Subcribe RSS RSS SUARAMERDEKA.COM
 


 

Berita Utama

21 Juni 2009
Ahmad Tohari Mantu di ”Dukuh Paruk”

Happy Salma ”Nggemblung”

. AHMAD Tohari, budayawan yang sering disebut ramane Srintil, ronggeng terkenal asal Dukuh Paruk, dalam tiga hari terakhir ini terlihat sibuk. Dia mbaranggawe mantu di kediamannya, Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, sejak hari Jumat hingga Minggu (21/6) ini.

Begitu lekatnya Srintil, sosok utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, sampai-sampai segala pernik dari dunia novel melompat keluar mewarnai pernak-pernik syukuran pernikahan putri bungsunya, dokter Din Alfina binti Ahmad Tohari dan Wiwid Ardhianto SE.

Tamu yang hadir silih berganti. Mereka yang akrab dengan novel-novel Tohari mengaku gumun, memasuki halaman belakang rumah yang menjadi panggung utama dalam pagelaran mantenan itu.
Orang Gaplek Pelataran belakang rumah yang sekaligus menjadi halaman musala Al Hidayah itu disulap menjadi suatu perkampungan, seperti tergambar dalam novel masterpiece Tohari itu. ”Kiye tah mantene wong gaplek (Ini dia perkawinan orang gaplek),” seru Edhi Romadhon, penggerak Komunitas Gethek.

Tohari lantas menunjukkan sekumpulan ketela pohon yang sudah dikupas dan disebar di atap rumah welit (atap ilalang) yang menjadi tempat pengantin jejer.
Singkong yang dibiarkan terkena hujan dan panas selama berbulan-bulan itulah yang disebut gaplek. Di masa paceklik, singkong yang sudah ditumbuhi jamur itu jadi makanan pokok warga. Cermin kemiskinan itu selaras dengan gubuk bambu yang dinaunginya.

Seperti seniman lain saat punya gawe, suami Samsiah yang kerap disapa kiai ini rupanya juga sedang bermain simbol. Selain gaplek, tamu-tamu juga tercengang ketika mantenan ini menampilkan apa-apa yang ndesa.

”Suasana ini menjadi akar budaya saya, termasuk orang-orang yang kini sudah keluar dari kemiskinan. Sambil mantenan, sah-sah saja dong saya mengajak mereka untuk mengingat orang yang masih kelaparan, di tengah kebahagiaan kita,” kata Tohari.
Srintil Muncul Suasana di ”Dukuh Paruk” semalam pun makin gayeng, saat ronggeng Srintil ”meloncat” ke atas panggung. Penampilan Srintil kali ini membikin ratusan pasang mata berebut mencuri perhatian.

Ya, pantaslah, lha wong yang menyaru sebagai Srintil adalah artis Happy Salma. Kebetulan, Oktober mendatang, Happy akan membawakan monolog Ronggeng Dukuh Paruk di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sempat memelajari lengger di Sanggar Banyu Biru, Desa Plana, Somagede, Banyumas, Happy malam itu mengaku masih canggung saat mulai menjadi Srintil.

Meski begitu, di tengah tatapan ratusan pasang mata, mendadak sontak ia menjadi lengger yang tak canggung berjoget. Lembut di satu waktu, nggemblung (liar) pada tempo lain.

”Pada satu malam, aku ingin memberikan sesuatu padamu, sesuatu yang hanya ingin kuberikan untukmu, Rasus,” bisik Happy Salma, eh.. Srintil, yang diikuti koor ratusan tamu.
Lulusan Pertama Din Alfina, yang merupakan angkatan pertama, lulusan pertama, serta pengambil sumpah dokter pertama dari Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), cuma mesam-mesem di sisi suaminya yang lulusan Fakultas Ekonomi UGM.

Apalagi, setelahnya, kolaborasi penampilan musik mbeling Komunitas Gethek melatari penampilan spontan sederet seniman di Banyumas Raya. Selain Gus Mus yang sekaligus menjadi wali nikah dan mengisi ular-ularan, para pekerja seni di Banyumas Raya dari berbagai daerah menyajikan penampilan spontannya. Sebut saja Raudal Tanjung B, Sosiawan Leak, Presiden Geguritan Banyumasan Wantotirta, dan penyair Sokaraja Mas Ut.

Ada lagi Penggerak Tilatjapan Poetry Forum Badruddin Emce, Ketua Dewan Kesenian Cilacap Anshar Basuki Balasikh, Ketua Dewan Kesenian Purbalingga Haryono Soekiran, Komunitas Teater Tubuh Bambang Wadoro, hingga Wakil Bupati Cilacap Tatto Pamuji. (Sigit Harsanto, Gading Satrio Pinandito-32)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share


© 2009 SUARAMERDEKA.com. All rights reserved.