Subcribe RSS RSS SUARAMERDEKA.COM
 


 

Wacana

03 Januari 2009

Selamat Datang Trans Semarang

  • Oleh Destri Luhsita Dewi
SEBENTAR lagi masyarakat Kota Semarang dapat menikmati sarana transportasi massal perkotaan yang sementara ini diberi nama Bus Rapid Transit (BRT) karena pengerjaan sarana transportasi massal tersebut sudah mencapai tujuh puluh lima persen (Suara Merdeka, Rabu 17 Desember 2008).

Bus itu berkapasitas penumpang 83 orang; 33 di antaranya penumpang duduk dan sisanya berdiri. Kalau dilihat sepintas, fisik bus tidak jauh berbeda dari Bus Trans Jakarta atau Bus Trans Yogya yang lantainya lebih tinggi dari bus kota pada umumnya, serta wajib menaikkan dan menurunkan penumpang pada halte atau tempat pemberhentian yang telah disediakan atau ditentukan. Mungkin, yang membedakan adalah warna bus tersebut saja.

Rencana kehadiran bus tersebut, hingga sekarang belum terlalu menarik perhatian masyarakat Kota Semarang, terutama para pengemudi angkutan kota (angkot) yang ada.

Ada beberapa hal yang menarik dari rencana pengoperasian bus tersebut; antara lain, setiap bus wajib berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang pada halte tertentu. Itu berarti penumpang juga wajib naik atau turun pada tempat-tempat tertentu saja, yaitu di halte wajib yang telah disediakan oleh pengelola.

Dengan demikian, akan terjadi fase pembiasaan bagi para penumpang atau calon penumpang untuk menunggu bus pada tempat yang telah disediakan, bukan seperti yang terlihat sekarang, yakni para penumpang menunggu dan bahkan minta diturunkan di tempat-tempat berbahaya sekalipun, seperti di tikungan perempatan dan pada tempat yang ada rambu-rambu larangan berhenti bagi kendaraan bermotor, yang tidak jarang menimbulkan kemacetan lalu lintas bahkan kejadian yang fatal seperti kecelakaan saat turun atau mau naik angkutan umum.

Selain itu, tentu akan memberikan pilihan lebih bagi calon penumpang untuk memilih sarana angkutan massal yang tentunya diharapkan lebih baik, nyaman, dan aman, serta lebih menguntungkan. Yang lebih menggembirakan lagi adalah terbukanya lapangan pekerjaan baru untuk pengoperasian bus tersebut, baik sebagai kru maupun penjaga halte.

Tidak Semrawut

Di samping hal tersebut, dengan kehadiran BRT tentu akan menambah keramaian lalu lintas di dalam Kota Metropolitan Semarang. Tentu diharapkan tidak membuat lalu lintas Kota ALTAS tercinta itu semakin semrawut.Hanya saja, soal nama BRT mungkin perlu ditinjau ulang atau jika perlu diluruskan secara arti kata (semantik). Sebab, rapid transit itu sendiri berarti “sistem pengangkutan penumpang atau orang di kota-kota besar dengan menggunakan kereta listrik cepat, (Salim MS dalam Ninth Collegiate English-Indonesia Dictionary Edisi Pertama, Januari 2000, hlm 1210).

Dengan memperhatikan kamusnya Salim itu, maka kata rapid transit jika ditambah lema bus di depannya akan menjadi kurang pas. Mengacu kepada persoalan makna itu, kiranya akan lebih berterima (gramatikal) kalau mengadopsi saja nama yang sudah ada dan telah dikenal, seperti Trans Jakarta atau Trans Yogya. Dengan demikian, bus yang segera diluncurkan itu diberi saja nama Trans Semarang.

Selain itu, koneksitas antarjurusan atau rutenya agar dipersiapkan lebih cepat. Dengan demikian, Trans Semarang akan dapat membantu para pengguna jasa angkutan di Kota Sermarang. Tentang tarif, tentu akan terasa lebih ringan (murah) jika diterapkan sistem koneksitas antarjurusan atau rute. Sebagai contoh, calon penumpang dari Simpanglima menuju Jatingaleh cukup membayar sekali karena dapat pindah bus asal tidak keluar dari halte dan seterusnya. Tetapi akan tidak ada bedanya kalau bus hanya melayani jurusan per jurusan.

Selain itu, karena Trans Jakarta sudah melalui studi yang cukup panjang dan dapat dipertanggungjawabkan, maka tidak ada salahnya kalau pengelola Trans Semarang mau mempergunakan hasil studi tersebut, atau dengan kata lain mengadopsi mulai dari planning, budgeting, marketing dan controlling, yang kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi jalan maupun tingkat kehidupan masyarakat Kota Semarang dalam pengoperasiannya.

Apa pun situasinya sekarang, marilah kita —warga Ibu Kota Jateng— berharap dan berdoa agar fasilitas transportasi itu kelak memberi manfaat sebesar-besarnya. Selamat datang bus baru, Trans Semarang, bukan BRT yang secara maknawi tidak benar itu.(68)

– Destri Luhsita Dewi, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share


© 2009 SUARAMERDEKA.com. All rights reserved.