Subcribe RSS RSS SUARAMERDEKA.COM
TRY OUT UJIAN NASIONAL ONLINE
 
.:Kuliner


 

Kampus

04 Juli 2009
Forum Halaman Kampus

Merancang Model Pelatihan Menulis

  • Oleh Yodie Hardiyan
Forum Halaman Kampus (FHK) ini adalah ruang dialog, jaringan antaruniversitas, dan pembangunan life skill di bidang creative writing. Silakan kirim gagasan, pertanyaan, atau berita tentang program pembangunan life skill (skill development program on creative
writing) ke alamat Redaksi atau ke surat elektronik (email) ke kampus_sm@yahoo.co.id, kurang dari 2500 karakter, identitas diri, dan besaran file tidak lebih dari 99 kilobyte.

DALAM kolom Forum Halaman Kampus (FHK) ini, kemuliaan menulis sering menjadi materi bahasan. Tujuan, cara, keuntungan, sampai motivasi menulis pun tak urung dikupas. Nah, bagaimana dengan pelatihan menulis?

Tak salah, pelatihan menulis paling mahal dan efektif adalah ’’pelatihan sendiri’’. Individu tenggelam menekunkan diri, pontang-panting mengungkap gagasan atau latihan ’’menjahit’’ kata demi kata menjadi lembaran makna.

Namun ’’pelatihan ramai’’, dengan menghadirkan instruktur dan tidak privat (peserta lebih dari satu), pun mengandung nilai guna. Hemat saya, pelatihan ramai merupakan semacam pengantar, penyemangat, dan pemupukan pengetahuan akan menulis.

Tanggal 23-24 Juni lalu, bertempat di Percik Salatiga, digelar pelatihan menulis artikel untuk media massa bertajuk ’’Tulis! Idemu Biar Ramai 2009’’.

 Instrukturnya adalah Bandung Mawardi, seorang peneliti Kabut Institut Solo, yang tulisannya kerap muncul di Suara Merdeka, termasuk dalam rubrik ini.

Pelatihan ini memiliki tiga pembahasan (sesi). Pertama, teori menulis. Bahasannya cenderung aras normatif, seperti cara berpikir, makna, dan tujuan tindakan menulis. Peserta boleh tak ’’membebek’’ teori orang lain. Singkatnya, teori menulis adalah ketiadaan teori baku akan menulis itu sendiri.
Sistematika Menulis Kedua, sistematika menulis. Perkara judul, latar belakang, referensi, analisa, kesimpulan, bahkan tanda baca ditelaah. Ibarat membangun rumah, pembahasan ini mencelotehkan pemasangan pintu, lantai, sampai atap. Terasa janggal membaca tulisan tanpa dasar pemikiran jelas: sama halnya mendapati rumah tanpa tiang-pancang.

Ketiga, koreksi artikel peserta. Ini paling menarik. Contohnya, ada seorang peserta menulis bertopik gaya hidup. Tulisannya mengandung tuduhan terhadap suatu ikon makanan cepat saji. Benarkah tuduhannya? Tanpa fakta dan analisis memadai, tentu sulit diterima atau dipercaya redaktur media. Disinilah, pembicara membukakan jalan untuk membenahi ketidakbetulan.

Pembahasan pertama dan kedua diberi waktu satu setengah jam. Pembahasan ketiga selama tiga jam, yang dibagi dalam dua babak. Tentu diselingi rehat 30 menit.

Syarat ikut pelatihan ini bukanlah kontribusi uang, tetapi wajib mengumpulkan artikel. Rencananya, karya tulis para peserta, pembicara, dan panitia akan dijadikan ’’buku-bukuan’’, atau buku kecil nonkomersil.
Gunanya? Selain pengganti sertifikat yang sengaja ditiadakan, agar artikel yang dikumpulkan sebagai syarat pelatihan tidak sekadar diam bersembunyi di arsip pribadi. Orang lain bisa membaca serta mengkritiknya.

Akhir kata, saya sepakat dengan tulisan Bandung Mawardi di kolom FHK yang berjudul ’’Menulis: Hasrat dan Risiko (SM 27/06), bahwa menulis adalah tindakan mengekalkan dengan pertaruhan kata dan makna. (32)

—Yodie Hardiyan, Koordinator Tulis! Idemu Biar Ramai 2009, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share


© 2009 SUARAMERDEKA.com. All rights reserved.