panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
25 Oktober 2008
Setelah (2 Kali) Sumpah Pemuda
Teks Sumpah Pemuda telah diganti. Kejadiannya sepuluh tahun silam saat tuntutan reformasi berkumandang. Kala itu para mahasiswa mendeklarasikan “Sumpah Pemuda Versi Baru”.

Beginilah bunyinya: Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. Kami Mahasiswa, Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Kami Mahasiswa Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa kebenaran.

Sumpah tersebut bukan sekadar plesetan dari teks Sumpah Pemuda asli yang diikrarkan para pemuda pada 28 Oktober 2008. Apalagi sekadar parodi mirip lagu-lagu Project Pop yang memang gandrung plesetan.

Demikianlah pendapat Melia, mahasiswi Teknologi Pangan Unika Soegijapranata Semarang. Menurut penyandang predikat Mahasiswa of the Year 2008 itu, Sumpah Pemuda ”Edisi kedua” memiliki spirit yang sama dengan teks asli yang dikumandangkan 80 tahun silam.

‘’Justru, para pemuda dan mahasiswa zaman sekarang berusaha mencari tafsir baru dari spirit kesatuan agar lebih sesuai dengan kondisi kekinian,’’ tandasnya.

Di mata Melia, ada kecenderungan bangsa ini bersikap ”verbalis” terhadap konsep kesatuan. Dampaknya, Sumpah Pemuda pun dimaknai secara stagnan dan beku. Masyarakat cenderung menolak pemahaman, tafsir, dan ide baru.

Lantas, perlukah Sumpah Pemuda ditafsir ulang?
”Sekarang, bangsa ini masih terancam perpecahan. Zaman dahulu, perpecahan timbul karena egoisme kesukuan dan kedaerahan. Kini, beda partai politik bisa menimbulkan konflik panjang,” ujarnya.

Lantas? ”Justru itu, perlu ada pemahaman baru. Perlu dipetakan, sebenarnya, variabel-variabel apa yang bisa berpotensi memicu perpecahan,” ujarnya.

Dia menilai, suku dan kedaerahan tak lagi menjadi ancaman bagi kesatuan. Tak ada lagi konflik kesukuan, kecuali sebagian kecil di beberapa daerah.

Namun dia menilai, ada potensi baru yang menjadi sumber perpecahan, yakni politik. Banyaknya jumlah partai politik, konflik antarpartai bahkan saling jegal sesama kader partai menjadi pertanda, negeri ini mulai kehilangan spirit persatuan. Bahkan, di berbagai daerah timbul konflik gara-gara pemilihan kepala daerah.

Dia berharap, panasnya suhu politik menjelang pemilu 2009 bisa diredam dengan spirit Sumpah Pemuda. ”Hilangkan ego pribadi, ego partai, maupun ego kelompok.

Jangan sampai gara-gara politik dan perebutan kekuasaan, bangsa ini terjerumus dalam jurang perpecahan,” harapnya.
Lain halnya dengan Vikra Titan.

Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Unissula ini menyatakan, di tengah globalisasi bangsa Indonesia mengalami tantangan dalam yang berbeda dengan delapan puluh tahun silam.

Kini, di tengah derasnya arus informasi, batas-batas negara telah mencair. Dari sisi geografis, setiap negara memiliki batas wilayah.

Namun batas itu bersifat ”semu”, karena sedemikian mudah ”ditembus” melalui teknologi. ”Internet, misalnya bisa dimanfaatkan industri pornografi untuk menembus pasar lintas negara bahkan lintas benua.

Juga digunakan pula untuk menyebarkan ideologi-ideologi baru,” ujarnya.
Hal itu membawa tantangan baru, berupa masalah sosial yang sedikit banyak melibatkan generasi muda, seperti Narkoba, minuman keras, atau HIV/ AIDS.

Masalah tersebut bisa mengakibatkan menurunnya kemandirian, kreativitas, serta produktivitas pemuda. Dampaknya, generasi muda kurang mampu berpartisipasi dalam pembangunan.

Untuk itu, generasi muda mesti terlibat untuk menguasai sektor teknologi informasi. ”Bangsa ini harus menguasai teknologi, karena teknologi merupakan alat pemersatu bangsa,” ujar ketua Tim Robotik Unissula ini.

Lantas, bagaimana cara mentranformasikan spirit Sumpah Pemuda ”versi baru” kepada kaum muda? ”Melalui jalur pendidikan,” demikian tegas Umi Fadhilah, mahasiswa IKIP PGRI Semarang.

Calon guru ini berpendapat, pendidikan merupakan wahana yang tepat untuk menyemaikan benih persatuan bangsa. Namun, mahasiswi berjilbab ini memberi syarat: pendidikan juga harus melakukan transformasi. Jangan sampai dunia pendidikan terjebak ”neophobia” atau  stagnasi pemikiran. ”Jangan memahami sumpah pemuda Semangat dengan masa lalu yang menyebabkan kesenjangan dengan kebutuhan kekinian,” ujarnya.

Kongkretnya?

”Kembali kepada teks Sumpah Mahasiswa itu tadi, pendidikan mengajarkan semangat  keadilan, antipenindasan, dan kebenaran,” ujarnya. (Panji Satrio-80) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER