panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
13 Mei 2009
Belajar Kesetiaan dari Ida Laksmiwati
KASUS pembunuhan terhadap Direktur Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasruddin Zulkarnaen, memang membuat kita semua prihatin. Sebab salah seorang tersangkanya adalah Ketua KPK (nonaktif) Antasari Azhar. Antasari bahkan diduga menjadi otak di balik tragedi mematikan tersebut.

Tetapi di balik semua itu, ada sebuah pelajaran yang sangat berharga dan dahsyat dari seorang perempuan bernama Ida Laksmiwati, istri Antasari. Perempuan ini sangat tegar menghadapi cobaan hidup yang menerpa bahtera rumah tangganya.

Ida Laksmiwati, dalam berbagai kesempatan, selalu mengatakan bahwa ia sangat percaya kepada suaminya. Apabila suaminya mengatakan tidak terlibat kasus pembunuhan, maka ia juga percaya. ’’Saya sangat percaya pada Bapak. Meski persoalan ini sangat berat, kita akan tetap bersatu dan tidak akan terpisahkan,’’ katanya, dalam sebuah percakapan dengan salah satu stasiun TV.

Mengapa sikap Ida Laksmiwati dalam menghadapi kasus suaminya, sekaligus cobaan bagi keluarga yang sekian lama dibangunnya, itu patut menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita?

Umumnya, apabila ada seorang suami yang terlibat sebuah kasus, apalagi kasus besar yang menyangkut negara, kebanyakan istri akan goyah. Bahkan, tidak lama kemudian, dia akan meminta cerai dari suaminya.

Rasa malu akan mengalahkan segalanya, karena takut digunjing, atau menjadi bahan pembicaraan tetangga dan teman-teman. Inilah yang kemudian mengalahkan dan melupakan komitmen untuk hidup bersama dalam suka dan duka yang diucapkan sewaktu menikah.

Maka, keikhlasan Ida untuk tetap setia mendampingi Antasari, apa pun yang terjadi, adalah hal yang sangat luar biasa. Tidak banyak perempuan yang bisa menerima kenyataan hidup seperti ini.

Sebagai Cermin

Tidak berlebihan jika sikap hidup Ida Laksmiwati dalam mendampingi Antasari dapat dijadikan cermin bagi para perempuan dan istri-istri di negeri ini.

Ida Laksmiwati barangkali bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, andai dia bukan istri Antasasri. Tetapi siapa yang bisa menebak, bahwa seandainya tidak ada Ida Laksmiwati yang mendampingi, Antasari juga bukan apa-apa dan belum tentu juga meraih sukses.

Intinya saya ingin mengatakan betapa besar peran perempuan dalam menentukan arah hidup dan kesuksesan suaminya. Perempuan tegar seperti Ida Laksmiwati itulah yang tidak melihat cermin retak sebagai sesuatu yang harus dihancurkan, lalu dibuang, melainkan harus diperbaiki sedapat mungkin.

Sikap hidup inilah yang selayaknya menjadi perhatian dan pelajaran bagi para perempuan, tertuama istri, dalam mendampingi suami. Cinta kasih dan hidup bersama suami tidak seharusnya diberikan istri ketika suami bergelimang harta dan punya kedudukan. Ia wajib hadir dan berada di sisi suami ketika ada cobaan dan masalah mengadang.

Janganlah pepatah ’’ada uang abang sayang, tidak ada uang abang ditinggal’’ menjadi kisah nyata dalam kehidupan rumah tangga. Dalam rumah tangga, materi bukanlah segalanya. Tetapi kepercayaan dan cinta kasih itulah yang harus dijaga dan dipertahankan.

Mendapatkan sebuah cinta bukanlah hal yang mudah. Kita tentu ingat bagaimana kisah Qois dalam mengejar cinta Laila yang terhalang dan nasib tak pernah mempertemukannya.

Maka, jagalah cinta itu. Jangan biarkan ’’cermin retak’’ cobaan hidup mengempaskan segalanya. (Eros Rosidi, jurnalis, editor buku, dan Sekjen ISES Indonesia-32) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER