SIDOMUKTI - Tahun ini Kota Salatiga melalui Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat (Disnakertrans & Permas) memberangkatkan 10 keluarga bertransmigrasi ke luar Jawa. Jumlah yang berangkat tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu yang hanya empat keluarga.
Kepala Disnakertrans & Permas Drs Amien Singgih mengatakan, program transmigrasi sebenarnya diminati oleh warga Kota Salatiga. Namun mereka terkendala oleh terbatasnya alokasi yang diberikan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi pusat.
”Tahun ini kita memang hanya mendapat alokasi 10 keluarga. Padahal peminatnya banyak. Lima keluarga dengan tujuan ke Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, dan lima keluarga ke Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu,” kata Amien didampingi Kabid Penempatan dan Transmigrasi Sahlan Rosidi SH, kemarin (19/12).
Dijelaskan, dari lima keluarga yang berangkat ke Masohi, dua keluarga berasal dari Kelurahan Kutowinangun, Kecamatan Tingkir, dua keluarga berasal dari Kelurahan Kecandran, Kecamatan Sidomukti, dan satu keluarga dari Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo.
Yang berangkat ke Bengkulu, tiga keluarga berasal dari Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo dan masing-masing satu keluarga dari Kelurahan Tingkir Lor dan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir.
Diungkapkan, karena wilayahnya kecil dan penduduknya sedikit, alokasi yang diberikan untuk Salatiga tidak sebanyak daerah lain seperti Kabupaten Semarang atau Kabupaten Boyolali. Peminatnya juga cukup banyak, sehingga pihaknya harus menyeleksi dengan sungguh-sungguh mereka yang memang berminat.
”Transmigrasi memang bisa dijadikan sebagai salah satu usaha untuk memperbaiki taraf hidup,” tegas Amien.
Sahlan Rosidi menambahkan, transmigran ke Masohi sudah berangkat awal Desember lalu ke daerah Sari Putih, Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, sedangkan yang ke Bengkulu sudah berangkat Minggu (14/12) lalu.
Disnakertrans & Permas, tandasnya, telah melihat langsung lokasi transmigrasi yang ada di Pulau Seram dan di Muko-Muko, dan ternyata lokasinya sudah bagus, sarana dan prasarana sudah tersedia.
”Di sana sudah ada jalan raya, jaringan listrik, dan air bersih. Para transmigran juga mendapat jatah rumah, tanah, dan jatah hidup dari pemerintah,” tandasnya.
Dikemukakan, soal lokasi penempatan, pihak daerah tidak bisa memilih, karena hal itu menjadi kebijakan Depnakertrans pusat.
Pada tahun 2008, dari 10 alokasi yang ada, karena adanya kendala teknis dari pusat, Kota Salatiga hanya bisa memberangkatkan empat keluarga ke Jabung, Kalimantan Barat.
Mereka berasal dari Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo dua keluarga dan Kelurahan Kutowinangun, Kelurahan Tingkir serta Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo masing-masing satu keluarga. (H53-71)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad