BENCANA tanah longsor dan banjir kerap terjadi di mana-mana. Musibah tersebut terjadi akibat kondisi lingkungan dan alam yang rusak. Akibat yang ditimbulkan bukan hanya harta benda, karena korban manusia juga kerap berjatuhan.
Setiap bencana alam yang memakan korban jiwa selalu memancing keprihatinan banyak pihak. Sayangnya, perilaku manusia yang merusak alam hingga kini masih berlangsung. Meski beberapa kali pihak terkait melakukan pencegahan, di lain waktu upaya serupa masih saja terulang.
Penebangan hutan secara liar, ekploitasi lahan pertanian, penambangan pasir dan pembuangan sampah plastik di sembarang tempat tak bisa masih sering dilakukan banyak orang di berbagai tempat.
Mereka seolah tak menyadari dampak yang ditimbulkan sangat merugikan anak-cucu di masa mendatang. Lalu, bagaimana posisi perempuan dalam ikut serta melakukan penyelamatan alam dan lingkungan?
Perempuan Menanam
Kampanye Gerakan Indonesia Menanam, yang diikuti Gerakan Perempuan Menanam yang bergaung di mana-mana, seakan memberi angin segar. Pasalnya, kerusakan alam yang parah telah menggugah kesadaran kaum Hawa untuk ikut peduli lingkungan.
Para aktivis perempuan tak segan-segan terjun langsung ke lahan-lahan kritis untuk melakukan penanaman pohon. Mereka berharap, dengan terlibat langsung, sedikit banyak akan ikut mengatasi kerusakan alam.
Kampanye Gerakan Perempuan Menanam diharapkan akan diikuti ibu-ibu untuk melakukan hal yang sama di mana pun berada. Jenis pohon yang ditanam bisa apa saja, mulai bunga, tanaman buah, hingga tanaman keras. Penanaman bisa dilakukan di lahan sendiri, di seputar kebun, halaman rumah, atau penanaman massal di lahan bera (kosong).
Kaum perempuan juga bisa mengajarkan kepada anaknya sejak dini agar gemar menaman. Sebab, apa yang mereka tanam saat ini akan dinikmati hasilnya beberapa tahun ke depan. Ketika anak-anak sudah tumbuh besar dan dewasa.
Jika budaya menanam sudah ditanamkan sejak kecil, tidak menutup kemungkinan kesadaran menjaga dan melestarikan alam akan terus terpilihara sampai kapan pun. Budaya menanam membuat anak gemar terhadap lingkungan, bukan malah merusak alam.
Jika ada laki-laki, entah suami, famili, atau tetangga yang menjadi pelaku perusak alam, baik dalam bentuk penebangan liar, ekploitasi alam, dan penambangan ilegal, kaum perempuan bisa mengingatkannya.
Dengan keterlibatan perempuan secara aktif dan massif dalam penyelamatan lingkungan, bukan tidak mungkin kelestarian lingkungan akan tetap terjaga. Musibah bencana tanah longsor, banjir bandang, dan krisis air bersih, sebagaimana yang kini banyak terjadi, pasti bisa dihindari.
Sampah Plastik
Selain Gerakan Perempuan Menanam, upaya yang tak kalah penting bagi perempuan adalah tidak membuang sampah plastik secara sembarangan. Selama ini, perempuan paling banyak bersentuhan dengan barang-barang dari plastik.
Saat beraktivitas di pasar atau di dapur, mereka sering mengunakan bungkus plastik. Jika sudah tidak terpakai kerap dibuang begitu saja. Perilaku ini sama berbahayanya dengan dampak kerusakan lingkungan karena penebangan hutan, ekploitasi lahan, dan penambangan pasir liar. Sampah plastik membuat strukutur tanah rusak, karena materialnya tidak mudah busuk. Tanah yang di dalamnya terkandung banyak plastik tentu akan kehilangan kesuburannya. Tanah yang tidak subur menyebabkan pohon yang ditanam sulit hidup.
Karena itu, perempuan harus bisa memperlakukan sampah plastik secara bijaksana. Plastik yang sudah tidak bisa dimanfaatkan bisa dikumpulkan untuk dimusnahkan dengan cara dibakar. Bisa juga dikumpulkan dan dijual ke pemulung, agar bisa didaur ulang.
Rupanya ini masalah sepele dan sederhana. Tapi jika tak ada kemauan baik dari kaum perempuan, justru akibatnya akan berbahaya. Karena itu, wahai ibu-ibu, mari bersama-sama selamatkan lingkungan! (32)
—Haryati SAg, alumnus IAIN Walisongo Semarang, kini guru MAN Wonosobo.
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad