Selang sepekan setelah retorika panas dan saling ancam antara Iran dan Barat soal program nuklir Iran, kedua belah pihak kembali ke meja perundingan di Jenewa, Swiss. Perundingan enam negara besar dunia dan Iran tersebut merupakan yang pertama dalam 15 bulan terakhir ini menyangkut sengketa nuklir tersebut. Sejak Juli 2008, Iran selalu dalam posisi menolak pertemuan, karena tidak bersedia diintimidasi Barat. Teheran hanya bersepakat untuk bertemu apabila dialog berlangsung tanpa prasyarat.
Karena itu, berlangsungnya perundingan tersebut merupakan langkah maju saat krisis sengketa nuklir itu memanas. Pihak Barat pun mengakui pertemuan itu merupakan keterlibatan Iran semenjak sikap bungkam setahun lebih. Pertemuan di Jenewa juga menghasilkan kesepakatan para pejabat dari Amerika Serikat, Rusia, Prancis, dan Iran untuk melakukan perundingan babak kedua di Wina, 19 Oktober mendatang. Jelas sekali hasil itu merupakan isyarat keterbukaan dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan sengketa.
Sikap terbuka itu ditunjukkan dengan kesediaan Teheran menerima kehadiran tim inspeksi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Dari perundingan itu, tercapai kesepahaman tim inspeksi nuklir PBB akan mengunjungi fasilitas pengayaan uranium baru di dekat kota suci Qom, 25 Oktober mendatang. Kabar mengenai reaktor baru itulah yang memicu babak panas isu nuklir. Dengan kunjungan itu, Iran hendak menunjukkan kepada Barat dan dunia bahwa tidak ada hal yang perlu disembunyikan dengan kehadiran reaktor baru tersebut.
Iran juga untuk sementara setuju mengirim sejumlah cadangan uranium yang diperkaya dalam standar rendah (LEU) ke Rusia untuk diproses menjadi bahan bakar di reaktor riset yang diawasi oleh tim internasional. Dengan demikian, ditepis pula tuduhan bahwa proses pengayaan uranium di Iran bertujuan untuk menghasilkan bahan bom nuklir, seperti dikhawatirkan Amerika dan Barat selama ini. Keputusan tersebut tentu bernilai positif, dan dapat membantu mengurangi ketegangan serta kecurigaan pihak Barat.
Bisa kita simpulkan, perundingan tersebut membuka jalan ke arah penyelesaian dialogis. Dapat dikatakan, Iran telah memberikan kejutan dengan secara cantik mengubah nada ketegangan dan provokasi ke meja perundingan yang memunculkan semangat keterbukaan. Ini sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ditunjukkan Israel. Negara Yahudi itu ternyata memiliki reaktor yang sudah menghasilkan tidak kurang dari 200 hulu ledak nuklir, dan sampai kini tidak tersentuh oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Dengan demikian, komunitas internasional sesungguhnya bisa menilai dengan gamblang pihak mana yang mendukung transparansi dan proliferasi nuklir, dan siapa yang memilih tertutup serta diam-diam menimbun senjata pemusnah massal itu. Bukan itu saja, Israel juga menyulut kemarahan dengan menutup kompleks Masjid Al-Aqsa, situs suci yang seharusnya terbuka untuk publik. Dengan sukses negosiasi Iran tersebut, arah selanjutnya tergantung pada keberanian bangsa-bangsa untuk mengisolasi standar ganda Amerika.
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad