panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
27 Mei 2009
GENDERANG GENDER
Pendidikan Kegenderan di Sekolah
  • Oleh Hadziq Jauhary
MARAKNYA kasus kekerasan yang dialami perempuan, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya, patut menjadi perhatian serius.
Sikap merendahkan perempuan menjadi dasar kemunculan tindakan kekerasan itu. Contohnya, perkosaan, pelecehan seksual dan pencabulan, kekerasan dalam pacaran, serta eksploitasi perempuan.

Padahal, sejatinya, perempuan juga butuh keleluasaan untuk mengembangkan kemampuan dirinya, seperti halnya keleluasaan yang didapat laki-laki. Selain itu, perempuan seharusnya juga dihormati dan dihargai seperti layaknya laki-laki. Ini sejalan dengan kodrat manusia yang sejajar di hadapan Tuhan, tanpa memandang jenis kelamin.

Pada dasarnya, kasus kekerasan ini merupakan salah satu dari bentuk peminggiran hak-hak perempuan. Pertanyaannya, bagaimana agar hak-hak perempuan tidak terpinggirkan lagi dan keberadaannya bisa sejajar dengan laki-laki, setidaknya dalam pengembangan kemampuan diri?

Sejak Remaja

Berbagai penyuluhan mengenai kesetaraan gender sudah sering diadakan, juga diinformasikan melalui media massa. Lalu, mengapa kejadian yang mengekspresikan peminggiran hak perempuan dan keterkungkungan perempuan dalam sarang laki-laki sehingga timbul bias gender masih terus berlanjut hingga kini?

Harus diakui, masyarakat hingga kini masih terjebak pada filosofi bahwa perempuan adalah sosok yang lemah, sehingga tidak pantas melakukan hal-hal yang berat seperti bekerja di luar rumah. Posisi perempuan adalah di rumah dan di dapur! Padahal, filosofi itu tidak tepat. Sudah banyak bukti kemampuan

perempuan dalam bekerja tidak kalah dari laki-laki, bahkan terkadang melebihi.
Jika ditelisik, ada satu hal yang dilupakan masyarakat sehingga perjuangan kesetaraan gender belum mencapai hasil optimal. Yaitu, tidak adanya pendidikan kegenderan kepada setiap orang sejak masa menginjak usia remaja.

Pendidikan kegenderan sangat penting diajarkan sejak dini. Apabila pendidikan ini diajarkan sejak dini, terutama sejak masa remaja, kelak setiap orang memiliki pandangan kegenderan yang baik. Kondisi itu akan terus dipelihara oleh setiap orang selama hidupnya.

Pendidikan kegenderan sejak dini berarti memberikan pendidikan dan pemahaman perihal kegenderan kepada anak didik di sekolah. Caranya, bisa disisipkan dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan bimbingan konseling, atau lebih baik kalau dibuat kurikulum tersendiri.

Jika pemerintah pusat belum menyetujui keberadaan mata pelajaran kegenderan di sekolah, masing-masing daerah bisa menetapkan mata pelajaran kegenderan dalam muatan lokal.

Paling tidak, pendidikan kegenderan mulai diajarkan sejak bangku SMP, yang mana kondisi anak didik beranjak remaja dan mulai bisa berpikir perihal lawan jenisnya. Apabila ia seorang laki-laki, maka pikirannya sudah terbayang perihal semiotika tubuh perempuan yang dia lihat.

Bekal pendidikan kegenderan sejak usia remaja membuat mereka menjadi tahu lebih detail tentang makna keberadaan lawan jenis. Alhasil, akan terbentuk rasa menghormati dan saling menghargai kepada lawan jenis. Bagi pria, akan menghormati serta menghargai keberadaan dan hak-hak perempuan. Begitu pula sebaliknya.

Itu akan menjadi kebiasaan dalam diri anak didik, sehingga kelak ketika dewasa dan hidup di masyarakat yang heterogen, pikirannya telah terbentuk, bahwa menghormati dan menghargai lawan jenis adalah salah satu hal penting yang mesti dilakukannya.

Tentu dalam pengajaran pendidikan gender dibutuhkan guru yang memiliki pemahaman kegenderan mumpuni dan telah mempraktikkan sendiri dalam kehidupannya. Untuk itu, pendidik harus diseleksi secara ketat, tidak asal comot guru dari mata pelajaran lain.

Alangkah indah apabila pendidikan dan pemahaman perihal kegenderan diberikan kepada seseorang sejak di bangku sekolah. Tentu segala aksi yang meminggirkan hak perempuan untuk berkarya serta berbagai aksi penindasan dan kekerasan terhadap perempuan, tidak akan terjadi lagi. (32)

—Hadziq Jauhary, penulis buku’’Membangun Motivasi’’ (2008), peminat kajian gender dari Swaranusa PKBI. (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER