panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Ragam
12 Juni 2009
Trenggiling, Mengapa Terus Diburu?
DALAM semester pertama tahun ini, sering tersiar kabar mengenai penyelundupan trenggiling jawa (Manis javanica) dari Indonesia ke mancanegara. Padahal, trenggiling sejak lama ditetapkan pemerintah sebagai salah satu satwa yang dilindungi.

Artinya upaya penyelundupan trenggiling, apalagi sekadar dijadikan daging konsumsi, bakal mempercepat proses kepunahannya. Itu berarti dalam beberapa tahun ke depan, anak-cucu kita tak bisa melihat lagi trenggiling, kecuali melalui gambar atau film dokumentasi.

Beberapa waktu lalu, upaya penyelundupan daging dan sisik trenggiling seberat 1,5 ton berhasil diungkap Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Enggang Kaltim. Pekan ini, kasus serupa juga terjadi di Sumatra.

Padahal, sebagai satwa yang dilindungi, trenggiling jawa dilarang untuk diburu, dilukai, dipelihara, diperdagangkan, atau disimpan baik dalam kondisi hidup, maupun bagian-bagiannya.

Tujuh Spesies

Sebenarnya ada tujuh spesies trenggiling di seluruh dunia, yaitu trenggiling india (Manis crassicaudata) yang hanya dijumpai di India, Bangladesh, dan Srilangka; trenggiling china (M. pentadactyla) yang terdapat di Taiwan dan kawasan selatan China; serta trenggiling temmick (M. Temmicki) di Afrika.

Selain itu, ada juga trenggiling pohon (M. tricuspis), trenggiling berekor panjang (M. tetradactyla), trenggiling raksasa (M. gigantea), dan trenggiling jawa (M. javanica).

Trenggiling jawa pertama kali ditemukan oleh Desmarest (1822), dan hanya bisa dijumpai di Asia Tenggara, mulai dari Semenanjung Malaysia, Myanmar, kawasan Indochina (Vietnam, Laos, Kamboja), serta Indonesia (Sumatra, Kalimantan, dan Jawa).

Hewan ini termasuk jenis mamalia (binatang menyusui) dan bersifat nocturnal (beraktivitas di malam hari). Tubuhnya lebih besar dari kucing, berkaki pendek, dengan ekor panjang dan berat.

Ia memiliki sedikit rambut, tetapi tidak bergigi. Dia dijuluki sebagai ant-eater, karena makanan utamanya semut dan serangga lain seperti rayap.

Untuk memangsa semut dan serangga, trenggiling menggunakan lidahnya yang terjulur dan berselaput lendir. Panjang juluran lidahnya bisa mencapai setengah panjang badan.

Bersisik

Uniknya, tubuhnya dilindungi sisik yang tersusun rapi seperti genteng rumah. Sisik punggung dan bagian luar kaki berwarna cokelat terang.
Jika diganggu, ia akan menggulung tubuhnya seperti bola. Terkadang ia balas menyerang musuh dengan cara mengibaskan ekornya, sehingga sisik-sisiknya akan melukai kulit musuh.

Selain itu, untuk melindungi diri dari serangan musuh, trenggiling suka sekali menyebarkan bau busuk. Ia memiliki zat yang dihasilkan kelenjar di dekat anus, yang mampu mengeluarkan bau busuk sehingga musuh pun lari.

Sebagai mamalia, trenggiling berkembang biak dengan melahirkan. Musim kawin terjadi pada bulan April sampai Juni. Setelah bunting (3 bulan) dan melahirkan, induk betina akan menjaga anaknya selama 3-4 bulan.

Jumlah anak dalam setiap kelahiran hanya seekor. Itu sebabnya, perkembangbiakan trenggiling sangat lamban. Maraknya perburuan gelap membuat populasinya makin menyusut dan kini terancam punah.

Menu Mahal

Ironisnya, trenggiling juga sering dijadikan santapan orang-orang kaya yang tak peduli kelestarian plasma nuftah. Daging trenggiling menjadi menu mahal di sejumlah restoran di China, Singapura, Laos, Vietnam, Thailand, dan Taiwan.

Di pasaran domestik, terutama di Sumatra dan Kalimantan, harga trenggiling hidup bisa mencapai Rp 300.000-Rp 500.000 / kg. Tapi di pasaran internasional, harganya bisa 3-4 kali lipat harga di Indonesia. Di China, misalnya, harga daging trenggiling mencapai 112 dolar AS (sekitar Rp 1,12 juta) per kilogram.

Selain dagingnya yang lezat, kulit (sisik) trenggiling juga memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai komponen penting dalam Traditional Chinese Medicine (TCM) atau Pengobatan Tradisional China. Sisiknya kerap diolah menjadi obat penyakit jantung, stroke, paru-paru, bahkan sebagai campuran obat kuat.

Sisiknya juga bisa dijadikan bahan baku kosmetik, bahkan campuran shabu-shabu. Harga sisik di pasar lokal sekitar Rp 500.000-Rp 550.000/kg, tetapi di China mencapai 400 dolar AS (Rp 4 juta).

Bayangkan, seekor trenggiling dewasa umumnya memiliki bobot 8-10 kg, bahkan ada yang seberat 12 kg. Setelah dikuliti sisik serta dibuang bagian dalam perutnya, bobot trenggiling beku yang direkomendasikan penampung sekitar 5-10 kg.

Umumnya, eksportir dari Indonesia mengirim daging beku dan sisi trenggilng ke Malaysia dan Thailand. Tentu secara ilegal, termasuk memalsukan dokumen ekspor. Misalnya, daging selundupan dibaurkan dengan daging ikan, lobster, dan sebagainya.

Para eksportir gelap inilah yang menggerakkan dan memberi modal kepada jaringannya, mulai dari pemburu sampai penampung lokal untuk mengeruk keuntungan lebih besar.

Jadi yang perlu dipidana bukan hanya pemburu, pedagang gelap, tetapi juga eksportir. Para pengelola restoran dan penikmat di mancanegara pun patut dipersalahkan. (Amanah-32)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER