Samoa Amerika didera tsunami, yang menimbulkan kerusakan mirip badai katrina di Amerika Serikat pada 2005. Tsunami di kawasan Pasifik Selatan, awal pekan lalu itu mencapai setinggi 7,5 meter, dipicu oleh gempa bawah laut berkekuatan hingga 8,0 skala Richter. Korban tewas mencapai tidak kurang dari180 orang di Samoa dan Tonga. Sementara itu, wilayah utara Filipina terendam banjir setelah diterjang topan parma. Di India, banjir bandang menewaskan sedikitnya 207 orang selama lima hari kemarin.
Bagaimana kita membaca bencana alam besar di berbagai wilayah dunia itu? Ekstremitas, ya ekstremitas cuacalah yang kini sangat kita rasakan. Betapa cepat perubahan itu terjadi, dari kekeringan ke banjir dan segala jenis dampak hujan besar. Perubahan radikal musim merupakan gejala yang terasakan dalam beberapa tahun terakhir. Hujan mendadak, lalu banjir bandang. Atau musim kering yang tiba terlalu cepat. Juga amukan alam yang bersifat terjangan secara tiba-tiba seperti tsunami dan gempa bumi.
Tema tentang perubahan iklim menjadi bahan diskusi dunia yang seperti menciptakan tarik ulur. Yakni antara realitas makin menipisnya sumberdaya alam untuk mencegah percepatan ketimpangan ekologi, dengan ketidakterkendalian eksploitasi sumber-sumber alam untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat ekonomi. Kampanye pelestarian dengan penggaungan gerakan penghijauan kembali dan menjaga kehijauan di berbagai belahan dunia kiranya menggambarkan keprihatinan yang kini melanda masyarakat dunia.
Mitigasi dan gerakan adaptasi iklim merupakan jawaban, ketika disadari laju kerusakan itu makin tak terbendung. Negara-negara besar, dengan kekuatan teknologinya, dituntut bertanggung jawab dalam gerakan pengendalian agar sumberdaya alam itu masih mampu menjembatani kebutuhan menyeimbangkan ekologi. Negara-negara miskin dan berkembang membutuhkan bantuan teknologi dari negara maju itu untuk melakukan mitigasi dan adaptasi iklim, sehingga tidak mempercepat laju kerusakan lingkungan.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Jawa Tengah Arief Zayyin, dalam sebuah kertas kerjanya pada 2007 memaparkan, dampak pemanasan global yang sekarang sudah dirasakan adalah meningkatnya intensitas hujan, banjir, dan badai. Lalu mencairnya es dan glasier di kawasan kutub, naiknya permukaan air laut yang berakibat tingginya air pasang atau rob, juga meningkatnya luas tanah kering yang berpotensi menjadi gurun tandus. Air bawah tanah juga makin turun, dan itu bisa mengakibatkan krisis air bersih.
Perubahan-perubahan radikal itu kini telah terbukti dengan intensitas bencana di berbagai belahan dunia. Maka selain keadilan iklim yang harus terus diperjuangkan, kita butuh strategi mitigasi dan adaptasi dengan keseimbangan dalam tindakan oleh negara-negara maju dan negara miskin/ berkembang. Strategi pembangunan harus diarahkan agar mampu hidup di tengah dampak perubahan iklim dan anomali gangguan cuaca. Negara maju tidak boleh menutup mata terhadap bencana-bencana yang sekarang terjadi. (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad