MESKIPUN di gerbang jalan Desa Truko telah di beri penanda ’’Sentra Industri Tas Kendal (Sintak)’’, banyak yang tidak tahu kalau di Dukuh Krajan, Desa Truko, Kangkung, Kendal terdapat belasan industri rumahan kerajinan tas.
Usaha menjadikan Desa Truko sebagai sentra industri tas di mulai ketika bangsa Indonesia mengalami krisis multidimensi 1997.
Sejumlah pemuda warga Dukuh Krajan, bedhol desa merantau ke Jakarta. Di ibu kota, mereka menjadi tenaga pemasaran beberapa pabrik. Tanpa mereka rencanakan, semuanya adalah pabrik tas.
Ketika mereka memutuskan kembali ke desa, keterbatasan modal bukanlah kendala. Ilmu, keberanian, kegigihan, pengalaman, dan kejelian melihat peluang, merupakan kunci sukses berwirausaha.
Lihatlah kisah sukses Muslikhan (45). Muslikhan harus bekerja keras. Malam hari dia dan seorang tenaga kerjanya membuat tas. Pada siang hari, dia memasarkan produknya ke toko-toko dan konsumen langsung.
Saat ini, usahanya telah memiliki delapan belas pekerja. Hebatnya lagi, hampir seluruh kota di Jawa, seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Tegal, Brebes, bahkan beberapa kota di luar Jawa, misalnya Manado, NTT, dan Banjarmasin, kini telah dirambahnya.
Di Truko, ada belasan perajin tas sekelas Muslikhan. Rata-rata, setiap pengusaha mampu memproduksi sebanyak 2.400 buah/hari.
Dalam sebulan minimal memproduksi 72.000 tas.
Betul, pada umumnya merupakan usaha dalam skala industri kecil.
Tiap pengusaha umumnya memiliki karyawan sebanyak 10 sampai 20 pengrajin yang ahli dalam pembuatan berbagai macam produk.
Para pengrajin Truko tidak menspesialisasikan produknya hanya pada satu macam tas saja. Hampir semua produk tas bisa dibuat di sentra industri ini.
Subkontrak
Industri rumahan tas Truko sesungguhnya merupakan salah satu ikon industri unggulan kabupaten Kendal. Sangat disayangkan, tas yang peredarannya meliputi hampir seluruh Indonesia ini masih ”mendompleng” brand orang lain.
Dan tentu saja pemasaran produk ini dengan menggunakan merk si pemesan tersebut. Hal ini merugikan karena nama Truko akan sulit untuk dikenal serta hilangnya value added yang seharusnya bisa dinikmati para pengrajin tas.
Perajin tas Truko terbiasa menerima order subkontrak dari perusahaan besar. Pikiran mereka sederhana: yang penting modal cepat kembali.
Padahal, implikasi lain dari hubungan subkontrak adalah kecenderungan terbentuknya hubungan monopoli dan monopsoni, yakni hubungan di mana kontraktor (prinsipil), menguasai subkontraktor, baik dalam penentuan harga maupun penguasaan atas pembelian produk yang dihasilkan. Terutama pada penyediaan bahan baku dan pemasaran.
Inilah kenapa, untuk mengatasi hal itu perlu segera diambil langkah-langkah konprehensif yang melibatkan seluruh stakeholder. Melalui langkah itu diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi kebijakan yang diperlukan untuk pengembangan industri tas Truko.
Misalnya menyangkut rumusan aspek sumber daya manusia, teknik produksi, penyediaan bahan baku dan permodalan, langkah pemasaran, serta kelembagaannya.
Keterbatasan Modal
Permasalahan ini akan bisa teratasi jika ada pihak yang bisa mempertemukan langsung antara produsen tas kulit dengan pasar luar negeri serta mempromosikan produknya dengan merk sendiri.
Untuk meningkatkan kapasitas produksi, diperlukan mesin-mesin yang lebih canggih yang mampu digunakan untuk produksi dalam jumlah massal. Mesin-mesin ini diperlukan untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar yang seringkali mendadak.
Inilah kenapa, mereka menunggu ’’pembinaan’’ dari Dinas Koperasi, terutama sisi permodalan. Selama ini pembiayaan bank hanya untuk modal kerja, sedangkan untuk investasi para pengusaha menggunakan modal sendiri. Hal ini terjadi karena masih sulitnya untuk meminjam kredit investasi dari bank.
Pihak bank pun terkesan sangat hati-hati untuk memberikan kredit investasi bagi pengusaha kecil. Kredit investasi baru akan diberikan jika pengusaha memiliki agunan yang memadai dan pihak bank mengenal dengan baik karakter pengusaha tersebut.
Boleh jadi, kalau Dinas Koperasi ”berani” menggelontorkan bantuan modal, usaha ini bakal mengalami kenaikan status dari home industri menjadi kawas-an industri bersekala CV maupun PT.
Percayalah, produk tas Truko saat ini masih memiliki peluang pasar yang sangat luas. Untuk menciptakan peluang-peluang pasar yang baru, para pengrajin di Truko juga sering mengadakan acara yang bertujuan untuk memperkenalkan produknya pada konsumen.
Ada promosi secara langsung menggunakan brosur, mengadakan pameran bersama, atau melalui bursa pasar murah produk Truko seperti mengikuti Jateng Fair dan juga pameran belanja dalam rangka memperingati hari-hari nasional seperti hari kemerdekaan atau hari jadi Kota Kendal. (80)
—Joko Suprayoga, PNS di Pemkab Kendal (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad