Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta yang agresif dalam inovasi pembangunan, dengan tangkas merespons pengakuan batik sebagai warisan budaya asli Indonesia oleh UNESCO. Melalui keputusan Dinas Pendidikan dan Olahraga yang direstui oleh Wali Kota Ir Joko Widodo, meresmikan batik dan seni batik menjadi mata pelajaran bagi siswa jenjang SD sampai SMA.
Batik dimasukkan dalam muatan kurikulum lokal (mulok) sesuai konsep KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan).Jika kabupaten lain yang menjadi “ikon” muatan lokal beraroma pendidikan kebarat-baratan seperti bahasa asing, teknologi informasi, Kota Surakarta mengawali memasukkan warisan budaya yang bernilai tinggi dan telah lama terlupakan sebagai mata pelajaran wajib yang harus diikuti oleh para siswa.
Batik atau seni batik menjadi mata pelajaran (mapel) yang diharapkan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki generasi muda akan produk local heritage yang telah lama tertimbun oleh arus desak modernitas.
Masuknya batik menjadi mulok kurikulum jenjang SD sampai SMA, memerlukan prasyarat infrastruktur dan shoftware edukatif. Infrastruktur dan showftware edukatif mencakup ketersediaan prasarana-sarana pelatihan membatik, alat peraga, showroom karya siswa, dan sebagainya.
Termasuk juga kesiapan tenaga pengajar-pendidik yang memiliki kompetensi di bidang pedagogis sekaligus memahami seluk beluk perbatikan.
Ketersediaan tenaga pendidik-pengajar bisa dipenuhi dengan lowongan CPNS/tenaga kontrak guru kriya seni atau seni batik, yang sebenarnya di Surakarta bisa dipenuhi oleh program Kriya Seni di kampus negeri semacam UNS dan ISI Surakarta. Rata-rata alumni kriya seni kini telah memiliki lisensi mengajar karena banyak yang mengikuti program akta IV.
Satuan kurikulum seni batik bisa direformulasikan oleh beberapa praktisi batik, kreator batik, guru dan elemen birokrasi serta pengambil kebijakan pendidikan-pariwisata di Surakarta. Karena itu kurikulum batik yang diajarkan kepada siswa memiliki nilai kebermaknaan.
Kebermaknaan untuk meningkatkan pengetahuan dan sekaligus keterampilan siswa dalam seni batik di satu sisi. Sementara di sisi lain meningkatkan kader kecintaan siswa terhadap batik sebagai kebanggaan budaya bangsa.
Muatan lokal kurikulum batik di Solo yang secara resmi mulai dilaksanakan pada awal 2010 memiliki keberfungsian strategis dakam beberapa aspek.
Pertama, aspek sejarah. Dengan membekali siswa dari jenjang SD sampai SMA tentang pelajaran seni batik maka akan menjadi media pelanggeng kesadaran sejarah bagi generasi muda.
Kesadaran untuk memahami akar historis kemunculan batik yang tidak terlepaskan dari panggung dinamika masyarakat di Surakarta (Indonesia) sejak abad ke-18. Mata pelajaran batik memperkuat sendi pemahaman siswa akan mata pelajaran tentang pengetahuan yang lain.
Kedua, aspek keberlanjutan. Dengan mengenalkan bahkan membekali siswa tentang seni batik diharapkan akan muncul para enterprenuer muda yang bergerak di bidang industri batik tradisional dan batik moderen.
Diharapkan dari mereka akan muncul kreator-desainer batik yang memiliki wawasan global, sehingga melanggengkan batik berarti pula mengembangkan dimensi pembaruan motif batik lokal.
Ketiga, aspek sosiologis. Mata pelajaran batik yang diajarkan dijenjang SD sampai SMA di Solo akan memperkuat ikatan sosial antara komponen masyarakat —generasi muda, lintas etnik untuk sama-sama mencintai produk kebudayaan berindentitas nasional. Karena itu secara sosiologis memperkuat aspek kebangsaan dan nasionalisme.
Implementasi muatan lokal pendidikan batik di Surakarta akan memiliki nilai progresif jika melibatkan berbagai komponen stakeholder dan shareholder di bidang industri batik.
Hal tersebut perlu dilakukan dalam kerangka MOU kerja sama lintas organisasi/institusi dan aktor industri perbatikan-edukasi.
Perlu pula dirancang skenario program magang siswa dalam industri kreatif batik tradisional.
Para siswa yang memiliki semangat dan keingintahuan serta keinginterlibatan dalam industri batik bisa dilibatkan dalam beberapa proses kreatif industri batik, terutama aspek perencanaan-desain grafis batik modern bernuansa lokal yang menyejarah.
Gerakan cinta batik yang akan dipatrikan dalam kurikulum pendidikan di sekolah, juga bisa disinkronisasikan dengan beberapa upaya turisme yang dikelola oleh Pemerintah Kota Solo agar ada sebuah proses integrasi pendidikan batik di tengah masyarakat dan generasi muda.
Jika di Solo ada Kampoeng Batik Laweyan atau Museum Batik Danarhadi, maka untuk ke depan perlu dipikirkan lahirnya jurusan Seni Batik di jenjang SMA. Karena itu jenjang pendidikan tersebut mampu menjadi kawah candradimuka pemproduksi kreator motif batik sekaligus ahli implementasi kerajinan batik. (35)
—Ari Kristianawati, Guru SMAN Sragen
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad