Subcribe RSS RSS SUARAMERDEKA.COM
 


 

Pendidikan

26 Juni 2009

Guru Bisa Jadi Penulis Terkenal

KARENA berbagai alasan, masih banyak guru malas menulis. Padahal, sebagai narasumber, guru harus terus memperbarui kapasitas keilmuan dan kekuatan moral.
Novelis Ahmad Tohari mengemukakan hal itu saat jadi pembicara seminar nasional ”Membudayakan Aktivitas Menulis di Kalangan Guru” di LPMP Srondol, Semarang, kemarin. Acara itu diprakarsai Asosiasi Guru Penulis (Agupena) Jawa Tengah.

”Tanpa menambah kapasitas secara berkelanjutan, fungsi sebagai guru akan menurun,” katanya. Dan, salah satu cara menambah pengetahuan adalah membaca. Di hadapan 350-an guru PAUD-SMA itu, penulis Ronggeng Dukuh Paruk tersebut berpendapat membaca koran, majalah, internet wajib bagi guru. ”Jika baca koran saja tak pernah, apalagi buku.”

Membaca lebih efektif jika disertai menulis. Pria kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948, itu mengibaratkan guru bagai sumur dan mata air adalah intelektual. Mata air harus terus mengisi sumur agar tak kering. Jika air sumur tak ditimba, air membusuk dan muncul jentik-jentik nyamuk. Bagaimana menimba air itu? ”Ya, menulis.”
Karena Terbiasa Dia menuturkan membaca dan menulis tak bisa dipisahkan. Membaca tanpa menulis bakal busuk di jiwa. ”Input dan output harus seimbang agar tetap segar.”
Dia mengingatkan guru agar tak jadi operator kurikulum belaka. ”Dengan menulis guru pun bisa jadi penulis terkenal. Lalu, penghasilan pun bertambah.”

Orang bisa menulis karena terbiasa. Dia menyarankan guru menulis setiap hari. Penerima hadiah SEA Write Award (1995) itu menekankan betapa penting membangun daya imajinasi. Kemampuan berimajinasi lebih menentukan ketimbang intelektualitas.

Pembicara lain, Ketua Umum Asosiasi Widyaiswara Indonesia Dr Mulyadi MPd memaparkan peningkatan profesionalisme guru melalui karya tulis ilmiah. Seminar itu dirangkai dengan lomba penulisan artikel bagi guru se-Jawa Tengah. Lomba diikuti 107 guru PAUD-SMA/K.

Juara I Heni Purwono (guru SMP Nasima Semarang) dengan karya ”Guru Nirleka, Apa Kata Dunia?”, II Budi Wahyono (SMKN 7, Semarang) dengan artikel ”Wahai Guru, Menulislah Apa yang Kalian Bisa”.

 Adapun juara III guru SMAN 1 Sragen, Ari Kristianawati, dengan judul ”Menulis adalah 'Syariat' Guru Profesional”. (Ida N-53)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share


© 2009 SUARAMERDEKA.com. All rights reserved.