panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
27 Mei 2009
Revinasi Hati Perempuan
Sungguh miris, sekaligus quo-vadis, mencermati berita-berita terakhir tentang berbagai kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan Indonesia masa kini. Hanya dalam waktu sebulan, dilaporkan terjadi 2.321 kasus pelecehan dan kekerasan dengan latar seksual (detikcom, 21/5/2009).

LAPORAN Komnas Anak dan Perempuan (April 2009) juga menyebutkan, eskalasi kekerasan seksual meningkat 200 persen lebih setiap tahun. Tak hanya terjadi di kalangan perempuan dewasa, tetapi remaja dan anak-anak.

Di luar itu, banyak perempuan yang meregang nyawa menghadapi desakan hidup, begitu mudah perempuan menjadi bulan-bulanan kaum kapitalis dalam berbagai bentuknya, serta banyak perempuan yang tak mampu mempertahankan’’kemurnian hati’’-nya sehingga rela melakukan apa pun demi satu tujuan hidup: hidup lebih baik!

Pertanyaannya, apa yang salah dengan perempuan kita? Apa yang harus mereka lakukan menghadapi kompleksitas persoalan hidup yang kian getir ini?
Diakui atau tidak, perempuan Indonesia kini mengalami masa’’kegelapan hati’’ yang paling akut. Biangnya adalah penyakit hati yang amat parah dalam skala massif. Penyakit hati ini adalah hasil koloni’’virus’’ kapitalisme global, yang melakukan perkawinan dengan budaya dan tradisi materialisme setempat, dengan dibumbui tradisi-tradisi hedonis kekinian.

Hal ini serupa dengan ide feminis asal Inggris, Anna Stone, dalam esainya yang terkenal’’The Dark Age of Woman Heart’’. Ia mengatakan bahwa idiom emansipasi, kesetaraan gender, repertoar kebebasan, keadilan, dan transparansi peran perempuan dalam peradaban dan kebudayaan justru berhasil memerosokkan perilaku hidupnya dalam kenistaan, menghamba pada materi tanpa kritisi, taqlid kepada hedonisme tanpa kerja keras, dan menjadi burung beo tanpa inovasi dan pengembangan potensi diri.

Budaya instan dalam perilaku hidup perempuan kini menjadi paradigma hidup baru perempuan yang konon disebut’’modern’’.

Mereka mengagungkan idiom’’kalau bisa kaya lebih cepat kenapa mesti diperlambat’’,’’kalau ada jalan hidup enak, kenapa mau bersusah-susah’’,’’kalau sama-sama suka kenapa harus mempertimbangkan agama dan tradisi’’, dan sejenisnya.

Pemurnian Hati

Penyakit hati ini mudah ditemukan sehari-hari, di mana makin banyak hedonis dan pelaksana kapitalisme hingga ke pelosok-pelosok desa / kampung. Tanpa sekat ruang dan waktu, kita nyaris sulit menghindari bencana yang terus terjadi, khususnya terkait nasib dan takdir perempuan.

Di sinilah diperlukan pemurnian kembali (revinasi) agar perempuan tidak mengalami nasib yang makin jauh dari harapan para feminis,  yang antara lain ingin menjadikan perempuan sebagai manusia murni dan utuh (the revined woman—meminjam istilah Anna). Bagaimana caranya?

Anna, pegiat perempuan di Eropa, sudah 20 tahun lebih bergelut dalam dunia perempuan. Ia mendapat pelajaran dari berbagai kasus getir yang dialami perempuan.

Dengan meriset lebih dari 10.000 responden (perempuan berskala global), ia singgah dalam berbagai kalangan dan jenis perempuan. Mulai dari kalangan jetset hingga kaum miskin profan di kampung-kampung kumuh, sejak tahun 1990 hingga 2000.

Anna menemukan simpulan khusus, yang dikemas dalam’’ramuan hidup pemurni hati perempuan’’. Kenapa hati? Karena dari sinilah sebenarnya yang mengendalikan akal dan perilaku perempuan itu sendiri.

Perempuan yang diidentikkan dengan idiom cinta, kasih sayang, hati, perasan, dan olah kalbu, sebenarnya lebih’’berhati’’ daripada mudah tergerus pikiran dan akal jangka pendek.

Namun kuatnya pengaruh kapitalisme menyebabkan perempuan memasuki milenium baru dengan berubah hampir 360 derajat.
Hampir setiap langkah gerak dan pikirannya dipengaruhi kepentingan sesaat, derita jangka pendek, dan tujuan pragmatis.

Kebiasaan yang ditumbuhsuburkan kapitalisme itu lama-lama mengkristal menjadi ideologi baru yang tak jarang menyebabkan banyak perempuan terserang virus penyakit hati itu. Tamak dengan kekayaan, gila harta, ingin berpenampilan sempurna, serta suka jalan pintas.

Dua Obat

Ada dua obat’’pemurni hati’’ yang didiognosis Anna mampu mencegahnya. Pertama, mengangkat kembali keyakinan dan keutamaan nilai-nilai hidup yang dulu menjadi pedoman dan rujukan berperilaku perempuan. Nilai itu bisa berasal dari kultur dan tradisi setempat, agama dan keyakinan, serta ajaran-ajaran ketuhanannya.

Dalam perspektif ini, Anna menyebut pemurnian hati mesti berangkat dari evaluasi total perilaku perempuan yang dirujuk pada ajaran dan keyakinannya serta peneguhan nilai-nilai kultur setempat.

Krisis moral dan aklak perempuan, seperti laporan Majelis Ulama Indonesia (2008), sebagian besar dilatarbelakangi makin minimnya perempuan bergelut dan belajar nilai-nilai agama, keyakinan, dan kultur setempat.

Kebanyakan dari mereka menilai, perempuan sopan dan berpenampilan wajar dianggap sebagai perempuan ndesa dan nggak gaul, sehingga dicibirkan, teralienasi, bahkan dianggap aneh oleh lingkungan perempuan itu sendiri. Perempuan berjilbab, alim, dan salihah dianggap kuno dan tak modern, sehingga berdampak sulit mendapatkan pekerjaan dan sulit bergaul.

Padahal, menurut Anna, itu adalah pandangan sesat yang akan menyengsarakan perempuan itu sendiri. Sejarah di Eropa pada masa kegelapan (abad 16) telah membuktikan itu semua.

Kedua, berhentilah menjadi hedonis, jika memang bukan sosok hedonisme. Memang susah bagi perempuan di zaman serba hip-hop seperti saat ini.
Lihat saja menjamurnya permak tubuh perempuan.

Dalam sekejap perempuan bisa disulap menjadi selebriti, menjadi cantik dan seksi oleh sentuhan teknologi.
Itu semua berakar dari hedonisme, penyakit hati yang merangsek ke dalam sumsum perempuan. Faham ini tumbuh subur saat Eropa menikmati ledakan kemakmuran di awal kapitalisme.

Penampilan perempuan Eropa berubah drastis pada abad ke-20. Sayangnya, perubahan itu tidak untuk pemurnian hati dan identitas perempuan itu sendiri, tetapi berangkat dari keinginan memuaskan laki-laki, bahkan mengabdi kepada’’tuhan kapitalisme’’ itu sendiri.

Untuk alasan tersebut, perempuan kini dituntut dan wajib menjalankan pemurnian hati. Bukan berarti harus kembali ke sumur, dapur, dan kasur, atau menjauhi budaya hip-hop dan pergaulan hedonis.

Tetapi mereka harus mampu menilai dirinya sendiri, merumuskan kembali sikap dan perilakunya, serta pandai-pandai menyiasati lingkungan dengan tetap memegang teguh nilai dan akar budaya serta keyakinan agama yang dimilikinya.

Mestinya, berbagai kasus tragis yang terjadi pada perempuan belakangan ini menjadi pelecut bagi segenap pegiat serta organisasi perempuan untuk merumuskan kembali visi dan agenda pemberdayaan perempuan Indonesia untuk menghadapi derasnya arus globalisasi-kapitalisme kini dan nanti. Selamat berjuang! (Kartika Sari MSi, pegiat perempuan, dosen Fakultas Sains dan Teknik Unsoed Purwokerto-32)
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER