panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
07 Oktober 2009
Gagasan
Ganti Rugi untuk Para Pejuang Kemerdekaan
Surat Pembaca di Suara Merdeka,  2 Agustus 2009 halaman 7 pada hari Minggu Pahing yang ditulis Bung Sudarjo, Jl. S. Parman no. 61 Purwokerto telah saya baca berulang kali.
Mengapa begitu ?

Mirip senasib dan seperjuangan yang telah saya alami pada waktu kemerdekaan diproklamasikan pada tahun 1945. Waktu itu saya masih muda, ikut bergabung dengan barisan Angkatan 45. Turut  menyerbu markas tentara Jepang/Nippon ”Ken Pe Thai” yang terkenal sangat ganas dan kejam.

Hari dan tanggalnya lupa, sekitar pukul delapan pagi. Ribuan rakyat tua - muda bersenjata seperti tombak, keris, bambu runcing.

Begitu juga bekas tentara Peta dan pasukan Polisi Khe Satsu Thai, bekas polisi Nippon yang diubah menjadi Pasukan Polisi Istimewa. Membawa karaben dan mitraliyur kecil. Karaben yang waktu itu berlaras panjang, barangkali sudah masuk gudang/museum.

Penyerbuan menyerang tentara ”Dai Nippon” di markasnya di Pati diilhami para pejuang yang gagah berani di Semarang,yang  disebut Pertempuran Lima Hari di Semarang. 

Menyerang tentara ”Nippon Kidho Buthai” yang tak mau dilucuti bermarkas di daerah Jatingaleh. Korban berjatuhan tua muda, termasuk dokter Kariadi yang sekarang namanya diabadikan di Rumah Sakit Semarang.

Tentara Nippon di Pati akhirnya menyerah total setelah diserbu. Mereka ditahan sementara di kantor CPM yang sekarang. Akhirnya dipindahkan di bui atau lembaga pemasyarakatan di Pati.

Berkecamuknya Perang Lima Hari di Semarang, timbul gagasan Pejuang Angkatan-45 membalas dendam tentara Nippon. Diambil satu dari penjara di Pati, mata tertutup rapat, tangan diikat di belakang pinggang, dinaikkan ke mobil kecil berwarna abu-abu.

Kalau tidak salah ingat namanya mobil Fiat. Dibawa ke timur di sebuah kuburan di depan pabrik kapuk (sekarang pabriknya sudah tidak ada), dihabisi nyawanya dari belakang oleh Bung Yasir dengan pedang samurai.

Bung Yasir adalah bekas tentara Peta di Blitar. Entah di mana beliau sekarang. Sudah 75 tahun tidak pernah bertemu. Karena hujan gerimis, kami lalu pulang ke rumah masing-masing.

Kawan-kawan seperjuangan, sekarang jarang saya temui. Entah di mana mereka berada. Mungkin karena usia sudah lanjut, barangkali sudah menghadap Sang Chalik. Saya dengar dari seorang kawan sudah ada yang meninggal di Padalarang dengan berpangkat kapten.

Setahun sebelum pindah ke Pekalongan, saya sering bertemu  seorang kawan. Dia sering ke rumah saya di Pati. Rajin berkunjung, tapi badannya sakit strok. Kalau berjalan pakai tongkat, pangkatnya mayor PHB. Tujuh tahun setelah  di Kota Pekalongan tidak pernah surat-menyurat.

Yang saya herankan, sudah merdeka 64 tahun kok tidak ada pemikiran memberi ganti uang lelah sebulan satu juta rupiah kepada kami. Padahal usia saya sudah 86 tahun. Tunggu apa lagi? Mengapa tidak ada yang memperjuangkan? Di dunia ini tidak ada rasa keadilan. Saya percaya itu!

Tiap 17 Agustus, waktu saya di Pati tentu mendapat undangan mengikuti upacara bendera tujuh belasan. Duduk di bawah tenda bersama para pejabat teras.

Malamnya makan bersama di pendopo kabupaten diselingi hiburan.  Tapi di Pekalongan? Tak apalah tidak ikut upacara, karena usia sudah sangat lanjut. Sekian menanggapi tulisan Bung Sudarjo, Jl. S. Parman no. 61 Purwokerto. Terima kasih.

Toechaeri Afandhy
 Jl. Damar Raya No. 164 RT. 04 - RW. 10 Perum Slamaran, Pekalongan - 51124
Telpon 0285-420481 (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER