Kampus
25 Juli 2009
Forum Halaman Kampus (FHK)
Komitmen Anggota Pers Mahasiswa
Forum Halaman Kampus (FHK) ini adalah ruang dialog, jaringan antaruniversitas, dan pembangunan life skill di bidang creative writing. Silakan kirim gagasan, pertanyaan, atau berita tentang program pembangunan life skill (skill development program on creative writing) ke alamat Redaksi atau ke surat elektronik (email) ke kampus_sm@yahoo.co.id, kurang dari 2500 karakter, identitas diri, dan besaran file tidak lebih dari 99 kilobyte.
TULISAN Muhammad Abdullah Badri yang dimuat dalam rubrik ini (SM, 18 Juli 2009), dengan judul Persma dan Problem Konsistensi sangat menarik bagi saya untuk menanggapinya.
Ada kegundahan dan kegelisahan Abdullah mengenai penerbitan majalah kampusnya yang mengalami keterlambatan. Memang tak bisa dimungkiri, kegiatan tulis-menulis sangat menyenangkan.
Apalagi jika foto dan tulisan yang kita buat terpampang di media massa dan dinikmati khalayak ramai, ditambah lagi ada honornya. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa orang berbondong-bondong dan berhasrat untuk menulis artikel di media massa daripada di majalah kampus.
Tetapi manakala kegiatan menulis hanya melihat segi materinya saja, maka hasilnya tidak lagi murni dan abadi dari relung hatinya. Seolah-olah menulis merupakan gerbang ambisi untuk mencapai kepuasan pribadi.
Menulis seharusnya didorong oleh keinginan menjelaskan sesuatu hal yang tabu menjadi hal yang hangat untuk dibahas. Kelebihan dari menulis di media massa pasti sudah banyak yang tahu, kita akan mendapat berbagai keuntungan yang tidak didapatkan oleh mereka yang tidak pernah menulis.
Misalnya, keuntungan finansial (ekonomis), menambah pengetahuan, dapat berbagi dengan orang lain, dapat mengungkapkan isi hatinya, dan dapat meningkatkan popularitas karena nama kita akan tertulis di mana artikel itu dimuat.
Tak Bisa Dipaksa
Dari keuntungan di atas, mungkin dua diantaranya yang tidak diperoleh dari menulis di majalah pers kampus, yaitu tidak adanya nilai ekonomis dan nama kita tidak sepopuler menulis di media massa.
Memang tidak bisa memaksakan orang untuk menulis jika tidak ada niatan dari dalam dirinya untuk menulis. Jika dipaksakan, maka hasil yang didapat tidaklah maksimal.
Meskipun tidak tergabung dalam komunitas pers mahasiswa di fakultas maupun di kampus, saya sangat menyayangkan sikap dari para anggota pers mahasiswa yang tidak konsisten dengan niat dan komitmennya dulu ketika terjun ke Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).
Seharusnya mereka harus bisa menyeimbangkan antara apa yang menjadi kewajiban dan apa yang tidak menjadi kewajiban. Sudah menjadi keharusan bagi teman-teman yang tergabung dalam pers mahasiswa untuk membuat tulisan di majalah pers yang dinaunginya tanpa dibayar sepeser pun.
Sebagai solusi sementara, jika keengganan aktivis pers mahasiswa untuk menulis di pers kampusnya masih menonjol, bisa dibuat pengumuman kepada semua mahasiswa di fakultas atau di luar fakultas untuk menyumbangkan karyanya, baik laporan berita, artikel, esai, cerpen, atau puisi.
Solusi ini diperlukan jika upaya untuk membangkitkan semangat menulis di pers kampus sudah tidak mempan lagi menggetarkan nurani para aktivis pers mahasiswa itu sendiri. (32)
—Nana Rosita Sari, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, angkatan 2006.