panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
07 Januari 2009
Membumikan Kebaharian Kota Tegal
  • Oleh Sumarno
TEGAL disebut Kota Bahari. Sebutan tersebut dapat dilihat antara lain dari tiga dimensi, yaitu sebagai slogan, kondisi nyata, dan segi historis. Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bahari berarti indah, elok sekali; mengenai laut; dahulu kala, kuno, tua sekali, dan bertuah.

Sebagai slogan, bahari identik dengan Kota Tegal berkait dengan gerakan kebersihan, ketertiban, keamanan, dan keindahan kota. Gerakan tersebut mulai dicanangkan pada masa Wali Kota M Zakir akhir 1980-an. Bahari lebih dikenal sebagai akronim dari bersih, aman, hijau, asri, rapi, dan indah. Slogan dalam bentuk akronim juga dimiliki berbagai kota di Indonesia.

Gerakan dengan slogan Tegal Kota Bahari tergolong sukses. Indikator yang bisa dilihat adalah Tegal pernah meraih piala adipura, lambang supremasi kota terbersih yang diberikan pemerintah pusat. Indikator lain adalah slogan tersebut populer dan melekat di hati masyarakat Kota Tegal.

Kebanggaan akan slogan bahari, oleh sebagian masyarakat Tegal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) digunakan sebagai nama warung tegal (warteg). Lengkap dengan warna biru yang merupakan ciri khas gerakan kebersihan dan keindahan kota.

Sumber Penghidupan

Secara nyata, kondisi Kota Tegal merupakan salah satu kota yang berada di pesisir utara Pulau Jawa. Laut merupakan salah satu potensi yang menjadi sumber penghidupan bagi sebagian warganya. Pelabuhan sebagai pintu gerbang bagi sirkulasi barang antarpulau mampu menggerakan roda perekonomian. Begitu pula kekayaan alam dari laut berupa ikan dan hasil tangkapan lainnya mejadikan masyarakat Tegal bermata pencaharian sebagai nelayan.

Kondisi nyata dari Tegal kota bahari juga tercermin pada kultur masyarakatnya. Masyarakat dengan kultur pesisir relatif lebih terbuka dan dinamis. Terbuka artinya mudah menerima budaya lain, tidak feodalistik serta tak fanatik kedaerahan yang berlebihan. Keterbukaan itu yang justru membawa dinamika di segala aspek kehidupan.

Secara historis, Tegal tercatat sebagai kota berdirinya Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Pada 15 November 1945 di Tegal terbentuk Korps Marinir TNI AL yang kemudian tanggal tersebut dijadikan hari lahir Korps Marinir. Tegal juga menjadi kota awal berdirinya Sekolah Angkatan Laut (SAL). Selain itu, beberapa nama yang pernah menjabat Wali Kota Tegal berlatar belakang TNI AL.

Monumen Bahari

Diresmikannya Monumen Bahari di kawasan Pantai Alam Indah (PAI) Tegal oleh Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno (Kompas, 22/12/2008) bisa dikata napak tilas sejarah sekaligus membangkitkan kembali semangat jiwa bahari masyarakat Tegal.

Maka, bahari bukan hanya sebatas slogan, melainkan secara substantif juga berkait dengan pola kehidupan mencakup aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Ketika slogan kebersihan dan keindahan kota-kota lain telah pudar tanpa makna, justru kini Tegal Bahari teraktualisasikan kembali dengan makna lebih komprehensif. Makna yang digali dari potensi yang dimilikinya, yang berdampak kepada peningkatan taraf hidup masyarakat.

Dibangunnya Monumen Bahari bukan hanya untuk menarik wisatawan dan berorientasi kepada materi semata (profit oriented). Objek wisata (OW) PAI dapat menjadi wahana pembelajaran dan penanaman nilai-nilai kebaharian, terutama bagi generasi muda. Dengan demikian Tegal sebagai kota bahari betul-betul membumi.

Patut diapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal. Tatkala daerah lain mengeksploitasi alam untuk pembangunan OW dengan kemegahan sarana dan prasarana, dengan menggaet investor dan jumlah investasi lumayan besar hanya untuk tujuan fragmatis, mengejar pendapatan asli daerah (PAD), Pemkot Tegal justru membangun OW yang tidak tercerabut dari akar budayanya, potensi alam, serta nilai-nilai edukatif.

Kawasan Terpadu

Kawasan OW PAI identik dengan bahari, bukan saja lantaran berlokasi di pantai. Dukungan lingkungan sekitar pun sangat menunjang nuansa bahari. Di PAI terdapat dermaga pelabuhan; dengan kapal keluar-masuk berlabuh, menjadi pemandangan tersendiri. Selain itu, juga terdapat galangan kapal dan pergudangan tempat bongkar muat barang dari kapal. Tak jauh dari tempat itu ada pangkalan TNI AL dan tempat pelelangan ikan (TPI).

Di sektor pendidikan, di jalan menuju koplek PAI berdiri sekolah menengah kejuruan (SMK) jurusan pelayaran. Satu lagi, SMK negeri di bidang perikanan, yaitu sekolah usaha perikanan menengah (SUPM). Dengan demikian kawasan PAI dan sekitarnya dapat dikatakan sebagai sentral kota bahari di Tegal. Bahari secara kultur, praksis, dan keilmuan.

Lingkungan PAI dan sekitarnya sebenarnya masih berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan “bahari terpadu”. Kawasan bahari terpadu menyangkut zona kegiatan perekonomian, pusat pendidikan, dan kawasan wisata. Kesemuanya bersifat kebaharian dengan masyarakat berkultur bahari pula. Masih bisa disempurnakan lagi dengan pusat kuliner bahari.

Dengan demikian, Tegal memiliki potensi bahari yang tak tertandingi oleh OW bahari di daerah lain. Sebab, dari Brebes hingga Pemalang setidaknya terdapat beberapa OW bahari. Di antaranya OW Pantai Randu Sanga di Brebes, Purwahamba Indah (Purin) milik Kabupaten Tegal, Pantai Widuri di Pemalang, dan PAI sendiri yang paling tua.

Masing-masing daerah sedang giat-giatnya mengembangkan OW tersebut. Jika kawasan PAI di bangun sebagai kawasan bahari terpadu, tentu akan memilki nilai dan daya tarik tersendiri.(68)

– Sumarno, warga Tegal tinggal di Tangerang, Banten, peminat masalah sosial, dan aktif di Koalisi Pendidikan. 

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER