SEMARANG- Gubernur Bibit Waluyo dan Wali Kota Sukawi Sutarip mulai menunjukkan kegerahannya.
Keduanya bersikap saling berlawanan. Semua bermuara pada problematika Kota Semarang. Ini terjadi saat pelantikan anggota DPRD Jateng, Kamis (3/9). Bibit menilai Kota Semarang tak laku dijual. Di pihak lain Sukawi menuding Bibit telah tendensius.
Berawal dari Bibit yang memberi sambutan dalam pengambilan Sumpah/Janji Anggota DPRD Jateng 2009-2014. Dia mengatakan, Kota Semarang sebagai pintu gerbang masuk Jateng kini sudah tidak laku lagi. Hal itu terkait dengan kondisi transportasi darat, pelabuhan dan bandaranya. ’’Tiga hal itu embek,’’ kata Bibit.
Dia mengatakan, pelabuhan Tanjung Emas, kondisinya sekarang sudah tidak layak dijadikan tempat bongkar muat, karena sering terkena rob. Akibatrnya, banyak investor atau pengusaha yang enggan melakukan aktivitas muatan di pelabuhan tersebut, melainkan bablas Tanjung Perak (Surabaya) dan Tanjung Priok (Jakarta).
’’Bukan lagi bernama Tanjung Emas, melainkan tanjung rob,’’ umpatnya kesal.
Bandara juga jauh dari harapan. Daya dukung landasan pacunya (runway) belum laik untuk penerbangan internasional. Bandara tersebut tidak mampu didarati air bus lantaran kekuatan runway-nya kurang memadai, yakni kepadatannya baru 33, sedangkan standar internasional itu kepadatannya 45.
Dengan gambaran itulah, ia berharap Semarang memiliki wali kota yang athes (tanggap, sigap) dengan pelbagai masalah. Gambaran itu kurang didapatkan dikepemimpinan sekarang.
’’Saya ingin Semarang bisa menjadi jendela Jateng. Tetapi kenyataannya, justru tertinggal dari Solo dan Yogyakarta, po rak ngenes ngono kuwi,’’ keluhnya.
Tolok Ukur
Wali Kota Sukawi Sutarip menyikapi lontaran Bibit itu langsung menepisnya. Bagi dia, ketiga permasalahan tersebut merupakan kewenangan Gubernur. ’’Pak Gub mengatakan wali kota yang salah. Padahal, tiga yang embek itu justru urusannya gubernur, bukan urusan wali kota. Masak saya ngurusi pelabuhan, bandara atau tol,’’ ungkapnya.
Sukawi meminta Bibit tidak tendensius, asal menyalahkan. Semua penilaian harus ada tolok ukurnya. Ia mencontohkan, Kota Semarang ada program pendidikan gratis, APBD-nya paling besar Rp 1,6 triliun.
Sebagai wilayah perkotaan justru dapat penghargaan dari Menteri Pertanian dan menteri Kehutanan. Soal efisiensi pun nomor satu. ’’Kenapa dia (Bibit) benci dengan saya terus menerus. Saya tidak tahu mengapa. Ya sudah, saya ngalah saja. Saya ngalah terus,’’ ujarnya. (H3,H37-18)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad