Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang sebentar lagi punya nakhoda baru, Prof Dr Ir Y Budi Widianarko, MSc. Pada 1 September 2009 nanti, ahli toksikologi lingkungan Indonesia yang populis itu secara resmi akan dilantik sebagai Rektor Unika. Jabatan itu akan disandangnya hingga 4 tahun ke depan.
”Saya sekarang sedang belajar dari Pak Bagus (Dr Y Bagus Wismanto, Rektor Unika yang akan digantikannya ñred.),” katanya pada saya, saat kami bertemu di kantornya, Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) beberapa waktu lalu. Dua cangkir teh hangat menemani kami.
Saya bertanya dalam hati, perubahan apa yang akan terjadi pada Unika di bawah kepemimpinannya kelak. Jaringan profesi, kolegial maupun pertemanan, serta reputasi akademis maupun spirit untuk ”berpihak pada yang terpinggirkan” yang dimilikinya, menjadi bekal penting untuk menciptakan perubahan-perubahan yang positif. Saya kira, demikian pula pertanyaan di benak civitas akademika Unika, yang mayoritas (10 dari 11 unit) meminta pihak Yayasan untuk memilihnya menjadi rektor.
Saya mengenal Pak Budi pertama kali kurang lebih 20-an tahun lalu. Saat itu dia masih menjadi dosen di Fakultas Biologi UKSW Salatiga. Saya meliput kegiatan yang dipimpinnya, seminar toksikologi lingkungan. Cerdas, rendah hati, imajinatif, dan punya daya persuasi tinggi, itu kesan pertama saya ketika bertemu saat itu. Kesan itu tak pernah sirna hingga saat ini, bahkan makin menguat.
Di tahun 1994 dia pindah ke Unika Soegijapranata, diminta oleh Romo Dr Paulus Wiryono, SJ, rektor saat itu, untuk bersama-sama membangun Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian. Dia menjadi dekan pertama di FTP yang berdiri tahun 1995 itu.
Gagasan-gagasan ”out of the box” ñnya sudah muncul saat itu. Misalnya, dia mengangankan kompetensi para dosennya bersturktur piramida terbalik, di mana jumlah terbanyak justru para doktor. Atau, dosen dan mahasiswa harus belajar juga dari dunia industri, karena bukan tidak mungkin justru kalangan industri selangkah lebih maju dibanding universitas dalam penerapan sains dan teknologi
Tetapi di sisi lain, Budi Widianarko juga berpandangan, lulusan FTP tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, namun juga memikirkan dan menguatkan masyarakat. Maka, civitas FTP pun didorong untuk punya ”radar” yang bisa menangkap kebutuhan masyarakat dan punya jaringan akses ke masyarakat.
Di tahun 95-96 kami sering bertemu dalam Forum Studi-Komunikasi Abad 21 (Fosko-21), sebuah forum diskusi yang digagas oleh seorang mahasiswa spesialis penyakit dalam, dr Budi Pranowo. Anggotanya beragam profesi dan disiplin keilmuan. Sebagai dekan FTP, Pak Budi sering sekali menyediakan ruangannya untuk diskusi, plus fasilitas konsumsi.
Kami mencoba menganalisis apa yang terjadi di abad ke 21, dari kacamata profesi atau disiplin masing-masing. Sebulan sekali, kami bergiliran menjadi pembicara, dengan kewajiban membuat tulisan. Saya sebagai wartawan tentu saja senang sekali menjadi bagian forum seperti ini, saya banyak belajar dari teman-teman lain. Sayang, usia forum ini hanya dua tahun. Banyak anggota yang harus pergi dari Semarang, termasuk Budi Widianarko, yang harus menyelesaikan doktornya di Belanda.
Tahun 1997 gelar doktor bidang toksikologi pangan diraihnya dari Vrije Universiteit Belanda. Lalu, September 2002, bapak dua anak kelahiran Semarang 23 November 1962 ini menjadi gurubesar (profesor) di bidang itu.
Setelah itu, jejaknya banyak dijumpai di mana-mana. Selain jabatan formalnya sebagai Ketua Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (2001-sekarang), atau Pembantu Rektor IV (2000-2004, dan 2004-2005), Prof Budi juga dikenal dekat dengan kalangan LSM bidang lingkungan, termasuk mereka yang mengkritisi privatisasi air. Ia juga bagian penting dari Yayasan Obor Tani yang dipimpin Ir Budi Dharmawan. ”Spirit Pak Budi Dharmawan untuk memajukan pertanian luar biasa,” tuturnya suatu saat.
Berkembang Alamiah
Teh hangat disruputnya. Budi Widianarko tahu, harapan civitas academika Unika terhadap dirinya tinggi sekali. Maklumlah, FTP yang dirintisnya kini jadi fakultas yang prestisius. Lalu, sebagai Pembantu Rektor IV, dia juga membangun Business Forum dan Carier Center, yang mendatangkan para pengusaha ke kampus itu. Maka wajar jika muncul pertanyaan, langkah besar apa yang akan dihasilkan seorang Budi Widianarko bagi Unika?
”Pada dasarnya saya ini konservatif. Atau setidaknya harus bersikap seperti itu, karena Unika sudah berada pada track yang benar dan telah punya orang-orang dengan spirit yang luar biasa,” tutur suami dari Ime, atlet tenis meja Jawa Tengah di tahun 80-an ini. Yang ia maksudkan adalah beberapa koleganya yang gila kerja, gila meneliti, apapun kondisinya.
Jadi, dia melanjutkan, yang dilakukannya sekadar memperdalam dan memperluas (deepeing and expanding) apa yang sudah ada. ”Saya tidak akan membawa Unika terengah-engah untuk mencapai indikator-indikator world class university, hanya semata-mata demi ranking. Biarlah, segalanya berjalan secara natural,” katanya.
Menurut dia, repot kalau harus ikut arus, atau sekadar ikut tren, karena tren itu ada umurnya. Yang terpenting ngeli nanging ora keli (menghanyut tapi tidak terhanyut). Ciri keli itu adanya kesesuaian semu, sekadar follower, epigon, me too. Misalnya, untuk mencapai standar internasional, dosennya harus berbahasa Inggris. ”Kalau dosennya nggak siap, materi yang diberikan bisa-bisa akan lebih rendah dibanding dengan yang lain,” tuturnya.
Yang alamiah itu, tuturnya, dosen mendorong mahasiswa untuk berusaha pada pencapaian tertinggi. Jika misalnya, mahasiswa mau menulis skripsi atau tesis dalam bahasa Inggris, karena memang merasa butuh untuk itu, dosen harus siap mendampinginya. Itu yang terjadi di FTP.
Cara lain, ketika mahasiswa asing bimbingannya meneliti di Indonesia, Budi Widianarko juga selalu mengajak para dosen dan mahasiswa untuk mendampinginya. Setidaknya ada transfer of knowledge and spirit. ”Lalu, terbuka peluang untuk bekerja sama lebih lanjut.”
Lebih Mengesankan
Yang akan diupayakan dalam empat tahun ke depan, katanya, universitas ini harus lebih mengesankan dan lebih bermakna bagi semua pihak yang kena mengena dengannya. Dia membuat semacam rumus, ”The Unika Way = Zakeus Way”.
Di dalam Injil Perjanjian Baru, ada tokoh bernama Zakeus yang ingin dekat dengan Yesus. Dia tidak leluasa mendekati Yesus yang dikerumuni massa, sementara tubuhnya kecil. Maka dia harus berlari lebih cepat, memanjat pohon, dan berteriak, sebelum Yesus menoleh padanya, hingga kemudian bersahabat dengannya.
”Kami ini universitas yang yang relatif kecil. Doktornya baru sekitar 30, dari 195 staf pengajar. Tapi kami berharap lebih punya makna bagi Jawa Tengah dan Indonesia,” tuturnya.
Caranya? ”Mengondisikan agar kreativitas terus menerus terjadi. Selain, tentu saja, perlu ada kelenturan individu dan lembaga, untuk merumuskan kegiatan yang inovatif,” katanya.
Ia juga berharap intelectual atmosphere akan makin menguat, karena para doktor (baru) berasal dari sekolah dan negara yang berbeda-beda. ”Idealnya, terbangun diversity of ideas, keragaman pengetahuan dan jaringan. Ini penting untuk menciptakan lompatan kemajuan.”
”Sebagai individu, dengan jaringan pertemanan yang luas, apa Pak Budi tidak terbeban dengan jabatan rektor?” tanya saya.
Dia hanya tersenyum, ”Mudah-mudahan Anda masih melihat saya normal-normal saja. Artinya, saya masih mengajar, meneliti, dan menghasilkan sesuatu. Tentu saja ada yang harus berubah, karena status maupun arenanya berubah. Misalnya relasi dengan LSM, dalam penyikapan isu harus lebih hati-hati dan cerdik.”
Yang jelas, tuturnya, ”Saya nggak bisa fully birokrat. Saya masih punya keinginan untuk meneliti bersama mahasiswa, mendampingi mereka sebagai bagian dari learning process, sekaligus meng-update pengetahuan dan informasi saya.”
Prof Dr Ir Budi Widianarko akan menjalani babak baru dalam hidupnya sebagai rektor. Akankah itu berarti juga babak baru bagi Unika Soegijapranata yang dipimpinnya, menjadi PTS yang lebih bermakna?
— Anto Prabowo, wartawan Suara Merdeka, aktif juga di Lembaga Studi Pers dan Informasi (LeSPI) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad