Mendengar nama Kampung Sewu di Kota Solo, mungkin yang terlintas di pikiran adalah ‘’kampung banjir’’. Letaknya di pinggiran Bengawan Solo memungkinkan ia terkena banjir saat hujan deras dan air sungai meluap. Namun siapa menyangka jika kampung tersebut menyimpan potensi wisata.
Kawasan ini memiliki persyaratan untuk menjadi magnet dan pilihan alternatif wisata di Kota Solo dengan aset khas sejarah dan budaya.
Perlu diketahui, Kampung Sewu merupakan suatu daerah yang memunyai sejarah yang amat lekat dengan masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Keraton Kasunanan Solo, terutama terhadap aktivitas perekonomian rakyat lewat jalur perdagangan.
Pada masa lalu, sekitar abad XVIII saat lalu lintas perdagangan masih melalui jalur sungai, di kawasan ini dibangun dua dermaga sungai, tepatnya di Putat dan Beton. Ini menjadikan Kampung Sewu menjadi urat nadi perekonomian Kota Solo karena memang letaknya yang tidak jauh dari pusat kota (Balai Kota Solo).
Dalam sejarah Pelabuhan Beton merupakan salah satu dermaga ke-43 dari dari titik-titik dermaga mulai dari Surabaya,
Bojonegoro, Ngawi, Sragen hingga terakhir Sukoharjo. Bahkan Pelabuhan Beton mulai difungsikan sejak zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad XIV saat pusat Kerajaan Majapahit berada di Mojokerto.
Sayang tanda-tanda yang menunjukkan Beton sebagai sebuah dermaga atau pelabuhan hampir sudah tidak ada (sebuah langgar kuno dan batu tempat singgah yang digunakan oleh Pangeran Mangkubumi I), karena sebagian besar sudah hilang karena proses alam (abrasi, terkikis aliran sungai).
Namun, kini di tanah bantaran yang tersisa dibekas Pelabuhan Beton telah dipercantik dengan penataan taman dan pembuatan relief batu besar juga telah dibuat sebuah prasasti yang menyebutkan atau menandakan bahwa Pelabuhan Beton dulu pernah ada di kawasan tersebut.
Menjanjikan
Hal ini tentu amat menjanjikannya sebaga wisata sejarah. Untuk penciptaan keramaian kawasan ini dapat pula diadakan Festival Gethek Bengawan dan alangkah lebih baik bila disediakan perahu atau sampan untuk pengunjung yang ingin menikmati secara langsung berlayar di Sungai Bengawan Solo.
Selain itu, di Kampung Sewu ini juga terdapat banyak situs peninggalan sejarah dan beragam ritual dapat masyarakat yang unik dan layak dijual sebagai salah satu konsumsi wisatawan di antaranya adalah Pohon Pamrih dan acara ritual Apem Sewu serta bangunan-bangunan kuno lainnya. Konon Pohon Pamrih adalah sebuah pohon jelmaan dari tongkat milik Sultan Hamengku Buwono I.
Sementara kalangan sejarawan dan tokoh masyarakat Sewu mengatakan kata ”Pamrih” yang menjadi nama pohon tersebut merupakan tempat yang dipergunakan sebagai tempat tirakat, petilasan atau pertapaan oleh Pangeran Mangkubumi sebelum mendapat gelar Raja dan bergelar Sultan Hamengku Buwono I tatkala memperkuat iman dan mentalnya dalam perjuangan menghadapi penjajah Belanda. Pamrih merupakan situs sejarah yang memiliki makna penting sebagai salah satu objek wisata budaya.
Acara rital Apem Sewu pun tak kalah menarik. Tradisi Apem Sewu ini berangkat dari pesan yang disampaikan oleh seorang ulama penyebar syiar agama Islam bernama Ki Ageng Gribig yang berpesan kepada seluruh warga untuk membuat dan membagi-bagikan kue apem sebanyak 1.000 buah.
Pembagian Apem Sewu ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas karunia dari Allah setelah masyarakat di Wilayah Beton terhindar dari sebuah bencana wabah penyakit (pageblug). Hal ini kemudian menjadi tradisi dan dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu yang hingga sekarang tetap diletarikan, khususnya setiap tanggal 19 Dzulhijah.
Apabila acara ritual Apem Sewu dapat dikembangkan dan dikemas semakin menarik tentu akan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat di luar Kampung Sewu terutama simpati dari para wisatawan domestik dan asing. Apalagi ditambah dalam ritual Apem Sewu sangat kental akan nuansa tradisional yang dibawanya.
Ritual ini di awali dengan Kirab Budaya sebagai salah satu mata rantai acara ritual Apem Sewu dimana semua peserta menggunakan pakaian adat Solo bahkan tipe pasukan keraton juga dilibatkan.
Peristiwa penyerahan bahan makanan (Uba Rampe) pembuat kue Apem dari tokoh pemimpin masyarakat (Wali Kota) kepada warga sesepuh Kampung Sewu adalah momentum untuk mengawali pembuatan ritual apem sebanyak 1000 buah.
Dalam prosesi ini bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Jawa. Nuansa Jawa yang disampaikan dalam kirab budaya ini tentu tidak lain juga berfungsi untuk melestarikan dan mengangkat pamor Kota Solo sebagai Kota Budaya.
Dikelola
Karena itu, apabila berbagai kemasan wisata di Kampung Sewu tersebut dapat dikelola dengan baik tentu akan menjadi nilai positif tersendiri bagi Pemkot Solo yakni sebagai salah satu alternatif kawasan wisata di Solo.
Untuk mewujudkan semua itu tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak terutama butuh dukungan nyata dari Pemkot Solo.
Pemkot Solo harus mampu bersinergis dengan warga setempat dalam mengoptimalkan potensi Kampung Sewu dimana tentunya akan mampu mendorong peningkatan lapangan kerja yang memadai dan dapat menopang pendapatan asli daerah (PAD).
Menurut penulis dibutuhkan berbagai langkah-langkah baik itu dari sisi peningkatan sarana dan prasarana seperti lokasi parkir, perbaikan jalan serta kios-kios bagi penjual souvenir perlu dibangun agar dukungan masyarakat dengan menjual cinderamata bisa terealisasikan sehingga layak menjadi kampung wisata sejarah dan budaya serta upaya sosialisasi dan publikasi secara masif untuk membangun image Kampung Sewu misalnya melalui brosur, buku informasi pariwisata atau guide khusus yang sudah terlatih untuk mempromosikan potensi Kampung Sewu sebagai kawasan kampung wisata yang memesonakan secara lengkap.
Jika tidak, Kampung Sewu ibarat hanya menjadi ”mutiara yang tetap terpendam”. (35)
—Eka Nada Shofa Alkhajar, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNS,penulis buku Pahlawan-pahlawan yang Digugat (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad