan selalu terjaga. Di Alun-alun Purwokerto terdapat satu videotron yang berdiri di salah satu sisinya.
Cukup satu, namun berfungsi secara optimal. Yang bisa membuat kita iri, arus lalu lintasnya lancar dan teratur. Kendaraan bagi para pengunjung Alun-alun Purwokerto ditata rapi di sepanjang bundaran.
Ketika penulis berada di sana, para pengunjung larut dalam nyamannya suasana. Ada kelompok mahasiswa atau pelajar yang mendiskusikan suatu isu dengan santai namun tetap fokus pada bahan diskusinya.
Ada juga keluarga yang bercengkerama dengan hangatnya di tengah-tengah alun-alun, ada pasangan muda-mudi yang asyik menikmati indahnya suasana alun-alun di malam hari. Acap kali pengunjung berfoto-foto ria mengabadikan momen yang indah.
Membuat Hidup Suasana
Tak hanya itu, toko-toko di pinggir jalan alun-alun Purwokerto kian membuat hidup suasana. Selain dekat dengan masjid, juga ada kantor Bupati Banyumas yang melengkapi fungsi alon-alon.
Karena terdapat tempat ibadah, kantor pemerintahan, serta pertokoan. Alun-alun Purwokerto seakan menampakkan ruhnya. Ruh sebagai alun-alun yang asri, nyaman dan memiliki kharisma tersendiri.
Sejogyanya Simpanglima bisa mencontoh dari Alun-alun Purwokerto. Masyarakat yang berkunjung ke sana merasakan nyaman, betah dan memiliki cerita bagus untuk di-gethoktularkan (disebarkan dari mulut ke mulut- red) sehingga mempunyai ”nilai jual” yang tinggi di kalangan para pelancong dan penikmat suasana tradisional yang lekat dengan keasrian dan keteraturan. Jika itu dapat terwujud, kita sebagai warga Kota Semarang akan merasa bangga tentunya.
Relokasikan dan tata para PKL yang menjajakan dagangan di bundaran Simpanglima ke zona khusus PKL di kawasan tersebut. Berlakukan slogan Go Green untuk Simpanglima agar lebih asri, sehat, dan nyaman. Serta yang perlu dipikirkan lagi adalah soal kemacetan lalu lintas di kawasan Simpanglima.
Kerja samalah dengan jajaran kepolisian lalu lintas untuk mencari solusi guna memecahkan masalah ini. Misalnya, disediakan lahan parkir yang memadai atau gedung - gedung parkir bertingkat dalam jumlah yang cukup di sekitar Simpanglima.
Dengan demikian parkir kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil tidak memenuhi jalan-jalan di seputar Simpanglima. Semoga harapan mewujudkan Simpanglima yang nyaman akan menjadi nyata. (80)
—Tafrida Tsurayya, warga Kota Semarang
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad