DAISY Fajarina, ibunda Manohara Odelia Pinot, masih saja wara-wiri menghiasi layar televisi Indonesia sejak hampir sebulan terakhir. Sepak terjang Daisy untuk menyelamatkan Mano dari keluarga Kerajaan Kelantan yang dituduhnya telah menyekap sang putri menjadi santapan media massa.
Tetapi saat perjuangan panjang itu belum membuahkan hasil, pemberitaan kini justru berbalik menyerang dirinya. Berbagai pemberitaan sangat menyudutkan, mendiskreditkan, dan meragukan motif tuntutan Daisy terhadap keluarga kerajaan sang menantu. ’’Daisy menggali kuburnya sendiri,’’ ujar seorang pembawa acara infotainment.
Daisy Fajarina dinilai telah gagal menjadi ibu. ’’Dia ibu yang enggak bener. Anak usia enam belas atau tujuh belas tahun seharusnya dijaga, dilindungi, bukan dijual,’’ kecam Mama Lauren, saat dimintai tanggapannya. Banyak pula pemberitaan yang menyebut Daisy pernah terlibat kasus pidana dan perdata saat masih tinggal di negara suaminya, Prancis.
Esensi permasalahan itu kini telah bergeser. Media tak lagi menyiarkan perjuangan seorang ibu yang ingin bertemu putrinya, untuk memastikan dia baik-baik saja, malah justru mendiskreditkan dia yang dinilai gagal karena telah mengizinkan putrinya yang masih belia untuk menikah.
Penyesalan Daisy yang merasa keliru telah menyerahkan Mano kepada keluarga Kerajaan Kelantan tak lagi digubris. Media seolah berkata, Daisy adalah ibu yang gagal, dan wajar apabila dia mendapat hukuman ini!
Permasalahan yang dihadapi Daisy mirip dengan yang menimpa Sarah Palin, pendamping John McCain, dalam pemilihan presiden AS, beberapa waktu lalu. Sejak diumumkan sebagai pendamping McCain, nama Sarah seketika melambung.
Banyak orang ingin mengerti latar belakang gubernur perempuan pertama Alaska ini. Sayangnya, porsi pemberitaan tentang Palin lebih banyak berkisar kehidupan rumah tangganya, terutama kehamilan putrinya, dibandingkan informasi mengenai jejak rekam karir politiknya yang cemerlang.
Tak Boleh Gagal
Perempuan memang tak pernah bisa lepas dari citra yang melekat sebagai seorang ibu. Gambaran ibu yang sempurna adalah perempuan yang selalu bisa mengurus keluarga, mendidik anak, serta melayani suami. Bila anak salah pergaulan atau mengalami kesulitan di kemudian hari, ibu yang selalu disalahkan.
Peran perempuan sebagai ibu menuntut dia harus selalu bersikap baik dan penuh kasih sayang, sesuai dengan pencitraan perempuan yang memiliki naluri keibuan.
Sayangnya, sifat yang selalu diasosiasikan dengan perempuan itu justru merupakan bentuk diskriminasi akibat sakralisasi berlebih atas stempel ’’keibuan’’ itu sendiri. Diskriminasi semacam itu kerap terjadi, namun jarang kita sadari karena sudah terlampau umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Ada kesan melebih-lebihkan mengenai asosiasi antara sifat keibuan, dan sebuah keharusan bahwa perempuan harus selalu bersikap baik, tak boleh salah sedikit pun. Saat seorang perempuan melakukan tindak kekerasan, misalnya, ia akan dianggap melanggar kodrat. Kasus itu akan selalu dihubungkan dengan sifat perempuan yang ’’seharusnya’’ lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Dalam hal ini, perempuan yang melakukan kekerasan memang harus menerima konsekuensi atas tindakannya yang melanggar hukum. Namun tak seharusnya ia menerima justifikasi bahwa ia telah melanggar kodratnya sebagai perempuan, sebagai ibu! (Arisna Lestari SW-32) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad