FANTASTIS! Biaya hidup mahasiswa di Yogyakarta mencapai Rp 4,6 triliun setiap tahun. Tetapi hanya Rp 1,1 triliun yang mengalir untuk biaya pendidikan, selebihnya (Rp 3,5 triliun) untuk biaya hidup mahasiswa.
Menurut Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Prof Dr Ir Budi Santoso Wignyosukarto DipHE, rata-rata setiap mahasiswa membelanjakan uang Rp 1,6 juta / bulan. Jumlah mahasiswa di DIY tahun lalu sekitar 240.000 orang, dengan rincian 140.000 mahasiswa PTS dan 100.000 mahasiswa PTN.
Kalau setiap mahasiswa mengelurkan uang Rp 1,6 juta per bulan, berarti jumlahnya mencapai Rp 384 miliar per bulan, atau Rp 4,6 triliun per tahun. Ironisnya, untuk biaya pendidikan hanya seperempa bagian saja. Selebihnya untuk biaya hidup, seperti kos, makan, laundry, buku, dan sebagainya.
Di satu sisi, besarnya pengeluaran mahasiswa ini bisa memberikan kontribusi positif bagi perekonomian DIY, terutama dalam bisnis makanan, minuman, pondokan, transportasi, komunikasi, teknologi informasi, rekreasi, bisnis retail, dan sebagainya.
Tapi, di sisi lain, tren peningkatan biaya hidup mahasiswa serta minimnya alokasi dana untuk kepentingan dunia akademik (baca: pengembangan basis ilmu pengetahuan) ini patut didiskusikan lebih jauh.
Berdasarkan penelitian UPN Veteran dan Bank Indonesia 2008, jumlah belanja pulsa mahasiswa di DIY mencapai tujuh persen dari total biaya hidup per bulan, padahal dana pembelian buku hanya tiga persen!
Ironis memang, tapi inilah potret konkret kehidupan mahasiswa kita hari ini. Pertanyaannya, apakah ini bagian dari gejala konsumerisme yang sudah merasuki kaum intelektual kita? Bagaimana solusi efektif untuk membentengi mereka dari derasnya budaya konsumerisme?
Budaya Konsumtif
Perkembangan dunia yang makin pesat membawa sebuah kebudayaan baru, salah satunya kebudayaan konsumerisme atau budaya konsumtif. Budaya ini secara ringkas bermakna demikian, saat membeli dan menggunakan suatu produk, seseorang tidak menggunakan akal pikiran secara sehat sehingga dia tetap memakai / membeli produk tersebut meski tidak termasuk kebutuhan pokok.
Biasanya seseorang yang konsumtif cenderung tidak memikirkan efek dan konsekuensi yang timbul ketika mereka mengambil keputusan untuk membeli barang tersebut.
Dalam beberapa kasus dewasa ini, banyak rumah tangga yang pengeluarannya lebih besar daripada pendapatan, karena tergiur menggunakan aneka barang yang tidak perlu dan tidak menjadi kebutuhan pokok mereka.
Belakangan, budaya konsumtif lambat laun telah menyerang dan menginfeksi mahasiswa yang notabene remaja yang beranjak dewasa dan sedang mencari identitas diri. Perkembangan budaya serba instan dan konsumtif dapat diakses melalui berbagai media, seperti internet, majalah, televisi, radio, dan surat kabar.
Hal ini menjadikan budaya konsumtif menyebar dengan cepat di kalangan mahasiswa. Banyaknya kafe, mal, distro, FO (factory outlet), dan diskotik menjadi pertanda bahwa konsumerisme menjadi suatu identitas yang melekat pada mahasiswa, karena sebagian besar pengunjung di tempat-tempat itu adalah mahasiswa.
Dampak serius dari fenomena ini akan menyebabkan mahasiswa kehilangan banyak waktu untuk belajar dan mengasah daya analisnya di bangku perkuliahan, karena mengikuti trens mode yang sedang populer di kalangan mereka.
Banyak mahasiswa tidak dapat mengikuti kegiatan perkuliahan, karena semalaman begadang di kafe atau pergi ke mal, dengan dalih bosan kuliah dan ingin mencari suasana baru.
Kenyataan ini sungguh ironis, mengingat mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa dan di pundak mahasiswalah harapan semua orang bertumpu. Mahasiswa sepeti ini lama-lama bakal kehilangan daya pikir, logika, nalar, dan analisisnya.
Akibatnya, kita terancam kehilangan generasi penerus yang pandai, idealis, kritis, dan dapat memberi solusi atas permasalahan yang timbul.
Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya konsumtif ini, perlu diadakan sosialisasi tentang kearifan memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme dan menanamkan pola hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari. (Faizi, Sekjen Senat Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta-32) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad