RAMADAN mengandung dua dimensi, yaitu eksistensi dan esensi, dan keduanya tak bisa saling dipisahkan. Eksistensi Ramadan mewajibkan kaum muslim (yang sudah memenuhi syarat) untuk berpuasa. Dan esensinya melahirkan kepekaan sekaligus kecerdasan pikir dan hati. Maka, lapar dan haus harus membentuk kesalihan sosial.
Ramadan di kampus yang notabene dihuni kaum intelektual muda semestinya mampu melahirkan gerakan dan gagasan-gagasan alternatif. Tiap kali Ramadan tiba, tiap kali itu pula ia membawa pesan baru. Pesan yang syarat dengan konteks kekinian. Masalah-masalah kekinian yang dihadapi mahasiswa amat terkait dengan fungsinya sebagai direct of change.
Pertama, laju modernitas tidak selalu sejalan dengan kemudahan hidup. Ada jutaan orang yang terpaksa ’’berpuasa’’ karena tak berdaya secara ekonomi. Korporasi besar (asing) telah menyingkirkan pasar dan produksi-produksi lokal yang menjadi tumpuan hidup mereka selama ini. Lalu, mampukah mahasiswa membuat kegiatan yang bisa menyentuh puasanya seperti ’’puasa’’ yang mereka rasakan?
Kedua, watak pragmatis menjadi ciri yang kian menonjol pada diri mahasiswa. Rasa lapar dan haus tidak melahirkan spirit memerangi kemiskinan yang masih melanda orang-orang di sekitarnya. Meski melakukan acara semacam bakti sosial, namun itu tak berefek pada pengentasan kemiskinan struktural. Bukankah kemiskinan struktural tidak bisa dienyahkan hanya dengan memberi 1-2 kali makan kaum miskin?
Ketiga, konsumerisme tetap tak terbendung meski mulut berpuasa. Kegiatan-kegiatan kampus jarang ada yang membuat inisiasi maupun aksi melawan budaya konsumtif. Justru mereka larut dalam budaya ini.
Keempat, penghormatan mahasiswa untuk Bulan Suci hanya sebatas wacana. Gaya hidup mereka, terutama cara berbusana kaum putri, tak banyak berubah.
Kita tak perlu berdebat soal definisi pornoaksi, karena nurani kita sebetulnya telah mengetahui batasannya. Puasa tak menyuburkan kejujuran.
Ujian tetap menyontek, lalu menggarap tugas tetap saja dengan mendownload dari internet
Kelima, kegiatan Ramadan hanya ramai di paruh pertama. Di paruh kedua bulan ini, biasanya mahasiswa mulai berangsur-angsur mudik. Akibatnya, kampus kian sepi. Tinggal segelintir saja yang masih aktif. Itu pun biasanya cuma meramaikan masjid kampus seperti iktikaf dan mengaji.
Keenam, acara Ramadan seharusnya dimeriahkan seluruh unit kampus, bukan menjadi proyeknya LDK atau Rohis saja. Jika kegiatan Ramadan hanya di-handle Rohis, ia akan terkesan monoton dan tidak multikultural.
Meski demikian, sebaginya kegiatan-kegiatan rutin seperti seminar, pelatihan, dan advokasi sosial tetap ada, bahkan perlu ditingkatkan lagi di Bulan Suci. Namun yang terpenting, semua kegiatan tersebut harus direvisi agar dapat menyentuh esensi dan membaca pesan kekinian Ramadan. (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad