panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
20 Mei 2009
Dicari, Perempuan Adaptif
’’Perempuan yang dapat berkembang normal dan memenangkan persaingan hidup adalah mereka yang adaptif, yakni memiliki akar tradisi yang kuat, tetapi tidak tenggelam di dalamnya, bahkan mampu masuk ke dalam kultur hip-hop’’ (Sindhunata, 17/5/09).

BUDAYAWAN
Sindunata menampilkan sosok perempuan ndesa, Soimah Pancawati (29), dalam pentas seni tingkat dunia di Teater Utan Kayu Jakarta, beberapa waktu lalu. Langkah tersebut menimbulkan pro dan kontra, karena dia justru memilih perempuan tak populer, bahkan di tingkat lokal sekalipun.

Namun Sindunata berhasil mempersembahkannya dan mewakili Indonesia di tingkat global. Karena prestasi tersebut, budayawan Gunawan Mohamad mengamini bahwa apa yang dipilih Sindhunata adalah bagian dari pencarian bakat alami yang cerdas, karena menjatuhkan pilihan kepada sosok perempuan berkarakter dari Kabupaten Pati itu.

Ya, perempuan yang selalu tampil dan ditampilkan pasar kapitalisme selama ini adalah sosok glamor dengan kecantikan fisik aduhai. Tak heran jika modal dasar penampilan fisik menjadi ideologi hampir setiap perempuan masa kini. Tak hanya dialami perempuan kota, perempuan di kampung pun sepertinya sudah lari dari akar tradisinya dengan mengikuti jejak drag kecantikan ala masyarakat sosialita.

Menjadi ’’cantik’’ bagi perempuan adalah suatu keharusan di era globalisasi dewasa ini. Karena seperti kebutuhan dasar masyarakat kapitalisme di Eropa menjelang abad 20, tradisi menciptakan kecantikan itu menjadi modal dasar untuk mencapai semua kesenangan hidup di dunia.

Maka berbagai kontes dan persaingan atas nama kecantikan pun dikumandangkan di berbagai negara dan kalangan masyarakat. Kapitalisme yang mencitrakan segala hal dengan kebendaan seolah berkelindan dengan hasrat setiap perempuan untuk tampil cantik dan seksi.

Tetapi sayang, untuk menuju ke arah itu, banyak perempuan yang akhirnya rela melakukan berbagai hal, bahkan tak jarang merelakan tubuhnya untuk ’’bancakan’’ kaum kapitalis dengan berbagai setting alasan yang mengikutinya.
Hampir tak ditemukan perempuan ideal yang mau dan mampu menampilkan akar budaya lokal yang kuat, disertai dengan peningkatan kompetensi behaviour dan intelektual yang andal. Yang banyak terjadi dan diekspose media justru perempuan ’’wah’’, seperti gambaran kehebatan materialisme dan kapitalisme global itu sendiri.

Diperlukan Bangsa

Sosok Soimah, pesinden dari Pati, itu adalah bagian cerita kecil fenomena gunung es tentang perjuangan wong ndesa yang nyaris tenggelam potensinya, akibat ukuran-ukuran materialisme dalam berbagai bidang kehidupan yang kini menyilaukan karya dan jejak perempuan Indonesia.

Padahal masih banyak cara menuju Roma. Masih terdapat peluang tak terhingga yang disediakan zaman bagi perempuan adaptif untuk bisa berkarya di luar hal-hal terkait kecantikan.

Juliene Deborah dalam buku Enhancing Inner Potentials of Woman (2002) menyebutkan, di era kapitalisme dan meterialisme yang telah ’’mendarahdaging’’ pada segenap perempuan modern, sebenarnya masih lebih diperlukan sosok-sosok perempuan adaptif yang mampu memberi karya dan darmabaktinya bukan sekadar untuk kesenangan diri dan keluarganya, tetapi juga citra dan wibawa bangsa di mata global.

Perempuan Indonesia, dalam era global, hingga kini memang belum menunjukan tajinya, kecuali sekadar bergerak dalam ranah fisik-material. Banyak ajang unjuk kompetensi perempuan Indonesia di mata dunia, tetapi masih bergerak dalam pusaran kapitalisme global, atau untuk keperluan kapitalisme global itu sendiri.

Padahal perempuan Indonesia bisa menunjukkan kompetensinya jauh lebih kreatif daripada yang ada selama ini. Kasus Soimah yang memukau dunia lewat pembacaan puisi beberapa waktu lalu adalah contoh nyata betapa karya seni yang selama ini hampir dilecehkan, ternyata mampu menyuguhkan kecantikan lewat cara lain yang jauh lebih bermartabat.

Dengan kesederhanaan yang berkarakter serta penampilan normal yang tak silau oleh materi yang melekat dalam tubuhnya, Soimah mampu menyulap citra bangsa di hadapan budayawan seluruh dunia.

Semangat Perempuan

Belajar dari kisah Soimah, kita bisa mengambil banyak hikmah, khususnya untuk membangkitkan semangat perempuan Indonesia dalam memberikan karya dan darmabaktinya untuk kemajuan hidup diri, keluarga, dan bangsanya.
Pertama, untuk memulai karya yang bermakna bagi semua itu, perempuan tak harus memiliki modal materi luar biasa, apalagi penampilan fisik semata. Jauh lebih substantif adalah penggalian ide-ide kreatif yang khas, berkarakter, dan memiliki peluang ’’pasar’’ yang baik di masa datang.

Usaha apa pun, apabila ditekuni dengan serius dan terus mencari terobosan-terobosan pasar, sangat membantu perempuan dalam mengembangkan bakat dan potensinya. Karena itu, teruslah dan biasakan untuk tidak malu, takut, atau terasing dengan ide kreatif, sampai benar-benar mereguk hasil kreatifnya. Ini berlaku bagi semua usaha dan bidang kehidupan apa pun.

Kedua, membangun jaringan sekecil apa pun. Tak dimungkiri, era globalisasi dan kapitalisme meniscayakan pembukaan dan jaringan pasar baru yang bisa dijadikan ciri produk kreatif perempuan.

Karena itu, membangun jaringan lewat keaktifan di berbagai momen sosial, ekonomi, bahkan politik bisa menjadi ajang awal untuk mengembangkan jaringan itu. Selanjutnya akan menjadi pasar baru bagi karya kreatifnya. Dalam konteks inilah perempuan adaptif adalah mereka yang akan selalu faham dan tahu selera pasar, tanpa harus tenggelam dalam glamor pasar. Justru sebaliknya, mereka tegak menampilkan karakternya, karena dari situlah pasar yang justru akan meliriknya.

Dua strategi itu, seperti disampakan Deborah, tidak saja akan menjadi penerang dalam kegelapan hidup perempuan di tengah arus globalisasi dan glamor kapitalisme, tetapi juga akan menihilkan perempuan untuk bisa menolak berbagai penyimpangan globalisasi dan kapitalisme (negation of gloablization) yang banyak melecehkan, dan menurunkan martabat perempuan.
Hanya dengan cara demikian, perempuan Indonesia bisa memaknai kebangkitan kaumnya, yang juga akan mencerahkan kebangkitan bangsanya. Perempuan adaptif inilah yang diperlukan untuk melecutkan semangat kaumnya agar menunjukkan kompetensi, eksistensi, sekaligus turut membangun citra bangsa di mata dunia. (Kartika Sari MSi, pegiat perempuan dan staf pengajar di Fakultas Sains dan Teknik Unsoed Purwokerto-32)
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER