panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
20 Februari 2009
Banjir Bengawan Solo
  • Oleh Transtoto Handadhari
 Kebiasaan kita yang hanya sibuk saat banjir tiba dan hanya menunggu kemunculannya saat  mendatang untuk melakukan pencegahan mengakibatkan riwayat banjir Bengawan Solo tidak  bisa  diakhiri.

Bengawan Solo, riwayatmu ini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh

SANGAT menarik syair lagu yang digubah oleh Gesang itu. Pernyataan syairnya menyadarkan kita betapa sejak dulu sudah terjadi ketidakseimbangan lingkungan daerah aliran sungai (DAS) Solo. Perbedaan debit air yang besar pada musim hujan dan kemarau menunjukkan terjadi over run-off aliran air dan banjir bandang.

Sejarah banjir Bengawan Solo memang sudah terjadi sejak lama. Banjir besar 1966 memunculkan proyek penanggulangan banjir Solo dan proyek nasional Inpres Penghijauan dan Reboisasi mulai 1976 dan kini Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) mulai 2003. Namun ternyata banjir aliran sungai Solo ini tidak pernah berakhir. Pada 2008 kedahsyatan bencana alam itu menunjukkan kembali ulahnya. Diulangi lagi beberapa hari lalu pada 2009 ini.

Bengawan Solo, kita tahu, berperan sangat penting menyangga fungsi lingkungan di 19 kabupaten/kota, dan melintasi dua provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Dugaan penyebab banjir selalu awalnya diarahkan pada kondisi hutan (negara) yang dikuasai Perum Perhutani dan Departemen Kehutanan. Luas hutan dicurigai menurun dan dianggap berperan besar atas bencana banjir Solo tersebut?

Angka hasil penelitian Firman Fahada (UGM, 2004) ternyata justru menunjukkan ada peningkatan luas lahan berhutan sebesar 36% pada periode 1970 sampai 2003, terutama di lahan masyarakat. Laju peningkatan luas hutan sekitar 4.000-5.000 hektar per tahun, termasuk melalui upaya Perum Perhutani dan proyek Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) Departemen Kehutanan.

Namun ternyata erosi tanah justru menunjukkan peningkatan pula. Laju erosi yang terjadi pada DAS Bengawan Solo juga cenderung meningkat. Pada 1970-an laju erosi 1,8 mm/tahun meningkat menjadi 2,8 mm/tahun pada 1984.
 Tingkat sedimentasi pada kurun waktu itu juga mencapai 36,8 juta ton di wilayah hilir Sungai Bengawan Solo, sedangkan di bagian hulu sebesar 29,5 juta ton/tahun, serta 14,3 juta ton/tahun di wilayah Madiun. Di seluruh wilayah DAS Bengawan Solo rata-rata tingkat sedimentasi 2.340 ton/kilometer persegi, atau hampir dua kali lipat angka ambang batas erosi yang diperkenankan.

Ekstrem

Fluktuasi debit air sungai juga terjadi secara ekstrem saat musim penghujan dan musim kering. Nilai koefisien run-off meningkat dari 0,34-0,56 pada 1970, menjadi 0,49 sampai dengan 0,66 pada 2003. Ini menunjukkan wilayah Solo Hilir memiliki nilai koefisien tertinggi. Akibatnya terjadi penurunan tinggi muka air tanah per tahun sebesar 0,01-0,5 meter di wilayah Solo Hulu, sedangkan di wilayah Solo Hilir penurunan mencapai 0,28-0,98 meter, wilayah Madiun 0,2-0,5 meter, serta di wilayah Lamongan 0,1-0,3 meter.

DAS Solo Hulu juga merupakan wilayah yang mengalami penurunan muka air tanah paling tinggi.
Data lain menunjukkan permukiman dan pengembangan kawasan perkotaan sepanjang tahun meningkat dengan laju 4.169 hektar per tahun dan pada 2003 saja telah bertambah 155,1% dari luas awal pada 1970.

Angka ini berkorelasi dengan penurunan luas sawah sebesar 0,6% pada periode 1970-2003. Luas sawah tersebut sebenarnya meningkat antara 1970-1989 sebesar 4.973 hektar per tahun, namun antara tahun 1989-1997 berkurang 1.684 hektar per tahun dan 1997-2003 14.578 hektar per tahun.

Banjir besar sepanjang Bengawan Solo pada 2008 terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi di atas normal pada dua hari pertama dengan durasi 15 jam per hari. Juga ada faktor Waduk Gadjahmungkur jebol. Kondisi penyebab pada 2009 hampir sama, karena keduanya tidak didukung oleh struktur penguasaan lahan. Selain itu kondisi penutupannya, di samping struktur tegakan hutan muda di wilayah DAS Bengawan Solo dari hulu sampai hilir, yang tidak mampu mengendalikan air limpas.

Peningkatan permukiman di bantaran sungai, pengembangan kawasan perkotaan sejak 1970-an, pertanian tegalan masyarakat yang umumnya tetap berupa lahan tanaman singkong, keminiman luas hutan yang hanya 20% dari luas wilayah serta peran hidro-orologis hutan tanaman yang tidak dapat berfungsi dengan baik karena dominasi hutan monokultur satu tajuk telah mendorong terganggunya fungsi ekosistem lahan. 

Pemerintah dan pemangku lahan harus berani mengambil langkah redesain penataan penggunaan ruang lahan dan hutan, maupun penataan struktur tegakan hutan yang well-environmental. Tekanan penduduk yang lapar lahan sebaiknya tetap diimbangi dengan upaya pelestarian fungsi konservasi tanah dan lingkungan.  Dan, perencanaan konservasi lingkungan juga selayaknya mendasarkan di peta posisi lahan penyebab bencana (LPM) Jawa-Madura yang ada, termasuk sistem evaluasi dan monitoring-nya.

Kebiasaan kita yang hanya sibuk saat banjir tiba dan hanya menunggu kemunculan  banjir mendatang untuk melakukan pencegahan mengakibatkan riwayat banjir Bengawan Solo tidak akan pernah bisa kita akhiri. Bengawan Solo senantiasa akan menjadi objek proyek yang tiada habis dan menyajikan penderitaan berkepanjangan. Adakah calon legislatif yang sedang berkampanye di Jawa Tengah untuk Pemilu 9 April 2009 memperhatikan solusi masalah banjir Bengawan Solo ini? (35)
 
–– Dr Transtoto Handadhari, pengamat ekonomi dan ekosistem lingkungan, tinggal di Yogyakarta

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER