panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Pendidikan
16 Maret 2009
Mengintip Pendidikan di South Gloucestershire (1)
Sangat Berpihak pada Peserta Didik
Kepala SMA Negeri 3 Semarang, Drs Soedjono MSi, belum lama ini studi banding ke South Gloucestershire, kota kecil dua jam perjalanan darat dari London. Sistem pendidikan di kota itu sangat profesional, mengedepankan pendekatan humanistik. Pejabat struktural Dinas Pendidikan (Department for Children and Young People) sangat kompeten di bidangnya. Berikut laporannya secara bersambung.

KONSEP konsep, model, dan strategi pendidikan di South Gloucestershire tak jauh beda Indonesia. Namun di sana seluruh komponen menguasai substansi yang mendasari konsep. Pendidik dan tenaga kependidikan memegang komitmen dan konsisten melaksanakan model dan strategi. Kesamaan terletak pada pendidikan berbasis kompetensi yang memberikan otonomi seluas-luasnya ke institusi pendidikan untuk mengembangkan kurikulum.

Sangat kelihatan benang merah antara kebijakan pemerintah pusat yang dikawal secara profesional oleh dinas dan dikembangkan secara profesional di sekolah-sekolah.

Tiga komponen pendidikan (pemerintah pusat, pemerintah distrik, dan sekolah) berbagi peran mengawal kebijakan. Model yang dikembangkan hampir sama, yaitu pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan formal dibagi jadi pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.

Di sana, demokratisasi pendidikan sangat berpihak pada peserta didik. Tak ada siswa yang tidak berhasil (menyelesaikan kompetensi akademik), meski pencapaian mereka berbeda-beda. Itu menimbulkan konsekuensi, pendidikan menengah menyediakan jurusan sesuai dengan minat dan bakat peserta didik.

Untuk sampai ke pendidikan tinggi ada prapendidikan tinggi dengan persyaratan sangat ketat. Hanya peserta didik dengan kompetensi akademik memadai yang diterima. Peserta didik yang tak memenuhi syarat disalurkan ke community college yang menyiapkan mereka terampil bekerja.

Di negeri kita, model itu baru sebatas berupa undang-undang (UU). Amanat UU, sekolah kategori mandiri wajib melaksanakan sistem kredit semester (SKS). SKS itulah yang mengakomodasi perbedaan kompetensi, minat, dan bakat peserta didik.
Pembagian Peran

Strategi pun hampir sama. Sekolah dengan manajemen berbasis sekolah diberi otonomi seluas-luasnya untuk merencanakan, mengembangkan, dan mengevaluasi kinerja untuk mencapai visi. Perbedaan ada pada pembagian peran dari komponen pendidikan dan kualitas pengelola sekolah. Di sana, pembagian peran sangat jelas antara pemerintah pusat, pemerintah distrik, dan sekolah.

Pemerintah pusat hanya menyiapkan standar dan penjaminan mutu, pemerintah distrik membina dan menentukan indikator keberhasilan sekolah sebagai alat evaluasi pencapaian kinerja. Sekolah sangat otonom merencanakan, mengembangkan, dan mengevaluasi internal pencapaian kinerja yang ditetapkan dan eksternal dari pemerintah distrik.

Berlaku leadership of learning, yakni penciptaan lingkungan sekolah sehingga semua komponen dapat jadi pemimpin bagi diri sendiri dan untuk komunitas. Artinya, kepala sekolah dapat memimpin diri sendiri dan seluruh komponen sekolah. Guru dapat memimpin dan jadi agen pembaruan untuk dirinya dan pembelajarannya.

Tenaga kependidikan selain dapat memimpin diri sendiri dan mendukung perubahan juga dapat memimpin sesama tenaga kependidikan. Siswa dapat memimpin diri sendiri dan siswa lain, juga dapat memimpin pembelajaran.

Sekolah adalah lingkup paling kecil dalam pendidikan. Efektivitas pengelolaan sekolah jadi kunci keberhasilan pendidikan. Perubahan kecil peningkatan kualitas di sekolah berakibat besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan umumnya.

Di sekolah, peran kepala sekolah sangat besar untuk mencapai leadership of learning. Karena itu, mulai perekrutan, peningkatan sumber daya manusia, dan pemantauan kinerja kepala sekolah jadi perhatian dinas pendidikan distrik.
Itu tak berbeda dari sistem kita, tetapi penerapannya di Gloucestershire begitu efektif dan dapat dilihat hasilnya di sekolah. Profesionalitas dan komitmen tinggi selalu menjadi nilai yang dikembangkan dalam semua jajaran.

Dalam perekrutn, diutamakan kepala sekolah yang memiliki kompetensi akademik, keahlian, dan attitude yang memadai. Artinya, hanya guru yang baik yang jadi kepala sekolah. Sistem karier dikembangkan secara pasti dari perekrutan guru.

Rata-rata pengetahuan manajemen kepala sekolah di Gloucestershire tak sampai tingkat lanjut. Namun visi, misi, dan nilai inti benar-benar terimplementasi di sekolah dan sekaligus jadi budaya sekolah.(53)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER