Kauman adalah nama perkampungan tradisional yang merupakan artefak sejarah kota tradisional Jawa Islam dengan ciri khas perkampungan santri di tengah kota. Biasanya satu lokasi dengan Masjid Besar, dan berkomposisi dengan alun alun-kabupaten dan pasar.
Kampung-kampung kuno yang tersebar di Kota Semarang merupakan embrio perkembangan kota. Kampung ini mempunyai toponim nama yang khas sesuai dengan pekerjaan, golongan maupun etnis tertentu.
Semarang sebagai salah satu kota penting di pantai utara Jawa, merupakan tempat pertemuan beberapa budaya sehingga muncul perkampungan yang dipengaruhi beberapa budaya seperti Islam.
Sistem setting kota-kota Jawa pada umumnya mempunyai bentuk dasar yang hampir sama, yaitu selalu dibentuk dengan adanya alun-alun dengan dikelilingi pusat pemerintahan dan masjid besar. pada masjid besar tersebut, biasanva selalu dikelilingi rumah-rumah tinggal yang kemudian disebut dengan nama kampung Kauman.
Menurut Adaby Darban (1987) sejarah pembentukan Kampung Kauman bermula dari pemberian hak atas lahan untuk para pengurus kegiatan keagamaan. Usia perkampungan kuno Kauman Semarang relatif sudah tua dan kawasan itu sudah ada sejak abad ke-16.
Dengan lokasi yang dekat dengan pelabuhan dan masjid, Kauman saat itu mampu menarik pedagang muslim dari penjuru Nusantara dan mancanegara. Sebagian di antara mereka menikah dengan warga setempat dan tinggal menetap.
Sampai sekarang, kultur dagang yang dibawa nenek moyang masih dipertahankan warga Kauman. Bagi mereka, kehidupan sosial-keagamaan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perdagangan.
Kauman bagaikan organisme hidup yang digerakkan oleh aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan. Dalam hal ini Masjid Besar dan koridor perdagangan di sepanjang Jalan Kauman menjadi jantungnya.
Potensi
Potensi bangunan rumah kuno dan budaya masyarakat yang khas tidak terlihat dari luar, tertutup pertokoan dan aktivitas perdagangan di koridor Kauman.
Masyarakat Kauman masih memegang teguh ajaran Islam. Di sini tercatat ada Ponpes Raudatul Qur’an, Ponpes Tahafuddul Qur’an, Madrasah Badan Wakaf dan kelompok kelompok pengajian.
Wisata kampung para santri yang religious ini, menjadi potensi ciri khas Kauman yang tidak dijumpai ditempat lain. Upaya pengembangan kampung ini bisa memperkuat keberadaan Masjid Besar Kauman dengan alun-alun lama Semarang serta jejak pemerintahan masa lalu di Kanjengan dan Pasar Johar.
Kauman juga terkenal dengan aktivitas perdagangan atau komersial sehingga mempunyai kemungkinan perkembangan ekonomi lebih mudah dan cepat.
Fakta bahwa di Kampung Kauman dahulu terdapat penginapan yang telah ada sejak masa Hindia Belanda. Itu bermula dari respons warga Kauman terhadap kebutuhan para pedagang dari luar daerah yang berdagang di Pasar Johar.
Selain melayani para pedagang, losmen-losmen tersebut digunakan para pengantar jamaah haji yang berangkat melalui Wisma PHI, Jalan Wahid Hasyim.Untuk memfungsikan Kauman sebagai ruang publik, jalur mulai dari Masjid Agung Semarang hingga sepanjang Jalan Kauman akan dijadikan kawasan pedestrian (pejalan kaki).
Di sepanjang koridor Kauman masih memungkinkan untuk disulap menjadi city walk. Namun, sempitnya lahan parkir perlu untuk penyelesaian yang hati hati dalam hal penyediaan kantung kantung parkir.
Bahkan, jika trotoar di Jalan Kauman dilebarkan, larangan parkir harus diperketat. Sebagai gantinya, taman parkir yang pernah dibuka di Jalan Agus Salim dan Kanjengan bisa diaktifkan lagi.
Hal ini akan bisa memberi napas bagi Pasar Johar dan Yaik yang kini makin sumpek. Meski jumlahnya makin sedikit, beberapa tempat di sekitar Kauman masih menyisakan ruang untuk pejalan kaki.
Untuk itu, rute transportasi dapat juga dialihkan ke daerah disekitarnya yang mempunyai ruas jalan cukup lebar seperti ke Kanjengan. Upaya itu sekaligus untuk mengurai kemacetan karena badan Jalan Kauman relatif sempit.
Kauman perlu penanganan yang cermat dan komprehensif. Konservasi dengan mempertahankan Kauman secara mutlak tidaklah tepat, sebab hal itu akan menempatkannya sebagai objek (sasaran) semata. Perlakuan yang tepat adalah dengan memanusiakannya.
Di tempat itu terdapat kehidupan yang terus tumbuh dan berkembang. Kauman bukanlah objek artefak, melainkan sebuah fenomena dari perjalanan panjang suatu komunitas.
Kampung Kauman Semarang sudah selayaknya untuk ”dihidupkan kembali” agar anak anak kita nantinya masih melihat kejayaan masa lalu dan cikal bakal pusat pemerintahan di Semarang tempo dulu.
Penataan dan penanganan wilayah kampung kuno Kauman ini harus segera dilaksanakan supaya tidak berakibat semakin hancur dan rusaknya wajah Kauman dari serbuan budaya kapitalisme. (35)
—Sukawi, pengajar Arsitektur dan Sekretaris Diploma Desain Arsitektur Undip Semarang (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad