RAMADAN memang bulan yang penuh hikmah. Di dalamnya kita dapat menemukan Nuzulul Quran, Lailatul Qadar, serta di penghujungnya ada bonus bagi yang memenangkan ’’pertempuran’’ melawan lapar, dahaga, dan hawa nafsu selama bulan penuh: Idul Fitri. Di bulan ini kita juga dilatih kepekaan sosial dengan sesama.
Artinya, selain hubungan manusia dengan Tuhan harus baik, tidak kalah penting hubungan manusia dengan sesamanya juga harus ditingkatkan. Toleransi dan saling menolong di bulan Ramadan harus ditingkatkan.
Aktivitas sosial itu misalnya membersihkan masjid sebelum pelaksanaan salat tarawih, tradisi membangunkan orang untuk sahur, dan masih banyak lagi.
Tidak jauh berbeda dari masyarakat umum yang antusias menyambut Ramadan, di dalam kampus pun demikian.
Bahkan dewasa ini
unit-unit kerohanian, baik intra maupun ekstra kampus, kian kreatif dalam memodifikasi acara-acara yang bertema Ramadan. Sebut saja karnaval atau safari Ramadan, hingga Malam Bina Takwa (Mabit) yaitu kegiatan bermalam di masjid, pesantren kilat, pengajian keliling, dan tarawih keliling.
Mahasiswa pun rela membayar iuran untuk membuka usaha bersama dengan berjualan takjil atau kolak. Masih banyak lagi kegiatan kerohanian Islam di kampus, terutama selama bulan Ramadan.
Bagi Unit Kerohanian Islam (Rohis), kampus tidak hanya sebagai tempat menuntut ilmu umum tetapi juga tempat berdakwah. Salah satu tugas rohis adalah pengelolaan moral dan iman mahasiswa. Karena itu, aktivitas mereka paling tidak memberikan gairah dalam kegiatan ibadah di bulan suci.
Namun banyak kalangan menilai rutinitas selama Ramadan hanya sementara. Ketika bulan puasa berlalu, maka atmosfer beribadah di kampus menghilang. Monotonnya rangkaian kegiatan membuat acara ini sebatas seremonial dan tak banyak menyedot jamaah, kecuali acara yang menyajikan pembicara nasional.
Antusias mahasiswa tidak begitu besar terhadap kegiatan-kegiatan berbau keagamaan. Mahasiswa lebih tertarik pada pertunjukan musik, fashion show, dan sebagainya. Konseptor acara seharusnya pintar memodifikasi acara tanpa mengurangi nilai religiusitas di dalamnya.
Namun berbagai kegiatan keagamaan di kampus paling tidak memberi warna lain ketika ramadhan datang. Selain itu untuk menjaga kesakralan Ramadan di dalam kampus sendiri. Jadi sejauh ini efektivitas Ramadan di kampus masih cukup relevan. (32) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad